
"Ya iyalah. kalo gak cinta apa namanya???" jawaban keras Kenzo mengejutkan Ambar yang tidak bermaksud memperpanjang masalah.
"Iya sih"
"Tapi ini namanya cinta yang menghancurkan. Emang dasar Feli-nya aja pura-pura bodoh. Masa dia gak tau kalo Bos berkorban sampe kayak gini buat dia?"
"Ken, Feli itu temanku"
"Oh iya lupa. Tapi coba bayangin. kalo gini kan jatuhnya aku sama pegawai lain yang susah"
Memang benar juga perkataan Kenzo. Seharusnya Bos Kenzo berpikir seratus kali lagi sebelum memutuskan untuk menjual semua asetnya demi Feli. Bagaimanapun ini semua hasil kerja kerasnya dan pegawainya.
"Kalo kamu mau resign jangan sambil marah ya. Takutnya malah runyam urusan"
"Masa bodoh. Dia aja gak mikirin susahnya aku. Mana besok aku mesti jemput Bapak dari penjara"
Ambar terdiam, berusaha berpikir sejenak lalu mengusulkan kalao dia saja yang menjemput ayah Kenzo.
"Aku bisa jemput ayah kamu sama Rindu juga Budhe"
"Tapi, kamu kan juga harus kerja"
"Gak apa. Aku bisa keluar sebentar toh kerjaanku gak terlalu banyak bulan ini"
"Beneran?"
"Iya"
"Tapi, nanti kamu nervous?"
"Kenapa?"
"Kan mau ketemu calon mertua"
Percuma saja Ambar mengkhawatirkan temannya itu. Ternyata otak Kenzo masih tidak begitu benar sampai sekarang. Mungkin ini saatnya dia mengembalikan cincin pemberian Kenzo. Tapi ... sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Takutnya Kenzo semakin ngamuk dan memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Yang bisa Ambar lakukan hanya bersabar dan memasukkan cincin itu kembali ke tasnya.
"Ya udah gak jadi" kata Ambar lalu bangkit dari kursinya dan berjalan kembali ke arah tangga.
"Iya. Iya maaf. Duh gitu aja ngambek"
"Kamu sih ngomong gitu terus"
"Namanya juga ngarep Mbar. Kan boleh"
"Kalo kamu ngomong gitu terus males ah aku"
"Iya iya. gak akan ngomong gitu lagi. Janji"
Meskipun Ambar pesimis dengan janji yang diucapkan oleh Kenzo, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain percaya. Kenzo adalah temannya dan tidak mungkin berpaling dari memberikan bantuan hanya karena masalah seperti itu.
Sampai di rumah Ambar segera menghubungi Rea.
"Halo Re"
"Ambaaaaarrrrr"
Dari teriakan Rea, Ambar tahu kalau sahabatnya itu menunggu teleponnya.
"Ada apa emangnya? Kok kayaknya seru banget"
__ADS_1
"Daripada seru kejadian ini lebih mengarah ke menjijikkan"
"Menjijikkan?"
"Iya"
Ambar sama sekali tidak memiliki tebakan sama sekali untuk apa yang akan diceritakan oleh Rea. Di pikirannya memastikan kalau itu berhubungan tentang Feli, ternyata berbeda.
"Beneran tuh?" tanya Ambar untuk memastikan kebenaran cerita yang dituturkan oleh Rea.
"Iya.Padahal awalnya Danial itu mau cari kamu di rumah aku. Sebelum pergi, kakak aku dateng eh langsung lari dari jauh terus namplok ke Danial. Dan aku gak nyangka liat kakak aku nyium Danial. Semua itu terjadi di depan mata aku. Jijik kan jadinya"
Ambar terkejut, dia tidak menyangka ternyata kakak Rea yang merupakan pengusaha sukses itu menyukai seseorang seperti Danial. Tapi, ada rasa lega di dalam hatinya. Setidaknya, Danial berhak mendapatkan kebahagiaan setelah semuanya terenggut dalam semalam.
"Kakak kamu agresif juga ya"
"Dihhhh jijik banget. Terus kakak aku gak ada malunya ngajak Danial pacaran."
"Alhamdulillah"
"Lho kok kamu ngomong gitu Mbar?"
"Ya. Kan berarti Danial ada yang suka, gak kayak sama Feli kemarin. Danial yang ngejar sama suka tapi gak terbalas"
"Iya sih. Tapi kenapa harus kakak aku???"
Kelihatannya Rea masih terkejut dengan kelakuan kakaknya yang diluar kebiasaan.
"Gak apa-apa Re. Dua-duanya kan udah dewasa, siap nikah juga. Kalo emang jodoh mau gimana?"
Rea tetap tidak terima kalau memang terjadi sesuatu diantara kakaknya dan Danial. Memang aneh, bagaimana Allah mengatur semuanya dengan baik. Semoga saja Ambar dan Rea juga bakal menemukan jodoh yang baik seperti dua perempuan yang sedang berbahagia di London itu.
Danial masih merasa bingung duduk di restoran tempatnya akan bertemu Adhi malam ini. Dia tidak pernah sekalipun mengalami yang seperti tadi. Bagaimana bisa seorang perempuan bisa berlari lalu memeluknya dan menciumnya dengan kecepatan kilat. Lalu mengajaknya berkencan dan bahkan mungkin melamarnya kalau Danial tidak segera lari dari rumah Edrea. Jantungnya masih berdegup kecang karena hal itu sampai pengawalnya mengingatkan tentang kedatangan Adhi. Dia memperbaiki sikap lalu merubah raut wajahnya.
"Kau datang" katanya lalu melihat kondisi adiknya yang berbeda. Berjalan dengan sedikit mengangkat kaki dan seperti tidak tidur dua hari.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Duduklah!"
Sebenarnya Danial ingin sekali memukuli Adhi sampai tidak bisa bangun lagi. Tapi ... setelah mengalami kejadian tadi, Danial kehilangan selera untuk melakukan apapun.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Danial lalu adiknya itu hanya melihatnya sekilas.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Sepertinya tidak ada alasan untuknya menanyakan keadaan Adhi. Lagipula, adiknya itu sudah memiliki seseorang yang akan memperhatikannya. Jadi lebih baik dia segera mengatakan niat sebenarnya melakukan pertemuan ini.
"Tentang perusahaan keluarga Feli"
"Apa yang akan kaulakukan?"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku akan memberikannya padamu"
"Apa?"
"Semua berkas telah aku kirim ke Indonesia, ke rumahmu. Jangan pernah mempercayakan perusahaan itu ke keluarga Feli atau semuanya akan hancur"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku mengambil alih semuanya karena memang ayah Feli tidak becus mengurus bisnis. Karena sekarang kau yang akan menjadi menantunya, jadi ... " kata Danial lalu melemparkan berkas serah terima pemimpin perusahaan.
"Dan apa yang kau inginkan dari ini?"
Danial mencibir adiknya.
"Kau pikir kau punya apa sampai aku menginginkan sesuatu?"
Emosi Adhi terrpancing karena kata-katanya. Adiknya itu seperti siap melakukan perkelahian ronde kedua. Lalu telepon Danial tiba-tiba berdering.
"Halo"
"Danial. Kapan kita bisa bertemu lagi?"
Sial. Kenapa perempuan ini menghubunginya sekarang?
"Kapan aku bilang kita akan bertemu?"
"Aku adalah kekasihmu, jadi kita harus bertemu. bagaimana kalau malam ini aku datang ke rumahmu? Aku bisa menghangatkan ranjangmu"
Wajah Danial perlahan memanas, tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini dari telepon.
"Kau ... diamlah!"
"Kenapa? Apa kau bertemu wanita lain? Aku tidak akan diam saja sekarang. Aku akan menghancurkan semua wanita yang ada di dekatmu"
"Diamlah!!" pinta Danial hampir memohon.
"Tidak bisa. Dimana kau sekarang? Aku kan datang kesana. Rea, antar aku sekarang!!"
"Ngapain sih kak. Jijik"
Danial mendengar dua suara perempuan itu di kepalanya dan mendadak merasa pusing. Daripada seperti ini, dia berani melakukan apapun.
"Datanglah ke rumahku. kau sudah tahu alamatnya"
"Baiklah. AKu akan berangkat sekarang. Kau ingin aku memakai baju atau tidak?"
Wajah Danial memanas lagi karena pertanyaan perempuan ini.
"Pakai"
"Okelah. Sampai jumpa sayangku"
Danial akhirnya bisa mengalami ketenangan jiwa setelah menutup telepon kaka Rea dan kembali menatap wajah adiknya.
"Itu berkas serah terima kekuasaan di perusahaan ayah Feli. Kau bawa saja sana. Aku mau pulang"
"Tunggu. Apa sebenarnya yang kau inginkan?'
Danial sungguh tidak ingin meladeni adiknya lagi setelah menerima telepon tadi. Tapi dia berbalik dan melihat kaki Adhi.
"Periksalah ke dokter untuk kakimu. Dan semoga kau senang sekarang"
Dia berbalik dan ingin pergi lalu teringat akan sesuatu yang belum dikatakannya.
"Perempuan itu, siapa namanya? Ambar. Apa dia baik-baik saja setelah menangis karenamu seperti itu?"
Selesai. Danial sudah mengatakan semua yang ada di pikirannya. Dalam hati, dia merasa berterima kasih pada Ambar. Karena perempuan itu, maka dia bisa memiliki hubungan lain yang lebih ... berwarna daripada sebelumnya.
__ADS_1