Suami Akhiratku

Suami Akhiratku
Kembali.


__ADS_3

Sang mentari bersinar terik, sinarnya menembus celah celah kamar Ruchan dan Leah pagi itu.


"Astagfirullah hal'adzim, Ya Allah Ma, kita gak subuhan. Jam berapa ini?" Kata Ruchan panik.


"Yah, jam setengah delapan Bi. Penerbangan jam 9 lho" Kata Leah.


Ruchan dan Leah buru buru memakai pakaian mereka dan cepat cepat keluar dari kamar itu, karena kamar itu tidak ada kamar mandinya.


Di depan kamar yang mereka untuk tidur, ternyata sudah ada Sandy, Farhan, Glenca dan Amara. Sandy sangat malu sekali, ia belum pernah bangun sampai sesiang itu.


"Ini pengantin baru. Baru aja bangun. Jam berapa ini? " Tanya Sandy.


"Biasa, bak dunia milik mereka berdua hahaha" Ejek Farhan.


"Berapa ronde tuh, sampai jam segini. Tuh anak anak dah nunggu. Gih buruan mandi" Kata Glenca.


Leah dan Ruchan pun bergegas mandi. Betapa malu nya mereka, bangun tidur di depan kamar sudah ada orang yang menunggunya. Di tambah lagi bangun sesiang itu. Dan anak anak sudah tanya dimana Abi dan Mamanya.


"Malu Mama Bi. " Kata Leah sambil memakai hijab, setrlah selesai mandi.


"Apa lagi Abi, hufft Mama sih" Kata Ruchan.


"Kok Mama sih, Abi yang nambah terus, jadi Mama kecapekan. Bangun kesiangan deh" Kata Leah tak mau kalah.


"Abi dah siap, tunggu di bawah yaa. Assallamualaikum " Kata Ruchan mengecup kening Leah.

__ADS_1


"Wa'alaikum sallam " .


Semua siap berangkat pulang ke Jogja, kecuali Glenca. Ia akan terbang ke Taiwan untuk bekerja di sana. Mereka berpisah di bandara. Drama Delia pun di mulai. Namun Aisyah membujuknya agar mau tinggal bersama nya di Jogja.


Aisyah memang anak tertua di anatara Akbar, Si kembar, Delia dan Seto. Aisyah memerankan sosok Kakak sangat baik. Ia bisa membimbing adik adiknya menjadi adik yang berbakti kepada Allah dan orang tua mereka. Walaupun masih ada yang di sebut Kakak lagi di Jogja. Yakni Ilham, anak Ikhsan.


Setelah drama Delia, kini Delia pun mau ikut dengan Aisyah pulang ke Jogja.


🌾🌾🌾🌾🌾


Jogja.


"Alhamdulillah, udah sampai Jogja. Kakak mau langsung atau mampir dulu?? " Tanya Leah.


"Kakak langsung aja ya. Akbar!! Sini nak!? " Kata Sandy memanggil Akbar.


"Papa berangkat dulu ya. Abang jangan nakal, nurut apa kata Abi sama Mama Leah ya. Assallamualaikum " Kata Sandy pamitan kepada Akbar.


"Wa'alaikum sallam"


Akbar mencium tangan Sandy, dan memberi semangat kepada Sandy. Akbar mungkin anak usia 6 tahun, namun ia sangatlah bisa berfikiran dewasa. Tidak cengeng, bahakan bisa menjadi panutan untuk Kabir dan Syakir.


Terlihat Ikhsan sudah menjemput mereka.


"Aisyah, Abang, Kembar!!" Teriak Ilham memanggil saudarannya.

__ADS_1


"Eh itu Mas Ilham, Ma itu Pak dhe" Kata Aisyah.


Di perjalanan pulang, Ilham di kenalkan dengan Delia dan Seto. Mereka menceritaka. keseruan saat mereka berlibur ke Jakarta. Wajah Ilham sangat bahagia bertemu dengan para saudaranya.


Nampak juga Delia dan Seto mulai membiasakan diri dengan anak anak Leah. Pelan tapi pasti Delia dan Seto akan tumbuh menjadi anak yang solih dan solihah, seperti yang Glenca inginkan.


"Oh ya Bang, Syakir dengar Abang punya Kakak perempuan ya?" Tanya Syakir.


"Yang bener Bang? " Tanya Kabir.


"Cerita dong?? " Pinta Delia.


"Hufft, Allhamdulillah saudara Abang nambah satu lagi, namanya Clara, usianya sekitar 9 tahunan. Dia anak Papa Sandy juga" Kata Akbar sedih.


"Loh kok Abang sedih sih, Harusnya bahagia dong. Kepada saudara kita semua harus akur yaa, jangan sampai ada pertengkaran. Itu sangat di benci sama Allah. Abang gak mau di benci sama Allah kan?? " Hibur Farhan.


"Gak kok Pak Lek, Abang terima Kak Clara kok. Tapi Kak Claranya yang gak mau anggap Abang adiknya" Kata Akbar.


"Gak papa Bang. Kan masih ada Kakak yang bisa Abang panggil dengan sebutan Kakak, ada Mas Ilham juga yang bisa Abang panggil dengan sebutan Mas" Hibur Aisyah.


"Ada kabir sama Syakir juga Kak" Kata Kabir nimbrung.


"Kami gak di anggap? " Tanua Seto.


"Kalian juga saudara kami kok" Kata Aisyah.

__ADS_1


Anak anak itu pun saling berpelukan, indahnya pemandangan akur mereka. Walau Kabir adalah biang kerok, namun Kabir yang selalu menghiasi tawa antara persaudaraan itu.


__ADS_2