Suami Akhiratku

Suami Akhiratku
Bab. 167


__ADS_3

"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Kabir dan Syakir bersamaan.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Leah dan Ruchan panik.


Kabir dan Syakir terkejut melihat Abi dan Mamanya berpelukan. Begitupun dengan Leah dan Ruchan, yang langsung melepas pelukan mereka. Mereka berempat menjadi canggung, seketika seolah terdengar suara jangkrik di keheningan itu.


Krikk krikk krikkk...


"Ini permainan apa, ya?" tanya Kabir dengan polosnya.


"Mungkin permainan pelukan. Bukan begitu ya Abi?" sahut Syakir.


"Em ... itu, iya hehehe. Abi pamit dulu ya, sudah telat nih!" pamit Ruchan gugup.


"Assallamu'alaikum, anak-anak" ucap Ruchan segera berangkat karena malu kepergok putra kembarnya ketika sedang berpelukan dengan Leah.


"Ma, Abi kenapa? Mukanya merah seperti kepiting rebus. Kayak Syakir yang batal puasa karena ketahuan minun juga, hahaha ...," celetuk Kabir.


"Ndak lucu!" seru Syakir dengan wajah datar.

__ADS_1


Sore hari, Umi Desi datang ke rumah Leah untuk membicarakan masalah Akbar. Untung saja anak-anak sedang ikut TPQ sore, jadi apa yang Umi Desi katakan kepada Leah tidak mereka dengar.


"Assallamu'alaikum" salam Umi Desi.


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Leah, Le?" teriak Umi Desi.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Umi. Kok, teriak-teriak, sih?" sambut Leah.


"Dimana Ruchan?" tanya Umi.


"Mas Ruchan, sedang keluar, Mi. Ada apa, ya cari Mas Ruchan?"


Tentu saja pernyataan itu membuat Leah heran. "Maksud Umi apa? Seenaknya, bagaimana, ya?" tanya Leah bingung.


"Anak orang suruh ngerawat anak Umi. Biaya juga nambah kali, Le. Kamu harus sadar dong! Dia juga masih punya Bapak. Kasih ke Bapaknya sana! Seenaknya aja, mau bikinnya nggak mau merawat. Alasannya cuma Ibunya udah gak ada lah, wasiat Ibunya lah. Suruh Sandy nikah lagi. Agar dia punya Ibu sambung," ucap Umi Desi dengan ketus.


Leah baru saja bisa berpikir dengan apa yang dimaksud Umi Desi itu adalah hak asuh Akbar. "Sebentar ya, Mi," ucap Leah masuk ke kamar dan membawa sesuatu.


"Ini lihat, Umi gak usah khawatir. Akbar punya tabungan sendiri, kok. Dan selama ini kami membesarkan Akbar dengan hasil uang keluarga Handika 50% dan uang milik Mas Ruchan 50%. Jadi, Umi tidak usah risau tentang masalah keuangan, ya--" jelas Leah menunjukkan buku tabungan milik Akbar yang tiap bulan di kirim oleh Sandy.

__ADS_1


"Tetap saja anak-anak Ruchan jadi kekurangan, 'kan? Kasih sayang kalian juga terbagi, 'kan?" Umi Desi masih saja ngotot.


"Umi dengar, ya. Sebenarnya Leah nggak mau ngomongin ini, malu. Tapi asal Umi tau aja, di bandingkan dengan kekayaan pesantren dan kekayaan keluargaku. Itu lebih tinggi kekayaan keluarga ku di bandingkan keluarga pesantren. Punya kami hanya di bagi berdua, dan itu kadang Kak Sandy gak mau, dan otomatis hasil usaha masuk semua ke rekeningku. Sedangkan milik pesantren? Harus di bagi menjadi 3 bukan? Mas Ruchan juga masih ke sana sini cari uang? Tapi aku sama Mas Ruchan tak pernah mempermasalahkan itu. Jadi kenapa Umi yang bukan ahli waris pesantren jadi sok gini ya, ku pikir Umi memang sudah berubah. Ternyata sama aja, ular berkepala dua!" terang Leah dengan emosi.


"Lancang kamu ya!" bentak Umi Desi mengangkat tangannya. Namun, sebelum Umi Desi bisa menampar Leah, Ruchan telah menahan tangan Umi Desi lebih dulu.


"Ruchan, kamu di sini? Kamu dengar sendiri kan, Nak? Istri kami ini sedang menghina Umi. Mana ada menantu menghina mertuanya seperti ini. Ayo Ruchan, kasih tau kepada istrimu, apa adab menantu kepada mertuanya," Umi Desi masih saja berkelit dan membela diri.


"Sekali lagi Ruchan melihat Umi mengangkat tangan kepada istri, Ruchan. Dengan berat hati, silahkan Umi keluar dari pesantren ini. Mas Ikhsan pun pasti juga tidak peduli lagi, Umi!" tegas Ruchan.


"Ruchan! Apa yang kamu katakan? Umi yang membesarkanmu, Nak? Kenapa kamu sekasar ini sama Umi. Cuma gara-gara wanita sombong ini?" teriak Umi Desi merasa sakit hati.


"Umi yang buat Ruchan seperti ini. Berkali-kali Ruchan katakan, 'kan? Jangan pernah ungkit masalah tentang Akbar, Ruchan tidak suka dengan sebutan Umi memanggilnya anak angkat. Jika memang Umi tidak suka dengan Akbar, silahkan pergi dari pesantren ini. Assallamu'alaikum!" Ruchan bahkan menyatukan tangannya dan kemudian menunjukan pintu untuk Umi Desi keluar.


"Tega kamu sama Umi Han, durhaka kamu!" Umi Desi tidak terima dengan perlakuan Ruchan.


"Astaghfirullah hal'adzim,"


Leah ke dapur dan memberi Ruchan air putih. Terlihat Ruchan sangat marah sekali, Ruchan telah mendengar percakapan diantara istri dan Ibunya kalau itu. Leah merasa bersalah karena mengungkit kekayaan antara mereka. Namun Leah tau, jika Ruchan pasti tidak marah karena itu ada hal lain yang membuatnya marah kali ini.

__ADS_1


__ADS_2