
Pemakaman sudah selesai, Leah tak bisa lama lama berada di pemakaman, Kata orang tua, bayi yang belum berusia 2 tahun lebih belum boleh berlama lama di pemakaman, bahkan memang ada yang boleh di bawa ke pemakaman.
Leah dan Ruchan segera pulang, mandi dan pergi ke Jepang untuk mengurus keperluan agar bisa membawa pulang anaknya Sandy.
(Aslinya lama banget ya sahabat pembaca, ngurus newborn yang lahir di luar negri mau di bawa pulang ke tanah air kita, dan itu dulu menunggu sampai anaknya umur 6 bulan, namun author singkat aja ya biar cepet)
Akhirnya cuma butuh waktu 3 hari Leah bisa membawa pulang keponakannya itu, sedangkan Sandy masih berada di Jogja menemani Ais, dan tentunya masih bersedih.
Ketika Leah mengambil bayi itu, Leah kaget, ternyata Sandy telah memberinya naman yang begitu islami, setahu Leah, nama itu pernah di sebut oleh Sindi saat ia hendak mau menikah dulu.
"Akbar Maulana Putra Handika"
Baby Akbar sangat anteng dalam gendongan Leah, Ruchan juga sangat bahagia melihat semua itu. Perjalanan tidaklah singkat, jauh menempuh antara Jepang dan Jogja membuat Leah sakit punggung, benar juga. ia sedang hamil 4 bulan jalan.
✳✳✳✳✳
Sampai juga mereka di Jogja, tetlihat Farhan sudag membawa poster yang bertulis "Welcome Boloku( temanku) "
"Assallamualaikum "
"Wa'alaikum sallam"
__ADS_1
"Tak lihat wajah anakknya Sindi sama Mas Sandy, wah irunge mblesek( hidunya pesek) kayak punya Sindi ya" Kata Farhan.
"Hey Ustad, yang kamu bicarakan itu adalah ponakankku" Kata Leah.
"Kalian berdua ini, ya udah ayo buru buru kita pulang, aku dah kangen sama Ais ee " Kata Ruchan.
"O iyo, kemaren Ais baru sembuh dari bapil, tapi pinter banget Ais gak rewel, bahkan maemnya aja hemm " Kata Farhan menunjukan 2 jempolnya.
"Apa, ya udah ayo buruan Bi kita pulang, Mama khawatir sama Ais" Kata Leah panik.
"Kelakuanmu, Leah jadi panik gitu " Kata Ruchan.
"Lhah aku jujur lho Han? " Kata Farhan membawa koper Leah.
Hari ini perjalanan serasa jauh, macet dan panas, namun baby Akbar anteng dalam pangkuan Ruchan, karena mendengar sholawat Ruchan, Baby Akbar pun tak rewel sepanjang perjalanan.
Akhirnya sampai juga di Pesantren. Di rumah, Sandy sudah menunggu kedatanggan anaknya, di sana juga sudah ada keluarga Sindi, Ikhsan dan Arifin pun juga di sana, terlihat Ais tersenyum lepas melihat kepulangan kedua orang tuanya.
"Abi " Panggil Ais yang masih belum jelas berbicara.
"Wah lihat itu siapa?? Kakak nya Ais ya, Kakak kecil" Kata Sandy.
__ADS_1
"Assallamualaikum "
"Wa'alaikum sallam"
"Pin tulung Pin, aku ra kuat iki, wonge loro kopere limo,(Pin tolong Pin, aku gak kuat, orangnya dua kopernya Lima) Astaghfirulloh hal'adzim, Allahu Akbar " Kata Farhan kepada Arifin.
"Manjane anak lanang " Ejek Arifin.
Semua orang tertawa dengan tingkah laku Farhan, Arifin pun membantu Farhan membawa koper, Sandy pun melihat koper warna hijau, koper itu milik almahrum istrinya (Sindi).
"Le, itu? " Tanya Sandy.
"Iya Kak, itu milik Mamanya Akbar, sengaja aku bawa pulang, dan semua barang kecuali foto di rumah Kakak, jangan protes, ini waktunya Kakak tetap harus melangkah menjalani hidup demi Akbar, " Kata Leah.
"Maaf ya Mbok, bukan maksud Leah nyuruh Kak Sandy melupakan Mama nya Akbar, tapi... " Kata Leah terpotong.
"Itu yang seharusnya di lakukan kok Nduk, Sandy memang harus maju, untuk masa depan Akbar, kan Leah sama Ustad Ruchan butuh transferan juga karena merawat Akbar" Kata Ibu Sindi dengan senyuman.
"Nah bener tuh Mbok, Leah juga butuh transferan hahaha " Kata Leah.
Semua orang tertawa lepas hari itu, bahagia menyambut Baby Akbar penuh suka cita, namun tentu saja tidak akan pernah melupakan atas kepergian Sindi.
__ADS_1
Kehidupan tidak akan terhenti saat orang yang kita kasihi telah tiada, kehidupan kita yang masih di dunia tetap akan berjalan sampai kematian menjemput kita. Maju dan bangkit lah untuk seseorang yang sudah mendahului kita, kirim doa buat mereka, mereka pun pasti bahagia melihat kita baik baik saja di dunia.