Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Kenapa?


Kenapa?


Kenapa cowok ini ... memeluknya dari belakang? Memeluk? Ambar dipeluk oleh seorang laki-laki? Apa seperti ini rasanya dipeluk oleh seorang laki-laki? lalu, kenapa buah dada Ambar tiba-tiba mengencang? Timbul juga rasa geli bercampur merinding di sekujur tubuhnya. Rasa apa ini? Apa benar dia mengalami puber kedua yang datang terlalu awal? Apa ini alasan ayahnya selalu mendesak Ambar untuk segera menikah? Saat Ambar terlalu banyak berpikir, cowok di belakangnya menarik lengannya. Dalam tarikan itu, tergesek juga puncak buah dada Ambar yang pelan-pelan maju ke depan. Oh tidak. Apa cowok itu akan merasakan kalau puncak buah dada Ambar?


Tidak tahan dengan apa yang dibayangkannya, Ambar menginjak kaki Bos Kenzo dan segera berlari ke dalam tempat acara pernikahan berlangsung. Dia melihat banyak orang sedang menikmati makanan dan tidak menyadari apa yang terjadi padanya. Termasuk para teman kursusnya. Dia mencoba menahan malu dan debaran jantung cepatnya lalu kembali ke kerumunan teman-temannya.


"Lho, mana pacarmu Mbar?"


"Dia bukan!!! pacarku. Dia cuma kenalan. Cuma kenalan"


"Oh kenalan? Tapi kok bisa ngomong gitu ya? Apa dia cuma nggodain kamu Mbar?"


"Ha??? Gak. Pokoknya dia bukan apa-apa aku"


"Kamu kenapa Mbar?"


"Gak apa-apa"


"Tapi, kok keringatmu banyak banget? Kamu sakit ya?"


"Gak. Aku gak apa-apa. Ayo makan"


Ambar berusaha melupakan apa yang telah terjadi padanya dan fokus pada acara pernikahan temannya. Hanya pernikahan temannya. Dia juga menghindar dari melihat area keja yang ditempati oleh cowok itu. Tidak lama lagi, dia akan pergi untuk berlibur di Bandung. Jadi ... tdak akan ada yang dapat merusak hal itu, termasuk kejadian tadi.


"Kamu makan dikit banget Mbar?"


Ambar mendongak dan melihat temannya yang hari ini resmi menikah.


"Mba, selamat ya"


"Iya, makasih ya. Makasih juga udah jauh-jauh datang ke Bandung buat aku"


"Gak apa-apa Mba. Aku juga seneng bisa jalan-jalan ke Bandung. Udah lama banget gak kesini"


"Makan yang banyak ya. Jangan malu-malu"


"Iya Mba"


Setengah jam kemudian pesta selesai diadakan, kebanyakan tamu sudah pulang dan Ambar juga mohon diri kepada teman kursusnya. Dia keluar dari tempat acara pernikahan menuju mobilnya.


"Kau membawa mobil sendiri?"


Ambar hampir melompat dari tempatnya berdiri karena mendengar suara yang dikenalnya. Cowok itu, cowok yang tadi ... itu bertanya padanya. Cowok itu juga ada di belakangnya. Ambar segera berbalik dan mundur selangkah untuk memberi jarak diantara mereka.


"Iya. Saya bawa mobil sendiri"

__ADS_1


"Kalau begitu kau bisa mengantarku pulang""Apa? Kenapa?"


"Aku tidak membawa mobil"


"Anda sampai disini memakai apa?"


"Aku ... "


"Saya tidak bisa"


"Apa?"


"Saya tidak bisa mengantar Anda"


"Apa itu karena tadi aku memelukmu?"


Kampret, hujat Ambar dalam hati. Kenapa cowok ini mengungkit kejadian tadi?


"Tidak. Karena saya tidak akan kembali ke Jakarta hari ini"


Ambar tidak ingin menjelaskan lagi tentang apa yang akan dia lakukan pada cowok itu. Dia segera menaiki mobilnya dan pergi dari halaman parkir tempat acara pernikahan. Dia memacu mobilnya ke arah Lembang dan sampai di pelataran hotel Panorama. Ambar mengambil kopernya di bagasi dan berjalan ke arah lobi.


"Kamar atas nama Ambar Ramadhani"


"Silahkan tunggu sebentar" jawab resepsionis.;


"Ya"


"Terima kasih"


"Kami akan mengantar Anda ke kamar"


Ambar tersenyum melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Tidak setiap hari dia akan melihat gunung, tanaman dan bunga-bunga seperti ini. Sampai di kamar, dia meletakkan kopernya dan mendengar penjelasan pegawai hotel tentang fasilitas yang bisa digunakannya. Sayang sekali, harusnya dia datang bersama orang tuanya kalau mereka tidak terlalu lelah setelah pergi keluar kota minggu kemarin. Tapi ... ini adalah waktu istirahat bagi Ambar. Dia sebaiknya menikmati dua hari semalamnya dengan baik.


Ternyata, yang dimaksud oleh Ambar berlibur kebanyakan dihabiskannya dengan tidur. Dari jam dua siang sampai empat sore, dia merasakan apa yang namanya tidur siang. Sungguh enak sekali. Tapi sekarang dia mulai merasa lapar. Sebaiknya dia mandi dan menunggu sholat Maghrib baru pergi ke restoran hotel. Dia tidak ingin keluar dari hotel bahkan satu langkahpun untuk hari ini. malam hari di Lembang sangat dingin. Ambar harus memakai cardigannya hanya untuk pergi ke restoran hotel.


"Selamat malam Kak" sapa pegawai restoran hotel.


"Selamat malam. Saya ingin makan disini"


"Baik. Silahkan!"


Ambar mendapatkan tempat duduk menghadap ke pemandangan indah bandung saat malam hari. Dia merasa beruntung sekali hari ini. Sampai ada seseorang duduk dengannya menikmati pemandangan yang sama.


"Bagus juga. Tidak salah aku memilih tempat ini" kata Adhi setelah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ambar. Wanita itu terlihat terkejut dengan kehadirannya.


"Anda, bagaimana?"

__ADS_1


"Aku juga ingin menikmati bandung"


"Tapi"


"Kenapa? Apa bandung dan hotel ini milikmu?"


"Bukan, tapi ... "


"Apa yang kaupesan untuk makan malam?" tanya Adhi pada wanita yang masih kehilangan kata-kata itu.


"Saya ... pesan soto bandung"


" Apa enak?"


"Yah ... tidak tahu"


Wanita itu kembali mengarahkan wajahnya ke depan. Melihat pemandangan lampu kota bandung yang ada dibawah Lembang. Adhi memesan makanan yang sama dengan Ambar lalu kembali melihat pemandangan yang sama. Meskipun tanpa kata, dia menikmati sekali saat ini. Tidak tahu kenapa, dia tidak ingin terlalu memikirkannya. Dia hanya ingin duduk disini, di dekat wanita yang bereaksi aneh karena sentuhannya.


Saat makanan akhirnya datang, Adhi heran. Selama di Indonesia dia tidak pernah makan makanan seperti ini. Dia juga sebenarnya tidak pernah tidur di hotel seperti ini. Tapi ... dia tidak mkeberatan mencoba.


"Bagaimana cara makannya?" tanyanya pada wanita yang mulai makan itu.


"Anda belum pernah makan ini?"


"Belum"


"Ini namanya soto daging Bandung. Dimakan dengan nasi dan sambal, juga kerupuk kalau Anda mau" Walaupun terlihat enggan, Ambar mau menjelaskan.


"Apa ini pedas?"


"Kalau Anda mencampur banyak sambal ke dalamnya tentu saja pedas"


"Apa aku bisa memakannya tanpa nasi?"


"Sebaiknya Anda pesan yang lain. makanan ini sepertinya tidak cocok untuk Anda"


"Apa karena aku akan memakannya tanpa nasi?"


"Iya"


Wanita ini, begitu terus terang. Tidak pernah begitu saja mengiyakan apa yang dikatakan oleh Adhi. Mungkin itulah yang membuat Adhi menikmati obrolan mereka.


"Kalau aku memesan yang lain siapa yang makan ... soto ini?"


"Saya. Saya yang makan"


"Tapi kau akan jadi gendut"

__ADS_1


"Biar saja. Saya gendut atau apapun itu" jawab Ambar lalu menarik mangkok soto Adhi ke arahnya.


"Kau akan tetap cantik meskipun gendut" kata Adhi lalu tersenyum.


__ADS_2