
Suasana hati Ruchan menjadi kacau. Akbar masih kecil, seharusnya Umi Desi tidak sampai membawa- bawa masu lalu Akbar maupun setatusnya sebagai anak angkat dari Ruchan. Ruchan menemui Umi Desi dan meminta penjalasannya.
"Assallamualaikum " Salam Ruchan.
"Wa'alaikum sallam, eh Ruchan. Duduk nak, tumben kesini ada apa? " Basa basi Umi Desi.
"Ruchan mau tanya sesuatu sama Umi, apa yang telah Umi katakan kepada Akbar Mi? " Tanya Ruchan.
"Ngadu? Ck, Umi tuh hanya bilang sama Akbar, kalau jangan bertengkar sama Kabir. Akbar itu ngatur- ngatur Kabir. Masoh kecil saja, sifat dan perilakunya sangat buruk. Orang dia cuma Kakak angkatnya kok" Kata Umi Desi.
"Asatagfirullah hal'adzim.Tapi Umi, Akbar itu masih kecil, Umurnya baru 6 tahun jalan. Dan wajar aja lah Mi kalau Akbar merasa menjadi kakaknya Kabir, dia itu Kakaknya Kabir" Jelas Ruchan kesal.
"Dia anak angkat kamu kan? " Tanya Umi Desi
"Dia anak aku!!. Anak aku sama Leah, dan dia adik dari Aisyah, Kakak dari Kabir dan Syakir. Umi kurang jelas? " Tanya Ruchan.
"Tapi dia bukan darah daging kamu Han? " Kata Umi Desi.
"Dia memang bukan darah dagingku, tapi sedarah dengan istri dan anak anakku. Aku juga yang membesarkannya, belajar berjalan, bicara, sekolah dan mengaji dengan ku." Kata Ruchan beranjak dari duduknya.
"Tapi Han, kamu juga harus perhatikan anak kandungmu" Kata Umi Desi.
__ADS_1
"Soal anak-anak. Aku yakin aku sudah adil dengan mereka, Umi bisa lihat sendiri kan? Jika Umi tidak menyukai Akbar, menjauhlah jangan dekati atau bahkan menyinggung statusnya, Assallamualaikum " Kata Ruchan
" Wa'alaikum sallam" Jawab Umi Desi mengwrutkan dahinya.
Tidak sengaja, Leah mendengarkan pecakapan antara Umi Desi dan Ruchan, ia terharu dengan apa yang Ruchan ucapkan untuk Akbar.
"Assallamualaikum " SalamAkbar.
"Wa'alaikum sllam, Abi dari mana? Nih Abang buatin teh anget. Bikinan Mama tadi dah dingin" Kata Akbar.
"Emm pinternya anak Abi, sini Abi peluk. Makasih yaa" Kata Ruchan memeluk Akbar.
"Mama mana Bang? " Tanya Ruchan.
"Hati-hati ya baruh piringnya " Kata Akbar.
"Beres Abi" Teriak Akbar.
Leah buru buru pulang ke rumah, hari ini ia hanya ingin memeluk Ruchan. Berterima kasih atas ketulusan hati Ruchan yang dapat menerima anak Kakaknya seperti anak kandungnya sendiri.
"Assallamualaikum "
__ADS_1
"Wa....... alaikum sallam, ada apa ini? " Tanya Ruchan yang heran dengan Leah yang tiba tiba memeluknya.
"Sstt, biarin Mama kek gini dulu" Kata Leah menutup bibir Ruchan dengan telunjuknya.
"Ya nutupnya jangan di lobang hidung juga dong" Kata Ruchan.
"Terima kasih ya " Kata Leah.
"Buat? " Tanya Ruchan.
"Semuanya, termasuk buat Abang. Ketulusan Abang menerima Akbar itu yang membuat Mama semakin sayang sama Abi" Kata Leah.
"Itu kan udah tugas kita kan Ma? " Kata Ruchan.
"Ya kenapa gitu Abi mau? kan Akbar bukan anak kandung kita? Dia anak. kandung dari Kakak ipar Abi" Kata Leah.
"Mama ngomongnya jangan gitu ih, Sesuai tujuan kita di awalkan? Kita jauh jauh dari sini ke Jepang buat jadi orang tua dari Abang, biar bisa di bawa pulang. Terus dari situ, naman Abang masuk ke KK kita. Ya berarti Abang anak kita juga dong. Buat apa Abi beda bedain. Walaupun Abang punya bapak kandung, tapi Abi dan Mama kan yang besarin dia? Ya sama aja kalau kita ini orang tuannya. Sampai nanti di misah dari KK kita, nikah contoh nya" Jelas Ruchan.
"I love u" Kata Leah.
"I love u too " Balas Ruchan mencium kening Leah.
__ADS_1
Tak sengaja Akbar mendengar pengakuan Ruchan, ia sangat bersyukur memiliki Ayah angkat seperti Ruchan. Ia menahan air mata harunya.
"Abang sayang sama Abi. Abang bersyukur, di tempat lain, belum tentu anak seumuran Abang mendapatkan Abi angkat seperti Abi Ruchan. Abang harus bisa bikin Abi bangga. Bukan hanya Abi, Mama dan Papa Sandy pun akan Abang buat bangga. Bismillah " Gumam Akbar.