
Adhi menggerakkan tubuhnya yang kaku dan terjatuh keras ke lantai. Dia mengerang kesakitan lalu ada seseorang yang datang mendekatinya.
"Bos"
Adhi hampir tidak bisa membuka mata tapi memaksanya untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Kau ..."
"Maaf Bos. Saya baru datang tadi siang. Saya juga minta maaf pergi tanpa ijin"
"Terserah"
"Tapi Bos, Ambar tidak menikah"
Mata Adhi kini terbuka lebar. Dia masih duduk di atas lantai tapi perlahan mendapatkan kesadarannya yang sejak kemarin menghilang. Ambar tidak menikah/ Tunggu, wanita itu benar-benar tidak menikah? Kenapa? Adhi masih sibuk dengan pikirannya dan Kenzo kembali menjelaskan.
"Ternyata temannya yang menikah dan Ambar hanya ada disana untuk membantu. Saya pikir ... Bos harus tahu itu"
Wanita itu ternyata tidak menikah. Tidak.
"Hahahaha" tawa Adhi lemah.
Dia bahagia. Tapi ... apa yang dilakukannya semalam mengurangi kebahagiaan itu sampai setengahnya.
"Jadi ... Bos tidak perlu bertingkah sampai seperti ini"
"Kau terlalu banyak bicara. Diamlah!"
"Jadi Bos ingin semuanya berakhir seperti ini?"
"Apa maksudmu?"
"Saya menyukai Ambar. Sangat menyukainya. Tapi ... Ambar sudah mengatakan kalau dia menyukai laki-laki lain"
"Kau pikir aku tidak tahu?"
"Jadi Bos"
"Wanita itu memilih agamanya lebih dari diriku"
__ADS_1
Kini giliran Kenzo, anak buahnya yang bodoh itu tertawa.
"Hahahaha. Ambar. Tentu saja Ambar akan melakukan itu. Lalu Bos menyerah dan menikahi Feli meskipun tidak mencintainya lagi?"
"Lalu apa yang harus kulakukan? Wanita itu menolak aku pindah ke agamanya. Juga tidak mau bersamaku yang seperti ini"
Adhi tidak mengerti dengan jalan pikiran anak buah bodohnya. Dia bahkan tidak bisa menjelaskan betapa tersiksa dirinya karena merindukan wanita itu.
"Kalau Anda benar-benar mencintainya, pasti akan ada jalan. Dan saya akan senang kalau Anda cepat menemukannya. Ambar harus bahagia, meskipun itu artinya tidak dengan saya" kata Kenzo lalu keluar dari ruangannya.
Pasti ada jalan. Jalan yang bagaimana? Apa dia bercerai saja dengan Feli? Lalu bagaimana dengan istri yang baru dinikahinya? Apa dia akan menyakiti Feli demi bahagia dengan wanita yang dicintainya? Dan sebuah tamparan seakan mendarat di pipinya. Mungkin memang Kenzo benar. Dia tidak terlalu mencintai Ambar. Karena Adhi tidak sanggup melepas Feli yang sudah begitu lama menyukai dan melawan semua orang untuknya.
"Bodoh"
Adhi mulai sadar. Sumber dari semua penderitaan yang dirasakannya bukanlah wanita itu. Tapi keputusannya sendiri.
Seandainya dia berani membatalkan pernikahan dan mengejar cintanya, semua tidak akan berakhir seperti ini. Apakah dia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Pasti ada. Sekarang dia harus membenahi perusahaan orang tua Feli dengan cepat. Juga mengatakan yang sebanrnya pada istrinya itu. Mengatakan kalau dia tidak lagi mencintainya seperti dulu. karena dia telah mencintai wanita lain. Wanita yang ingin diperjuangkannya, apapun halangannya.
'Ambar, tunggulah. Aku akan datang dan menjadikanmu milikku' janji Adhi lalu mulai menyadarkan dirinya dari mabuk. Dia hrus bekerja dengan cepat atau semuanya bisa terlambat.
Sebulan berlalu sejak malam romantis yang dilalui oleh Feli dan suaminya. Sejak hari itu, suaminya kembali pada kebiasaannya, tapi tidak menyurutkan keinginan Feli untuk berusaha membuat malam romantis kedua. Setiap hari dia merias dirinya dengan baik dan memakai gaun tipis. Dan hasilnya ... tidak ada. Bahkan melirik-pun, Adhi tidak melakukannya. Suaminya itu begitu dingin. berangkat kerja tanpa menyapanya dan pulang larut malam dan segera tidur. Feli pernah ingin menyelinap ke kamar suaminya tapi ternyata tidak bisa. Alasannya adalah pintunya terkunci. Dan yang bisa melakukan itu hanyalah Adhi yang ada di dalamnya. Kini Feli bingung. Dia tidak mengerti kenapa laki-laki yang dulu mencintai dan begitu memujanya berubah seperti ini.
"Ibu"
"Memang benar. Coba lihat tingkahnya. Dia sudah tidak mencintaimu"
"Adhi tidak makan pernah melakukan itu. Dia tidak memiliki wanita lain"
"Lalu kenapa kau tidak pergi ke perusahaan dan memeriksa. Bisa saja wanita itu ada disana dan emmeberikan servis pada suamimu"
"Ibu"
Tiba-tiba Feli merasa mual, membayangkan kalau itu benar terjadi.
"Suruh suamimu mengirim uang hari ini. Ibu ingin pergi ke Jakarta"
"Kenapa ayah dan ibu tidak lama disini?"
"Untuk apa? Suamimu melarang ayahmu untuk datang ke perusahaan. Ibu juga tidak boleh ikut campur dalam masalah perusahaan. Semuanya dia yang ambil keputusan. Dan semua itu dilakukannya hanya karena kalian menikah. Sekarang kamu di rumah seperti perempuan bodoh. Sedangkan suamimu memiliki wanita lain diluar"
__ADS_1
Feli menjadi semakin mual. Dia pergi ke wastafel dan muntah. Sudah beberapa hari dia merasa tidak baik. Apa semua ini adalah firasat kalau suaminya memang memiliki wanita lain?
Karena perkataan ibunya, akhirnya Feli datang ke perusahaan. Dia yang selama ini tidak pernah melakukan itu akhirnya sampai di depoan ruangan suaminya.
"Anda Nona Feli?" tanya sekertaris ayahnya.
"Iya"
"Apa Anda datang kemari untuk menemui Tuan Adhitama?"
"Iya. Apa dia sibuk?"
"Tuan Adhitama selalu sibuk. Dia mampu memperbaiki semua masalah perusahaan peninggalan ayah Anda. Juga membuat perusahaan ini kembali beroperasi seperti dulu"
Feli merasa bangga pada suaminya. Ternyata Adhi emmang sibuk memperbaiki perusahaan. Dia pasti terlalu banyak berpikir.
"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggunya"
"Kenapa? Tuan Adhitama pasti senang Anda kemari"
"Tidak. Aku tidak ingin mengganggunya" kata Feli lalu berjalan ke arah pintu keluar. Tapi ... belum sampai keluar dari perusahaan, tubuhnya terasa lemah sekali. Tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Terdengar suara sekertaris yang tadi melihatnya pergi lalu beberapa langkah berat menuju ke arahnya. Itu pasti suaminya. Pasti Adhi khawatir padanya, pikir Feli lalu benar-benar pingsan.
Feli membuka matanya perlahan dan melihat sinar lampu putih di atas.
"Ini dimana?" tanyanya lemah.
"Kamu di rumah sakit. Apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya khawatir.
"Tidak apa-apa"
Sekarang Feli bisa melihat binar bahagia di wajah ayah dan ibunya. Kenapa? Padahal dia baru saja pingsan tapi kedua orang tuanya tampak senang.
"Kau harus menjaga dirimu mulai sekarang. Karena kamu tidak membawa dirimu sendiri" tambah ayahnya membuat Feli tidak mengerti.
"Kau hamil sayang. Kau hamil empat minggu"
Feli terkejut. Dia segera merasakan kegembiraaan yang meluap di hatinya. Feli segera melihat suaminya yang berdiri di dekat pintu dan kecewa.
Tidak tampak ada kebahagiaan di wajah Adhi. Suaminya itu malah tampak marah dan kesal. Kenapa? Bukankah ini kabar gembira untuk mereka? Apa kabar ini datang terlalu cepat? Apa Adhi tidak menyukai anak-anak? Tidak mungkin. Feli sangat mengenal suaminya dan laki-laki itu mencintai anak-anak. Lalu, kenapa Adhi tidak senang? Apa memang kata-kata ibunya itu benar? Adhi memiliki wanita lain yang dicintainya? Tidak lagi mencintai Feli dan calon anak mereka? Tiba-tiba Feli tidak senang lagi. Dia tidak ingin anak yang ada dalam kandungannya. Dia tidak mau kalau anak ini akan membuatnya semakin jauh dari Adhi. Dia tidak mau.
__ADS_1