
Kenzo melihat-lihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dia harus melakukan itu karena bisnis barunya yang merupakan persewaaan kamar, rumah dan vila sedang naik daun. Sudah setahun sejak dia berhenti dari pekerjaannya, dan memutuskan untuk memiliki usaha yang halal. Kenzo bersyukur semuanya berjalan dengan baik untuknya dan keluarganya. Disela-sela melihat pesan, sebuah telepon masuk ke ponselnya. Bukankah ini? Dia sangat mengenal nomor ini. Tentu saja, dia tidak akan pernah melupakannya.
"Bos"
"Apa kabar?"
Kenzo lega akhirnya bisa mendengar suara Bos yang ditinggalkannya. Selama ini dia takut menerima kabar buruk dari Inggris. Untunglah tidak ada yang terjadi.
"Baik Bos. Untuk apa Anda ... "
"Aku ... membuka usaha di Singapura. Karena dekat, kupikir kita harus bertemu"
"Anda membuka usaha di Singapura?"
"Iya. Apa kau ada waktu besok malam?"
"Bos mau ke Jakarta?"
"Iya. Rumahku ada yang belum terjual disana"
Kenzo teringat akan satu-satunya aset milik Bos-nya yang masih ada di Jakarta. Satu-satunya yang lupa diurusnya untuk diberikan kepada keluarga Feli.
"Apa Anda akan menjualnya?"
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah ke Indonesia lagi"
Tidak pernah? Apa ini berarti Bos-nya telah melupakan masalah kematian istri dan anak juga tentangĀ Ambar? Tapi bukankah itu memang yang terbaik? Kenzo akan ikut bahagia saat Bos-nya bisa bangkit kembali seperti dulu.
"Baik. Kita bisa bertemu besok malam Bos"
"Jangan panggil aku Bos lagi!"
"Baiklah. Tapi besok saja saat kita bertemu"
"Yah. Assalamualaikum"
"Wallaikum salam" balas Kenzo lalu menutup telepon.
Sedetik kemudian dia merasa ada sesuatu yang salah. Tidak tahu kenapa dia merasa ada yang aneh dengan telepon Bos-nya. Tapi apa ya? Dia tidak bisa mendapati hal aneh itu. Kenzo berpikir begitu keras dan tidak menemukan apapun. Pasti dia hanya merasa terlalu terkejut dengan telepon Bos-nya tadi. Besok malam. Dia harus bersiap mulai sekarang. Dia akan memakai setelan jas lagi setelah satu tahun. Lalu, apakah dia akan memberitahu Ambar?
Kenzo sangat tahu temannya yang bodoh itu belum bisa sembuh dari rasa bersalah akan kematian Feli. Mungkin Ambar juga belum bisa melupakan cinta pada Bos Adhi. Jadi, sebaiknya dia tidak pernah memberitahu Ambar akan kedatangan Bos-nya ke Jakarta. Atau tubuh temannya itu menjadi semakin kurus dari saat ini. Kadang Kenzo ingin sekali memaksa Ambar untuk menikah dan melupakan semua rasa bersalahnya. Tapi ... semuanya memang butuh proses. Dan Kenzo akan setia menunggu temannya itu menemukan semangatnya lagi. Sekaligus menemukan laki-laki lain yang bisa menyembuhkan hati Ambar. Pastinya bukan dia atau Bos Adhi.
Besok malamnya, Kenzo yang memakai jas terbaiknya datang ke sebuah restoran di salah satu hotel terbaik di Jakarta. Dan dia sangat terpana dengan seorang pria yang sedang duduk di dekat kolam renang itu. Penampilan Bos Adhi memang sangat berbeda. Meskipun dia berusaha meniru sampai pakaian dan segalanya. Aura di dalam diri Bos-nya itu tidaka akan pernah bisa dia dapatkan meskipun harus bertapa selama seribu tahun. Dia mendekat dan menyapa mantan Bos-nya.
"Apa kabar Bos?"
Tapi ... Kenzo melihat sesuatu yang lain dari dalam diri Bosnya. Bukan sebuah keangkuhan atau penderitaan. Melainkan sebuah ketenangan yang tampak dari sinar mata cerah Bos Adhi. Wah, apa benar Bos-nya telah melanjutkan hidup sekarang?
"Baik. Duduklah! Kita makan"
__ADS_1
"Anda terlihat berbeda"
"Kenapa? Kau mengharapkan seorang pengemis duduk di hadapanmu?"
Kenzo sedikit tersenyum, mengingat rupa Bos-nya setahun yang lalu.
"Sedikit"
"Sayang sekali. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu"
Kenzo sekilas melihat layar ponsel Bos Adhi yang menyala karena pesan masuk dan tidak lagi melihat foto AMbar disana. benar. ternyata Bos Adhi sudah melanjutkan hidup. Tapi ... kenapa Kenzo merasa itu tidak adil? Ambar yang tidak salah apa-apa masih terkurung dengan rasa bersalah. Sedangkan penyebab semuanya terjadi bisa melanjutkan hidup dengan tenang.
"Anda ... sudah menikah sekarang?"
"Apa? Menikah?"
"Yah, Anda terlihat sudah ... move on"
"Karena penampilanku?"
"Yah begitulah"
"Baguslah kalau aku tampak seperti itu di matamu"
"Apa Anda memang sudah menikah?"
Kali ini Bos Adhi tersenyum, menampakkan pria yang sedang bahagia.
"Anda sudah melupakan Ambar?"
Tidak tahu kenapa Kenzo menyebut nama temannya sekarang. Dia hanya merasa kesal karena ternyata orang yang paling bersalah atas kematian Feli sedang tertawa dan memikirkan kebahagiaannya sendiri. Tanpa mengerti apa yang dilakukannya menimbulkan banyak kerugian pada diri orang lain.
"Sudah"
Apa? Sudah?
"Oh, Anda sudah melupakan semuanya ternyata"
"Kenapa? Apa aku tidak berhak melupakan semuanya? Apa aku tidak berhak memiliki kehidupan baru? Atau kau berharap aku masih seperti pengemis sekarang?"
Kenzo bingung. Dia tidak tahu apa yang diharapkannya. Semuanya memang telah berlalu dua tahun. Tapi ... bagi Ambar, kehidupan temannya itu terhenti di dua tahun yang lalu. Tapi ... Bosnya juga tidak salah memiliki kehidupan yang baru. Lalu, apa sebenarnya yang dilakukannya sekarang?
"Tidak. Hanya ... "
"Apa wanita itu ... masih"
"Tidak. Ambar juga sudah melanjutkan hidup. bahkan Ambar sudah menikah setahun lalu. Dia sekarang sedang mengandung anak pertamanya. Tujuh bulan. Besar sekali perutnya" kata Kenzo berbohong. Dia tidak mau temannya tampak menyedihkan dihadapan Bos brengseknya.
"Alhamdulillah kalau begitu"
__ADS_1
"Iya. Alhamdulillah"
Tunggu. Apa? Kenapa dia mendengar kata-kata ini dari ... .
"Apa Bos baru saja bicara ... "
"Aku mualaf. Sudah lebih dari delapan bulan"
Kenzo tercengang. Dia tidak tahu apakah harus bersyukur atau merasa marah tentang hal ini.
Dan satu-satunya pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah.
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa Anda menjadi ... "
"Muslim? Apa kau pikir aku melakukannya karena tidak bisa melupakan wanita itu?"
Kenzo berdecak tanda kesal. Dia tidak ingin pria di depannya ini menyebutkan nama Ambar lagi.
"Apa itu benar?"
"Tentu saja tidak. Aku ... menemukan ketenangan yang kucari selama ini. Dan itu juga penyebab aku sudah bisa melepas segalanya. Kini, aku siap menjalani hidup baru meskipun dosaku pada Feli dan calon anakku itu tetap harus kutanggung"
Sial. Kini Kenzo merasa kasihan pada temannya. Ambar, seharusnya temannya itu mendengar apa yang Bos katakan sekarang. Mungkin kalau mendengarnya, Ambar akan bisa memutuskan untuk meninggalkan rasa bersalahnya.
"Anda sudah berubah"
"Kupikir begitu"
"Jadi, apa Anda akan menjual rumah di Jakarta juga?"
"Iya. Aku akan menjualnya. Tidak ada alasan aku mempertahankannya"
"Saya bisa membantu Anda"
"Tidak perlu. Aku sudah meminta Andy mengurus semuanya"
"Oh, teman Anda waktu itu"
"Iya. Aku senang bertemu denganmu setelah semua kekacauan yang aku buat. Kau terlihat sangat baik dan itu membuatku lega"
Bukan dia yang seharusnya Bos Adhi perhatikan. Tapi ... mereka menjadi orang asing adalah hal paling baik yang bisa terjadi sekarang.
"Semoga jalan Anda yang baru lebih baik dari sebelumnya"
"Yah. Kuharap begitu"
__ADS_1
Mereka berbincang tentang bisnis baru Bos Adhi di Singapura saat makan dan kemudian pulang. Kenzo masih memiliki rasa aneh di hatinya saat melihat Bos Adhi pergi. Pria itu memang seperti manusia baru. Dan tidak ada salahnya tentang itu, pikir Kenzo lalu pulang ke rumahnya.