Suami Akhiratku

Suami Akhiratku
Bab. 168 And


__ADS_3

"Bi?" panggil Leah memegang bahu Ruchan.


Kemudian, Ruchan pun menoleh ke arah istrinya dengan menghela napas panjang. Leah sendiri tak berani bertanya, ia takut jika pertanyaannya menambah beban pikiran suami tercintanya itu.


"Kenapa cobaan selalu menimpa kita ya, Ma?" bisik Ruchan merebahkan kepalanya di bahu istrinya.


"Abi ... 'kan Abi sendiri yang sering bilang. Allah itu sayang sama kita, Allah memiliki hadiah untuk kita. Maka dari itu, Allah memberi ujian kepada kita. Kita harus kuat dong mengahadapi ujian dari Allah, agar dapat hadiah itu, Bi. Abi lupa sering bilang seperti itu?" itu cara Leah menghibur suasana hati suaminya.


"Soal kekayaan itu ...," ucapan Ruchan terhenti.


"Abi tersinggung?" tanya Leah. "Jika iya, Mama nggak bermaksud menyinggung, Abi. Tapi cuma mau gertak Umi aja, Bi, serius. Maafin Mama, ya?" ucap Leah mencium tangan suaminya dan menggenggamnya.


Ruchan tersenyum, kemudian mencium kening Leah. Sebab, dengan mencium kening istrinya, akan membuat orang yang dicium atau yang menciumnya akan merasa tenang dalam hatinya.


"Anak-anak belum pulang?" tanya Ruchan kemudian.


"Abi sendiri, kenapa balik lagi?" tanya Leah kembali.


"Hehe, Abi mau ngambil dompet tadi. Eh, nggak taunya ... sampai depan rumah, Abi dengar percakapan Mama dengan Umi," ungkap Ruchan dengan nada lembut.


"Semuanya?" tanya Leah lagi.


"Iya lah! Masa sebagian," jawab Ruchan.

__ADS_1


"Terus?" sahut Leah.


"Abi menyesal mengusir Umi. Bagaimana pun juga, dialah yang merawat Abi hingga besar. Namun, itu hukuman yang pantas untuk Umi. Dengan dia pergi dari sini, mental Akbar tetap akan terkontrol. Abi lihat, gara-gara semua ini ... Akbar menjadi anak yang pendiam sekarang," terang Ruchan.


"Iya juga, sih," gumam Leah membenarkan ucapan suaminya.


Ruchan membelai pipi istrinya dengan lembut. "Abi mau ke TPQ aja lah. Nanti ba'da isyak Abi baru pulang. Sekalian mau ngobrol sama Mas Ikhsan dulu tentang masalah Umi," pamit Ruchan.


"Ya sudah sana Abi segera berangkat. Tapi, jangan lupa sekalian aja bilang ke anak-anak, suruh mereka ikut tadarusan di sana. Dari pada di rumah, nyusahin Mama, biar Mama istirahat otak sejenak hehehe boleh?" celetuk Leah dengan manja.


"Jangan stres-stres ya, Sayang. Nanti cepat tua duluan dari Abi, loh," goda Ruchan menyentil hidung istrinya. "Katanya mau tua bareng sama Abi. Kita lihat anak-anak tumbuh besar, terus kita punya cucu deh!" lanjutnya.


Keduanya saling tertawa. Humor mereka benar-benar receh sekali, hanya dengan candaan sederhana bisa membuat keduanya bahagia. "Ih, Abi! Mikirnya udah jauh banget dah. Awas tikungan?" goda Leah kembali.


Melihat suaminya tertawa lepas seperti itu, itu suatu hal yang berharga bagi seorang istri. Melihat senyumnya membuat Leah semakin ingin hidup lebih lama dengan Ruchan.


🍃🍃🍃🍃🍃


Hari berlalu sangat cepat. Bulan demi bulan pun berganti, tahun demi tahun juga telah di lewati. Masalah demi masalah telah selesai satu persatu.


Hidup rumah tangga Ruchan dan Leah semakin harmonis dan lebih baik. Cobaan demi cobaan telah mereka lalui bersama. Cinta mereka semakin lama semakin tumbuh. Ada kalanya mereka bertengkar dan berselisih, namun mereka tetap bertahan demi cinta mereka dan keluarga.


Dengan kesabaran dan ketulusan Ruchan, kesetiaan dan ketabahan Leah, kini badai itu telah berlalu, pergi jauh dari kehidupan keluarga Ruchan.

__ADS_1


Melihat dan menyaksikan anak tumbuh dewasa, didikan dan ajaran Ruchan membuat anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang solih dan solehah. Tuntunan Ruchan kepada Leah juga tidak terhenti ketika anak-anak mereka hadir. Yang sebenarnya, itulah awal Ruchan menjadi panutan untuk keluarga, anak dan para santrinya.


Arifin dan Intan pun juga memiliki seorang putri di Singapura sana, karena mereka juga jarang pulang ke pesantren. Kehidupan anak-anak Glenca dan Amara juga semakin membaik.


Sandy masih nyaman dengan kehidupan menjadi duda nya, ia tak juga meninggalkan kewajiban haknya menafkahi Clara (anak Sandy dengan Irene) dan tentunya juga tak lupa dengan Akbar. Walaupun Clara anak Sandy dengan Irene, itu tidak membuat Sandy terpikat lagi oleh Irene, cukup ia tak melupakan tanggung jawabnya menjadi seorang ayah.


Akbar pun juga sudah menerima Clara sebagai kakaknya.


Kini Aisyah telah tumbuh menjadi gadis yang sangat lemah lembut, wajah dan kepribadiannya mirip dengan Ruchan, jiwa seorang Kakak turun dari Sandy, dan jiwa keberaniannya turun dari Leah.


Ia mampu menjadi Kakak yang baik untuk Akbar, Kabir dan Syakir. Mereka juga tumbuh menjadi sosok duplikat Ruchan, terutama Akbar dan Syakir. Cita- citannya menjadi seorang pendakwah telah mereka rintis sejak masih kecil, mereka sering ikut Ruchan dan Farhan tausiyah kemanapun mereka pergi.


Kabir sifatnya sama seperti Leah, ia tak pantang menyerah dalam melakukan apapun, ia juga berkeinginan untuk mengurus peternakan dan perkebunan milik keluarga dari pihak Leah. Namun ia lebih memilih menjadi seorang perwira demi membela tanah air.


Ilham, anak Ikhsan dan Vina pun juga menjadi sangat berwibawa, walau usian mereka masih belasan tahun. Mereka hidup rukun tanpa sering melakukan perselisihan, sewajarnya mereka seorang anak sering membuat kesalahan kepada orang tua, namun mereka tetaplah putra dan putri pesantren yang harus menjadi panutan untuk semua orang.


TAMAT.


Hay Kakak kakak, jika kalian ingin membaca kisah Aisyah dan Akbar remaja, yuk kunjungi novel baru aku " Gambaran Hati"


Jangan lupa juga kunjungi "Hubbak Ghali Ya Habibu Qolbi" .. Aku tunggu jejak kalian di sana yaa... 😊😊😊😊😊


NB: Akan up ketika author dalam waktu luang. 😊

__ADS_1


__ADS_2