Second Lead Fate

Second Lead Fate
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Setelah ditinggal pulang dua pegawainya, tinggallah Ambar sendiri di toko. Rasa pusing di kepalanya yang sudah berkurang karena tidur kini bertambah oleh pengakuan Kenzo tadi sore.Dia ingin sekali pulang lalu tidur di kasurnya yang empuk. Tapi, ayahnya yang belum menyerah tentang pernikahan membuatnya malas pulang ke rumah. Lalu ... kemana sebaiknya dia pergi sekarang? Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Ambar memacu mobilnya ke sebuah tempat yang akhir-akhir ini sering dia datangi.


Setibanya di rumah sakit, Ambar berjalan ke arah kamar cowok bule itu dan berpapasan dengan seseorang yang sangat dia kenal.


"Feli"


"Ambar. Aku ... "


Melihat wajah Feli yang pucat, Ambar bisa tahu kalau sahabatnya itu mengalami hari yang berat.


"Kamu udah makan?"


"Apa?"


"Kamu udah makan belum?"


"Belum"


"Aku temenin makan yuk. Aku pengen minum kopi panas nih sekarang"


"Apa?"


"Ayok"


Ambar menyeret Feli untuk pergi ke kantin yang lebih mirip kafe rumah sakit. Dia merasakan tubuh Feli kini semakin mengurus dan tidak bersemangat. pasti karena masalah pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkan itu. Ingin sekali Ambar membantu menyatukan kedua orang yang saling mencintai ini. Apa daya, masalah mereka jauh lebih rumit dari yang bisa Ambar bayangkan.


"Maaf ya Mbar, aku sering dateng kesini"


Sebaiknya Ambar berpura-pura tidak mengerti tentang masalah mereka dan menjadi kekasih sang adik ipar.


"Gak apa-apa Fel. Bos ... eh ... kak Adhi kan calon adik ipar kamu"

__ADS_1


Hampir saja Ambar menggali kuburannya sendiri dengan memanggil cowok bule itu Bos, di depan Feli. Dia kemudian berdeham dan mencoba untuk tenang.


"Iya ... ya. Adik ipar"


Untunglah Feli tidak menyadari kesalahan yang dilakukan oleh Ambar. kalau tidak, dia pasti akan segera disalahkan oleh cowok bule tidak tahu adat itu.


"Mbar, aku pulang dulu ya"


"Lho, kamu gak makan dulu?"


"Gak. Nanti aku telepon ya"


Ambar melongo melihat Feli pergi begitu saja, tanpa makan atau minum sama sekali. Perlahan, dia merasa kasihan karena Feli tidak bisa memperlihatkan atau membicarakan rasa sukanya pada laki-laki yang seharusnya menjadi adik iparnya itu.


"Permisi" sapa Ambar saat masuk ke dalam kamar rawat yang dia tuju.


"Kau, kenapa kemari? Apa yang kau bawa?"


Ambar melihat tas kertas bagus yang digunakan kafe tadi untuk membungkus makanan Feli.


Cowok bule itu segera diam saat mendengar nama Feli disebutkan.


"Bukankah sebaiknya Anda mengatakan pada Feli yang sejujurnya. Kelihatannya, Feli juga merasa tersiksa dengan perasaannya"


"Itu bukan urusanmu"


Benar juga sih, Itu memang bukan urusan Ambar. Tapi melihat sahabatnya sedih, menjadi semakin kurus karena masalah cinta, membuat Ambar sedih.


"Apa tidak ada jalan lain yang bisa diambil agar Anda dan Feli bisa bersama?"


Pertanyaan Ambar membuat cowok bule yang sekarang tidak lagi memakai gips di tangan itu menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!!" kata cowok itu dengan menekan suaranya, berharap Ambar tidak membicarakan hal ini lagi. Tentu saja itu membuatnya sedikit takut. Dari cerita Rea, calon adik ipar Feli ini juga memiliki banyak kenalan di dunia malam. Lebih baik Ambar menutup mulutnya dan tidak membahas tentang hal ini di hadapan cowok itu. Dan tiba-tiba, rasa sakit yang sejak tadi menyiksa kepalanya muncul kembali. Kali ini lebih sakit daripada sebelumnya. Ambar menunduk untuk menahan sakit.


"Ada apa? Kenapa kau?" tanya cowok itu tapi Ambar tidak dapat menjawab. Dia memilih berjalan ke sofa yang biasanya dia duduki dan berbaring disana.


"Apa yang terjadi?"


"Maaf, tapi ... kepala saya sakit sekali"


"Apa?"


"Maaf, tapi kalau boleh bisa tidak saya tidur disini sebentar?"


"Apa kau butuh dokter?"


"Tidak. Saya hanya ingin tidur sebentar" Itu kalimat terakhir yang bisa Ambar ucapkan sebelum tertidur di sofa kamar rawat  cowok bule itu.


 


Adhi melihat wanita yang berbaring di sofa dan mulai merasa khawatir. Apa yang terjadi sebnarnya dengan wanita itu? Kenapa tiba-tiba tidur di tempat ini? Kenapa juga wanita itu tidak pulang saja ke rumah? Tidak bisa berhenti merasa khawatir, Adhi turun dari ranjangnya. Pagi tadi, perawat sudah melepas gips di tangannya. Gips di kakinya juga diperkecil untuk mempermudah pergerakannya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Adhi dijawab dengan suara dengkuran lemah wanita itu. Untunglah, sepertinya wanita itu tidak pingsan di kamarnya. Apalagi setelah dia sempat berkata keras tadi karena marah.


Adhi ingin kembali ke ranjangnya tapi merasa bosan lalu duduk tepat di dekat kepala Ambar yang sedang terbaring tidur. Kalau boleh jujur, ingin sekali dia merebut Feli dari tangan kakaknya dan kabur ke Amerika Utara atau timur tengah. Hanya saja, akibatnya untuk perusahaan keluarga Feli akan sangat fatal. Dia yakin Feli, perempuan yang dia cintai juga paham tentang hal itu.


Adhi melayangkan pikirannya ke sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu dengan Felysia. Dia masih berumur sembilan belas  tahun,terusir dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Lalu pergi ke sebuah negara yang bahkan dia tidak kenal. Negara tropis dengan banyak pantai dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Yang terpenting adalah, keluarganya tidak memiliki kuasa apapun di negara ini. Bali, menjadi kota pertama dia mendapatkan pekerjaan. Pelayan bar lokal, pemandu wisata, bahkan keamanan di diskotik besar disana, telah dijalaninya hanya untuk hidup. Ketika beristirahat, Adhi sesekali pergi ke pantai dan menikmati matahari terbenam. Sesuatu yang jarang dia lakukan saat berada di Inggris.


Dan disanalah, dia bertemu seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai ditiup angin. Sangat cantik dan mempesona, itulah kesan pertamanya pada Felysia. Dia tidak peduli dengan keadaannya sendiri, mengajak Feli berkenalan.Tentu saja, awalnya Feli melihatnya dengan takut. Saat itu Adhi benar-benar tampak seperti gelandangan. Tapi setelah tidak sengaja bertemu beberapa kali, Feli berubah sikap kepadanya. Mulai mau diajak bicara bahkan memberikan nomor telepon saat diminta. Ketika Feli kembali ke Jakarta, Adhi melanjutkan komunikasi mereka melalui telepon. Awalnya hanya bertukar kabar lalu menjadi posesif karena merasa dekat.; Tidak sabar untuk pertemuan berikutnya, Adhi berhenti dari semua pekerjaannya di Bali dan pergi ke Jakarta.


Berbekal tabungan dan hasil kerjanya selama beberapa bulan, akhirnya Adhi menemukan bahwa Feli adalah seorang putri dari keluarga yang cukup kaya di Indonesia. Merasa tertantang, Adhi mengambil tabungan rahasianya dan membuka bar kecil. Karena pengalamannya, bar tempatnya berkembang hanya dalam waktu satu tahun. Membuatnya berani untuk datang ke rumah Feli dan berkenalan secara resmi. Tentu saja orang tua perempuan itu memandang rendah dirinya. Tapi tidak dengan Feli. Meskipun masih berusia tujuh belas tahun perempuan itu lebih bijaksana dari semua orang yang pernah dikenal oleh Adhi. Mereka akhirnya berteman dan Adhi mulai menyimpan harapan besar agar mereka dapat bersatu suatu saat. Kini, keinginannya telah menghilang. Dia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menonton perempuan yang disukainya menikah dengan kakaknya sendiri. Sungguh menyedihkan.


Tiba-tiba, ada sesuatu menggelitik paha kirinya. Padahal gips panjang itu telah diganti dengan yang lebih kecil sesuai dengan permintaannya. Adhi menurunkan pandangan dan melihat wajah seorang wanita yang tertidur di pahanya. Rupanya wanita ini naik ke pahanya, berpikir kalau itu bantal. Adhi ingin berdiri dan menyadarkan wanita itu, lalu teringat dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Ambar tadi. Dia membatalkan niatnya untuk berdiri dan melihat wajah wanita yang berada dekat sekali dengannya. Berbeda sekali dengan wajah yang enam tahun lalu dilihatnya. Wanita ini benar-benar berubah seperti kupu-kupu. Tidak ada lagi jerawat dan pipi besar yang kemerahan. Yang terlihat olehnya, hanyalah wajah putih mulus dengan alis hitam, hidung mancung dan bibir tebal yang berwarna pucat. Perlahan, tangan Adhi bergerak menyapu bibir pucat Ambar lalu tergoda untuk mencicipinya. Dia mendekatkan wajahnya sendiri ke Ambar dan hampir saja mencium bibr itu ketika sebuah suara ponselnya mengganggu. Dia merasakan gerakan kepala yang menggesek pahanya dan merasa tidak nyaman. Kepala wanita ini secara tidak sengaja menyentuh bagian tubuh Adhi yang lama tidak digunakan dan sekarang terbangun tanpa alasan.

__ADS_1


Sial.


Dia segera menyingkirkan kepala wanita itu dari pahanya, mematikan ponsel yang berbunyi dan kembali ke ranjangnya. Berusaha untuk membuat miliknya tertidur lagi.


__ADS_2