
Tok Tok Tok
Suara seseorang mengetuk pintu di kamar Leah. Ternyata Ibu Tirinya yang memanggil, dia menyampaikan kalau keluarga Ruchan telah datang, walau terlambat.
Malam itu hujan sangat deras, bahkan suara orang tahlilan pun terdengar samar-samar, Leah yang sedari tadi berdiam diri di sofa ruang keluarga duduk termenung sambil menatapi foto Papa dan Mama nya sedang hancur, sedih, marah menjadi satu.
Hari hari berganti,
Malam ini 7 hari Pak Arman telah pergi meninggalkan Leah, Leah masih saja belum terima, entah apa yang membuat Leah merasa kehilangan pun tidak tau. Hanya dalam benaknya, Papa nya ada cinta pertama dalam hidupnya, Leah ingat betul ucapan Papa nya saat di pernikahan Leah, Leah melihat air mata yang tulus dari mata Papa nya itu.
Ruchan dan kelurga nya pamit malam itu, karena pesantren sudah di tinggal oleh mereka selama seminggu. Saat semua sudah pulang, Ruchan yang masih menemani Leah itu tiba-tiba menerima telfon, bahwa malam berikutnya ada Tausiyah yang tidak bisa di tinggalkan.
"Mas, kalau Mas mau berangkat, ya berangkat aja. Itukan memang sudah pekerjaan Mas Ruchan, aku nggak papa kok di tinggal, di sini juga masih ada Kak Sandy juga kan? " tutur Leah dengan halus.
"Tapi Dek..." Ruchan memandangi istrinya dengan heran.
__ADS_1
"Tunggu !! kok Adek kelihatan pucet gini sih, Adek nggak papa kan? " Tanya Ruchan panik.
"Adek nggak papa kok Mas, tenang aja. Setelah Tausiyah, Mas bisa langsung pulang ke pesantren, mungkin seminggu lagi Adek pulang ke pesantren. Adek mau di sini ngurus hal yang perlu di urus," ucap Leah.
"Ya sudah, nanti Mas jemput ya, " Kata Ruchan.
"Mas jemput Adek di bandara saja, nanti dari sini sampai bandara Jogja, Adek di antar sama Kak Sandy, sekalian Kak Sandy pulang ke Singapura." Kata Leah.
"Yakin? Kalau gitu Mas tinggal dulu ya, takutnya keburu larut malam, besok kan acara Tausiyahnya. " Kata Ruchan.
Ruchan mencium kening Leah, dan setelah itu pamitan kepada semua orang untuk melakukan perjalanan sucinya.
Di Pesantren,
"Assallamualaikum Ruchan, " Salam Umi Desi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Umi, ada apa Umi, kok tiba-tiba datang ke sini?" Tanya Ruchan.
"Ada hal penting yang mau Umi sampaikan ke kamu, " Jawab Umi Desi.
Ruchan pun memepersilahkan Uminya untuk duduk.
"Ruchan, langsung saja ya. Kamu ini punya istri, tapi seperti tidak punya istri, kamu di sini, istrimu di sana, apa kamu tidak akan ada niatan untuk menikah lagi? Agar suatu saat nanti jika Leah sibuk di Jakarta, di rumah kamu ada yang ngurus, nikahin Linda misalnya." Seketika ucapan Umi Desi membuat Ruchan terkejut.
"Astaghfirullah hal'adzim Umi, aku sama sekali tidak pernah ada niatan ingin poligami Umi, satu-satunya wanita yang ingin aku ajak ke jalan syurga Allah hanyalah Leah, tidak ada yang lain!!" ucap Ruchan sedikit kesal.
"Ruchan!! kurang Linda apa coba, kalian tumbuh bersama, tentu kau mengetahui sifat Linda, dia sholihah, pintar mengaji, jaga diri, jaga aurat, sedangkan Leah? Ya dia memang cantik, anggun, tapi dia sama sekali belum bisa memberimu keturunan!!" Kata Umi. (nge gas)
"Cukup Umi !! jangan karena istri mas Ikhsan sudah mengandung, lalu Umi merasa Leah tidak bisa berikan aku keturunan. Itu salah besar Umi, kita sudah priksa satu sama lain ke Dokter, dan hasilnya kami normal-normal saja. Hanya Allah yang belum memberi kami rezeki itu!!" Ruchan sudah kehilangan kesabaran.
"Tapi Ruchan, jika kamu menikahi Linda, dia akan cepat memberi mu keturunan, " Kata Umi memaksa.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Leah Umi, dia cinta pertama dan terakhirku, hanya dia yang akan aku jadikan pendamping hidupku, bahkan hanya dia yang bisa menjadi ibu dari anak anakku nanti, kalaupun dia tidak bisa memberiku keturunan, itu tidak masalah buatku!!" Kata Ruchan tegas.
Ternyata Leah sudah pulang dan mendengar perdebatan antara Umidan Ruchan, Leah tak menyangka jika Uminya yang ia kenal sangat baik dan kalem, bisa berkata seperti itu. Apa tujuannya ingin menikahkan Linda dengan Ruchan, dan dia sama-sama perempuan korban poligami juga, kenapa setega itu. Dan Leah pun tak menduga, ternyata seperti itu sifat aslinya, Leah yang di temani Sindi pun meminta Sindi untuk pulang ke kamarnya.