Suami Akhiratku

Suami Akhiratku
Kepergian Sindi.


__ADS_3

Ruchan menyuruh Leah untuk wudhu dan sholat 2 rakaat, dan setelah salam, Ruchan menyuruh Leha untuk mengucap dua kalimat syahadat.


Dan mengajarkan doa buat Leah, karena tidak ada amalan untuk mengembalikan barang yang hilang di dunia ini, hanya kita perlu memohon dan berserah kepada Allah.


"Yahadi ya shola, Warodda solatardud 'alaiya dzolati bi'izdatika wasulto'ika wafadlika "


"Ya Allah, Dzat yang melimpahkan hidayah bagi orang yang sesat, yang mengembalikan barang yang hilang, Kembalikanlah barangku yang hilang dengan kuasa dan kekuasaan-Mu, Sesungguhnya barang itu adalah sebagian dari anugrah dan pemberian-Mu"


"Itu yang dulu sahabat Nabi panjatkan doanya, ya mungkin gak akan kembali lagi hal yang hilang itu, namun Allah akan menggantinya yang lebih baik dari hal yang hilang itu" Jelas Ruchan.


"Mama udah ikhlas kok, kan ada Abi juga, Abi pasti gak akan ninggalin Mama saat kayak gini kan? " Kata Leah.


"Abi malah suka dengan Mama yang apa adanya, tanpa harta Mama pun Abi malah lebih bersyukur, karena apa? Karena harta Abi adalah harta Mama juga, namun harta Mama tak pernah akan menjadi milik Abi, jadi akan dosa besar jika Abi hidup dari harta Mama, kecuali emmang Abi sudah tidak lagi mampu menafkahi Mama" Kata Ruchan.


"Pengen cendol Bi " Kata Leah tiba tiba.


"Hah? udah hilang sedihnya? kok tiba tiba pengen cendol? " Tanya Ruchan.

__ADS_1


"Anak Abi yang minta, sekalian yuk keluar ajak Ais jalan jalan" Kata Leah.


"Emang Mama punya uang? " Goda Ruchan.


"Abi, ngejek nih, iya sekarang Mama bangkrut, tapi kan masih ada uang Abi, Abi sendiri lho yang bilang, uang Abi ya uang Mama juga" Kata Leah.


"Yah salah deh" Kata Ruchan.


"Buruan, Mama sama Ais tunggu di depan ya" Kata Leah mencium pipi Ruchan dan keluar dengan senyuman.


Melihat senyuman Leah membuat Ruchan bahagia, setidaknya Leah sudah tidak sedih lagi akan hal yang tengah menimpanya.


Di Jepang, Sindi tengah kesakitan, usia kandungan yang telah memasuki usia 8 bulan dan waktu itu Sindi batuk parah, ketika Sindi hendak. memasak untuk Sandy, Sindi merasakan sakit yang amat sakit, di antara kakinya keluar cairan bening. Sindi pun panik dan menelfon ambulance rumah sakit di mana Sandy bekerja di sana.


Mendengar bahwa istrinya masuk rumah sakit, Sandy pun berbegas lari ke IGD menemui Sindi, di sana sudah banyak para Dokter kandungan dan para suster, karena sudah pecah ketuban sebelum waktunya, dan Sindi sudah pinsan, Sindi pun juga memiliki riwayat hipertensi, akhirnya di lakukanlah oprasi secar, karena memang sudah tidak ada jalan lain, agar bayinya tidak meminum air ketuban ibunya.


Sandy panik, resah, ia takut kehilangan keduannya, di tambah ia juga sedang bingung dengan situasi di kampung halamannya, dimana semua usaha yang Papanya bangun telah hancur semua, ia pun juga memikirkan keadaan Leah di sana.

__ADS_1


2 jam berlalu, Dokterpun belum juga keluar, menambah suasana hati Sandy semakin tidak karuan. Ia terus saja mondar mandir di depan ruang oprasi.


Dokter pun keluar.


Percakapan menggunakan bahasa Jepang..


"Dokter Sandy? " Panggil Dokter itu.


"Bagaimana Dok, anak dan istri saya? " Tanya Sandy.


"Selamat, bayi anda laki laki, sehat selamat, dan tidak kurang apapun" Kata Dokter.


"Lalu istri saya? " Tanya Sandy.


"Kami tidak bisa menyelamatkannya, pendarahan terus terjadi, dan dia menitip rekaman ini untuk anda, aku akan kirim ke wa mu ya, sekali lagi turut berduka" Kata Dokter itu.


Serasa petir menyambar, Bagaimana rasanya jika wanita yang baru saja melahirkan penerusnya harus meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.

__ADS_1


"Dokter Sandy, silahkan di adzani dulu, anda muslim kan? " Tanya suster.


Sandy pun masuk ke ruang oprasi dan mengadzani bayi mungilnya itu, wajah yang mirip dengan istrinya, kulit putih bersih seperti ibunya, ia melirik ke arah Sindi yang sudah tidak lagi bernyawa di sampingnya.


__ADS_2