
Merasa sedikit lega setelah mengeluarkan semua derita yang disimpannya, membuat Adhi merasa sedikit lemah. Dia tidak pulang dan menghabiskan waktu seharian di dalam masjid. Tidak ada yang mengusirnya ataupun mempertanyakan arti kehadirannya disitu. Heri yang harus bekerja telah pergi beberapa jam yang lalu dan Adhi tidak merasa kesepian. Kenapa? Kenapa dia merasa tenang hanya dengan duduk di dalam bangunan bernama masjid ini? Matahari hampir terbit saat Adhi memutuskan untuk pulang.
"Anda mau kemana?" tanya seorang wanita dengan penutup kepala yang besar.
"Pulang"
"Anda tidak sholat Subuh dulu?" tanya wanita itu tiba-tiba membuat Adhi bergetar. Dadanya yang sempat tenang tadi perlahan menjadi berdebar.
"Sholat? Aku bukan ... muslim" jawabnya lalu menunduk. Pasti wanita itu menganggapnya aneh karena duduk di masjid seharian.
"Oh maaf. harusnya saya tidak bertanya. Maafkan saya."
Kenapa wanita itu minta maaf padahal dia yang salah? Adhi melihat wanita itu berdiri di barisan dan mulai melakukan gerakan-gerakan yang sama dengan yang lain. Adhi teringat saat melihat Ambar sholat di ruangan rawatnya dulu. Saat itu, dia juga heran dengan semua gerakan yang dibuat wanita itu. Tapi kini ... semua tampak ... akrab.
Adhi masuk ke dalam apartemennya yang bau dan kotor. Sudah lama sekali dia tidak pernah membersihkan rumah ataupun dirinya. Mungkin, sebaiknya dia melakukan itu. Akhirnya Adhi menghabiskan pagi sampai siangnya untuk membersihkan apartemen. Kemudian dia mandi dan melihat dirinya sendiri di depan cermin. Seperti pengemis. Pantas saja tidak ada orang yang mau menyapa atau membantunya mencari mini market saat itu. Adhi mencukur kumis dan jenggonya, memperlihatkan rahangnya yang tajam dan wajah seorang pria lagi. Dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dan teringat pada semua yang ditinggalkan Kenzo di atas meja. Satu persatu dia membaca sertifikat kepemilikan aset dan memutuskan untuk menjual semuanya. Ada tiga klub dan gedung di daerah Chinatown. Dia ingin menjual semuanya.
"Are you sure?" tanya teman yang menerima teleponnya tentang masalah penjualan klub. Temannya itu sudah lama mengincar klubnya.
"Yeah"
"I get the paper done" kata temannya dalam aksen Inggris yang kental.
"Okay"
"But why?"
"I'm tired" jawab Adhi mudah sekali.
__ADS_1
Dia hanya lelah mengurus semuanya. Seumur hidupnya dia berusaha untuk menjadi saingan Danial yang menerima semua dari ayahnya. Tapi kini dia tidak peduli lagi. Dia hanya ingin menjalani hidup sampai nanti meninggal dan berusaha untuk membayar dosa-dosanya.
Dia menutup telepon lalu tampak di matanya sebuah foto seorang wanita. Berapa lama dia menyimpan foto wanita itu untuk layar kuncinya? Tidak tahu. Tapi rasanya lama sekali. Foto itu diambilnya saat Ambar datang bersamanya ke Danau di negeri ini. Meskipun tidak tersenyum, wanita itu tetap cantik di matanya. Lalu dia teringat pada wajah pucat Feli saat meninggal dan merasakan dadanya sakit. Jarinya mulai bergerak di atas layar dan merubah foto layar kuncinya. Ini saat untuknya melepas wanita itu. Dia tidak mungkin bisa mencintai wanita itu lagi. Apalagi, karena masa lalu mereka yang bermasalah. Wanita itu juga pasti sudah melanjutkan hidup di Jakarta. Tanpa pernah memikirkannya.
Setelah menjual semua klub dan gedungnya, Adhi berjalan ke arah masjid. Dia masuk dan menemukan Heri sedang membantu menata buku di salah satu sudut.
"Halo" sapanya pada Heri. Tapi pria itu hanya berdiri dan menatapnya heran.
"Hai. Who???"
Adhi menyapu dagu dengan tangannya. pasti karena ini Heri tidak mengenalinya.
"Aku ... pengemis itu"
"Masya Allah. Wahhh Subhanallah. Hebat. Anda ternyata ... tinggi sekali"
"Saya sedang menata Al-Quran. Apa Anda mau sup?"
Adhi tersenyum dan mengangguk. Tentu saja dia mau. Sup hangat itulah tujuannya kemari.
"Anda tampak sangat berbeda"
"Aku hanya membersihkan diri"
"Itu bagus. Sangat bagus. Anda mulai memaafkan diri sendiri rupanya"
"Memaafkan diri sendiri?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu seburuk apa hidup yang Anda jalani atau alami sebelum ini. Tapi, memaafkan diri sendiri adalah awal yang baik. Semua yang terjadi di dunia adalah takdir yang telah dituliskan oleh Tuhan. Kelahiran, kehidupan dan juga kematian. Jadi, jangan pernah menyalahkan diri atas kematian seseorang. Anda yang dibiarkan hidup berarti diberikan waktu untuk memperbaiki diri. Gunakan waktu hidup Anda sebaik-baiknya"
Hati dan otak Adhi merasa begitu tenang saat mendengar semua kata-kata Heri. Adhi yakin pria di depannya itu belum terlalu tua darinya, tapi memiliki kebijaksanaan yang melampaui umurnya.
"Aku ... akan mencoba"
"Baiklah. Tunggu disini dulu. Saya akan mengambil sup untuk Anda"
"Tapi ... "
"Iya?"
"Sholat. Apa itu?"
Heri melihat ke arahnya llau pergi ke sudut bangunan yang lain. Mengambil beberapa buku dan meletakkannya di tangan Adhi.
"Ini adalah ajaran Islam. Anda bisa mempelajarinya di internet atau buku ini. Tapi ... saya pikir Anda sudah sedikit mengenal tentang muslim"
"Aku ... pernah mengenalnya"
Sebagai agama yang membuatnya terpisah dengan wanita yang dicintainya. Itulah yang dikenal Adhi tentang Islam. Dia sangat membenci muslim dan Islam setelah Ambar menolaknya waktu itu.
"Anda bisa membacanya hanya sekedar untuk tahu. Apa yang terjadi setelahnya itu adalah urusan Anda dengan Tuhan"
Adhi tidak yakin mengerti tentang maksa kata-kata Heri waktu itu. Tapi kini ... dia sudah membaca banyak sekali buku tentang agama yang dianut oleh Ambar itu. Anehnya, semakin dia mencari tahu tentang Islam, maka semakin larut amarahnya. Mungkin karena ini pertama kalinya dia begitu fokus pada hal selain kematian Feli.Tapi ... saat masuk ke masjid lagi untuk bertemu Heri, dia merasakan dorongan kuat untuk mengikuti setiap gerakan sholat. Awalnya dia hanya bisa berdiri di barisan paling belakang dan mengamati apa yang dilakukan orang lain. Dan lama-lama dia menghapalnya dan selalu datang ke masjid setiap waktu sholat tiba. Dia juga mulai belajar membaca Al-Quran yang semua tulisannya dari bahasa Arab itu. Dia merasa sangat tenang dan nyaman berada dalam lingkungan muslim selama beberapa bulan.
"Bagaimana cara menjadi muslim?" tanyanya membuat Heri terkejut. Ini adalah keputusan besar untuknya. Tapi dia tidak merasakan satu keraguan saat mengambil keputusan yang tiba-tiba ada di kepalanya itu. Dia merasa yakin. Yakin bisa berbuat baik dalam sisa hidup yang diberikan oleh Tuhan dengan memeluk agama Islam.
__ADS_1