
Jenazah baru tiba, namun para pelayat sudah berdatangan, Ikhsan dan Ruchan memandikan jenazah Abinya, tak sengaja air mata Ruchan jatuh hanya setetes, dan Ikhsan menyentuh pundak Ruchan, menguatkan adiknya.
"Kamu boleh bersedih, tapi kamu tau kan, setetes air mata kita akan memberatkan ruh Abi pergi, Iklas Han, Mas juga merasa kehilangan Abi " Kata ikhsan sambil menyeka air mata Ruchan.
Dalam bayangan Ikhsan, ini sama seperti 26 tahun yang lalu, saat itu kerabat Uminya yang memandikan Umi Kandungnya, Ruchan masih berusia 16 jam waktu itu, Ikhsan menahan air matanya supaya tidak menetes, dengan halus dan lembut, Ruchan memandikan jenazah Abinya dengan membayangkan waktu kecil bersama sang Ayah.
Leah melihat ekspresi wajah sedih Ruchan tak bisa menahan air mata, ia mengerti perasaanya, kehilangan sosok Ayah yang begitu di kasihinya adalah hal terberat bagi seorang anak.
"Ini semua gara gara kamu, kalau kamu gak membongkar semuanya karen, suamiku tak seperti ini, dasar kamu pembawa sial.. " Kata Umi yang tiba tiba menarik hijab Leah, Leah kaget karena Umi tanpa basa basi memarahinya.
Ingin sekali Leah menjawabnya, namun ini bukan situasi dan tempat yang baik, ada banyak orang di situ, bukan hanya para santri, bahkan banyak warga dari luar Pesantren yang datang.
__ADS_1
Terpaksa Leah hanya diam saja, dalam benaknya, ada masanya untuk membalas semua itu, kali ini Umi membuat keributan,ia terus saja memaki maki Leah. Hingga yang seharusnya menjadi rahasia Pesantren, kini orang luar harus tau sifat asli Umi yang penuh amarah.
Ini bukan toleransi lagi, Umi benar benar mempermalukan Leah dan dirinya sendiri. Farhan tak tahan melihat perlakuan Umi ke Leah pun mengutus santriwati lain untuk membawa Umi masuk ke dalam.
"Awas kamu Leah, aku akan membuatmu kehilangan orang yang kau sayangi juga " Teriak Umi yang di sedang di bawa masuk oleh santriwati lain dan Sindi.
Semua orang luar mulai berbisik mengenai tak akurnya mertua dan menantu di Pesantren ini.
"Ini semua gara gara kalian bertiga, sok jadi pahlawan ha? kalian tidak ada apa apa nya dibandingkan aku!! hahaha " Kata Umi teriak teriak.
"Umi sudah, Sindi !! kamu ini memang tak tau terima kasih yoo, udah mondok geratis, tau diri donk!! " Bentak Linda.
__ADS_1
Sindi kali ini tidak. bisa membantah perkataan Linda, benar kalau Sindi mondok geratis di Pesantren Darussallam. Itu semua karena Umi mengenal Ibu Sindi dan Ibunya juga alumni pondok.
"Kalian mau bicara apa lagi, kalian menabur api neraka buat Abi? Umi !! Leah tau Umi marah sama Leah, tapi kan ini semua juga pemicunya Umi, kalau Umi gak main main sama Leah, Umi gak bakalan masuk pejara " Kata Leah.
"Pergi kamu !! Pergi !! " Teriak Umi.
Leah menarik Sindi keluar meninggalkan Umi dan Linda di dalam, Leah hanya tidak mau berdebat dengan Umi di situasi seperti ini, sama aja akan menambah siksa Kyai Mahfud di sana.
Pemandian dan mengkafani sudah selesai, kini saatnya menyolatkan jenazah, karena sebentar lagi sudah memasuki adzan dzuhur, dan jenazah harus segera di makamkan.
Sebelum jenazah di bawa ke tempat peristirahatan terakhir, Iksan memulai dulu sambutan sambutan dan permintaan maaf jika ada salah Abinya yang di sengaja ataupun tidak sengaja, dan Ikhsan juga membahas hutang pihutang, jika Abinya ada hutang, maka bisa menemui Ikhsan atau Ruchan langsung, hutang akan segera di lunasi.
__ADS_1
Sambutan berakhir dan jenazah di bawa ke makam, Leah, Vina dan Sindi tidak ikut karena mereka harus mengurus bayi mereka, yang sekarang sedang bersama Glenca dan Amara.