Second Lead Fate

Second Lead Fate
Delapan Puluh Satu


__ADS_3

Feli tidak tahu harus berpikir apa saat Ambar dan Rea mengemukakan kenyataan yang hanya mereka tahu. Dia selalu menganggap laki-laki yang dicintainya telah berpaling ke sahabatnya sendiri. Dan dia telah kehilangan harapan untuk bersama Adhi. Berusaha menerima Danial yang akan menjadi suaminya kelak meskipun tanpa ada satu titik cinta di hatinya. Hanya beberapa hari ini dia merasa kesal sekali pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin lagi menerima nasib dan ingin keluar dari cangkangnya yang keras. Berusaha untuk mengatakan pada Danial kalau dia membutuhkan waktu untuk bisa menikah. Tapi, apa yang didengarnya sekarang?


"Mbar. Kamu ... "


"Inget gak waktu kamu dateng ke rumah sakit terus ketemu sama aku. Hari itu pertama kalinya aku ketemu Pak Adhi. Dia minta aku pura-pura jadi pacarnya soalnya kamu kayak gak bisa komentar sama sekali"


"Waktu itu?"


"Iya. Aku nolak, tapi dia ngancem tentang kerjaan Kenzo"


"Kenzo?"


"Iya. Anak buahnya pak Adhi, temenku. Anak kelas dua yang suka sama kamu dulu"


"Ohhh"


Feli ingat pernah melihat Kenzo disamping Adhi saat di rumah sakit waktu itu.


"Fel. Jangan sampai kamu ngerasa menyesal sama keputusanmu sekarang"


"Iya Fel. Aku sama Ambar emang gak bisa bantu apa-apa soal perusahaan ayah kamu. Tapi ... kita ga tega liat kamu terus-terusan menderita kayak gini" tambah Rea membuat Feli menangis.


Dia tidak pernah menyangka semua itu terjadi.


"Tapi ... kenapa Adhi kayak gitu? Pura-pura pacaran sama kamu?" tanya Feli meminta penjelasan.


"Buat ngelindungin kamu Fel. Pak Adhi tahu kalo dia gak bisa gantiin Danial yang super banyak duit sama kekuasaan itu. Jadinya, dia gak mau kamu sama keluargamu hancur cuma gara-gara kamu bingung sama perasaan kamu sendiri"


"Jadi ... "


"Adhi tau kalo kamu juga suka sama dia Fel. Tapi terpaksa nikah sama Danial karena masalah perusahaan ayah kamu"


Semua penjelasan dua sahabatnya, terutama Ambar membuat Feli tidak bisa lagi menahan tangis. Laki-laki itu ... laki-laki itu ternyata ... .


 


Ambar tersenyum melihat sahabatnya menangis. Dia yakin itu bukan tangis sedih. Melainkan tangis bahagia yang ditunggu oleh Feli selama ini. Dia dan Rea berpandangan lalu memeluk sahabat mereka yang seperti peri hutan itu. 'Maafin aku Fel. Selama ini udah bohongin kamu. Juga ... tolong bawa cowok itu pergi sejauh mungkin. Biar aku bisa napas dengan lega lagi' kata Ambar dalam hati.


Setelah berpelukan, mereka bertiga sama-sama tersenyum.


"Jadi, apa yang mau kamu lakuin sekarang Fel?" tanya Rea memecah suasana hening itu.


"Aku ... mau bilang ke Danial kalo pernikahan ini gak bisa dilanjutin lagi. Terus ... aku ... mau sama Adhi seterusnya'


Degh. Jantung Ambar terasa tidak nyaman sekali. Dia berusaha mengatur napasnya dan mulai merasa baik-baik saja.


"Bagus tuh. Gitu dong Fel. Jangan pernah menyerahkan masa depanmu di tangan orang lain. Buatlah sendiri masa depanmu yang indah dengan orang yang kau cintai" nasehat Rea yang sama sekali tidak pernah terlihat mengencani seseorang.

__ADS_1


"Kayaknya kita gak cocok kasih nasehat deh Re. Kita gak pernah pacaran tau" kata Ambar mengingatkan temannya yang berapi-api itu.


"Tapi Mbar. Kamu ... "


"Apa Fel?"


"Kamu ... kan suka sama Adhi"


"Ha!!??? Darimana kamu denger itu?"


"Kamu nyebut dia sayang, terus ... "


Sebelum sahabatnya itu mengatakan kebodohan Ambar yang lain, dia menghentikannya.


"Semua itu ide Rea. Biar kamu cemburu. Jadi ... bukan aku yang pengen gini sama gitu"


Setelah meyakinkan kepada Feli kalau dia tidak memiliki perasaan apapun pada cowok itu, Ambar merasa kosong. Seperti tidak ada yang bisa dikatakannya lagi. Kepada siapapun. Sekarang Rea dan Feli sedang dipanggil teman-teman mereka dan Ambar memilih untuk duduk di tepi danau. Dia begitu mengagumi pemandangan yang sedang dilihatnya.Tiba-tiba ada telepon masuk di ponselnya.


"Assalamualaikum"


"Wah, dimana Mbar?"


Kenzo, tepat sekali saat Ambar membutuhkan orang untuk menghiburnya.


"Coba tebak" katanya lalu memutar ponselnya berusaha memperlihatkan apa yang ada di depan matanya pada temannya itu.


"Danau"


"Iya lah. Masa' laut"


Ambar tersenyum kecil lalu meletakkan kepalanya di atas lututnya yang ditekuk.


"Kamu gak tidur lagi ya?" tanya Ambar


"Sabar sayang. Aku bakal tidur nyenyak kalo habis denger suara kamu"


"Hiii. Jijik banget"


"Hahaha. Kenapa? Wajar kan kalo aku bilang gitu ke calon istri"


"Calon istri apaan"


Ambar kesal, dia tidak ingin bicara lagi tentang masalah ini.


"Capek ya?"


Ambar membuka matanya dan melihat ekspresi khawatir di wajah Kenzo. Laki-laki ini ternyata bisa melihat hal itu, meskipun dari layar telefon. Hebat.

__ADS_1


"Iya. Dikit"


"Emang Bos nyuruh kamu apa aja? Beraninya dia anggep kamu bawahan dia. Siapa lagi yang bikin kamu capek? Aku berangkat sekarang kesana biar kuhabisi semua yang bikin calon istriku capek"


"Duhhhhh!!!! Berisik Banget sih Kak!!!!"


Terdengar backsound adik Kenzo yang marah, membuat Ambar tertawa lepas.


"Loe yang berisik. Tidur aja sana!! Sialan tuh anak, berani sama kakaknya"


"Jadi kangen deh" kata Ambar setelah berhenti tertawa.


"Sama aku?"


"Bukan. Tapi sama ... "


"Pasti aku ... berarti kamu udah mulai ada tanda-tanda nerima lamaran aku tuh"


"BERISIIIIIKKKKK!!!"


Terdengar lagi suara adik Kenzo yang marah karena tidurnya terganggu.


"Ya udah deh Ken. Aku tutup dulu"


"Lha kenapa? kamu katanya kangen sama aku. Mbar ... Ambar sayang"


Ambar masih tersenyum saat menutup telepon dari Kenzo. Dia kini semakin ingin pulang ke Indonesia. Menjalani hari-hari yang biasa dijalaninya. Sayang sekali dia masih harus berada di sini tiga hari lagi. Tapi, mungkin saja dia bisa lebih cepat pulang kalau Feli tidak jadi mengadakan acaranya. Toh, pernikahan Feli dan Danial pasti dibatalkan. Dia bangun dan menepuk-nepuk pantatnya yang duduk tanpa alas lalu berbalik ingin masuk dalam pondok yang disewa Danial. Tapi ... ternyata di belakangnya berdiri seseorang yang tidak ingin dijumpainya. Setidaknya untuk saat ini.


"Kau ... menerima lamaran Kenzo?" tanya cowok itu lalu memiliki raut wajah yang serius.


"Itu bukan urusan Anda" jawab Ambar lalu berjalan melewati cowok itu.


"Kau tidak boleh menerimanya!"


Ambar berhenti berjalan lalu menatap punggung cowok yng berkata akan menyatakan cinta pada Feli itu.


"Kenapa? Apa karena saya tidak layak untuk Kenzo?"


"Apa?"


"Anda selalu bilang kalau saya tidak sebanding dengan Feli. Saya lebih seperti teman laki-laki. Jadi, apa saya memang tidak layak bahkan untuk siapapun?"


Tidak tahu apa yang merasukinya, tapi Ambar kesal sekali pada cowok yang ada di depannya.


"Aku tidak pernah berkata seperti itu untuk ... "


"Iya. Saya tahu. Saya tidak secantik, setinggi, sekaya Feli atau Rea. Saya hanya memiliki toko kecil dan berasal dari keluarga yang miskin. Tapi saya tidak pernah meminta bantuan siapapun untuk hidup. bahkan dari orang tua saya sendiri. Jadi ...siapapun yang akan menjadi suami saya akan sangat bahagia. Saya juga akan sangat bahagia memiliki suami yang menganggap saya cantik. Karena saya ... perempuan, bukan laki-laki"

__ADS_1


kata Ambar lalu batal pergi ke pondok. Dia memilih menyusuri jalan setapak yang tadi dilaluinya untuk kembali ke mobil.


__ADS_2