Suami Akhiratku

Suami Akhiratku
Kecurigaan


__ADS_3

Sindi tidak ingin meninggalkan Leah dengan suasana seperti itu. Merasakan sudah seperti saudara kandung sendiri. "Le, kamu ndak papa, 'kan?


Leah hanya tersenyum sedikit dan kembali murung. Leah kagum kepada ketulusan Ruchan, tapi bagaimana dengan Umi-nya yang terus menghantui pikirannya. Statusnya adalah Ibunya, walau Ibu sambung, Ruchan pasti tetap akan mematuhinya. Masih bertanya, mengapa Linda yang harus di sandingkan dengan Ruchan.


Leah mulai mencurigai hubungan Linda dan Umi Desi. Baginya, memang hubungan keduanya seperti tidak hubungan antara santri dan gurunya. "Mengapa harus Linda yang di jadikan penggantiku?" gumam Leah dalam hati.


"Sindi, bisakah aku minta nanya, nggak?" ucap Leah.


"Boleh, Le. Kamu mau nanya apa memangnya?" tanya Sindi.


"Ada hubungan apa antara Linda dengan Umi? Kenapa Umi ingin sekali Linda menggantikan posisiku sebagai istri Mas Ruchan? Dan ekspresi wajah Umi itu--" ucapan Leah terhenti.


"Rahasia itu, hanya Ibuku yang tau, Le," jawab Sindi. "Um, bagaimana jika besok aku antar kamu menemui Ibuku. Sekarang lebih baik kamu istirahat, bukankah tadi bilang perut kamu nggak enak dan kepala kamu pusing, 'kan? " imbuh Sindi.


"Iya, Sin. Entah kenapa minggu-minggu belakangan ini, aku merasa tidak enak badan. Apa mungkin, aku telat makan karena Papaku yang baru saja meninggal, ya?" ungkap Leah mengusap perutnya.

__ADS_1


"Ya sudah yuk. Lebih baik aku antar kamu ke rumah. Lihat, sepertinya Umi sama Ustad Ruchan sudah tidak lagi berdebat, kita harus pura-pura tidak mendengar percakapan mereka tadi, oke?" Sindi dan Leah berjalan dengan lambat, dan berpura-pura bercanda, agar Umi Desi tidak mencurigainya.


"Assallamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Lho Dek, sejak kapan kamu pulang? Kok, nggak ngabarin Mas dulu, sih?" sambut Ruchan.


"Ah ini si Sindi sama Ustad Arifin tadi katanya habis beli martabak di Alun Alun. Tidak sengaja aja ketemu, sekalian deh bareng. Ini Adek beli juga buat kita, dan ini buat Umi sama Abi, dan yang ini buat Mas Ikhsan dan Mbak Vina," Leah sambil menatap Umi Desi penuh dengan tanda tanya dengan kata yang tidak jelas juga.


"Ya udah kalau gitu saya juga permisi, ya Ustad. Le, istirahat yang cukup. Ustad tolong ya, tadi udah hampir pingsan Leahnya. Assallamu'alaikum," pamit Sindi.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Setelah Umi Desi dan Sindi pulang, Ruchan baru menanyakan keadaan Leah yang tadinya hampir mau pingsan. Membuat Ruchan khawatir dan panik sendiri.

__ADS_1


"Ya Allah, Dek. Kamu hampir pingsan? Ayo buruan masuk, biar Mas yang siapin makanan untuk kamu," ujar Ruchan membawa barang barang milik Leah.


"Apaan dah! Adek nggak papa, kok. Paling cuma masih kecapekan waktu ngurus ngurus berkas Papa kemaren. Tapi ya memang pusing banget, sih. Perutku juga nggak enak banget, mungkin kembung juga," nada bicara Leah mulai manja.


Saat makan, Ruchan pun heran melihat Leah yang sangat lahap makan martabak keju. Padahal meski Leah anak orang mampu, dia tidak suka keju, maupun di campur apa aja Leah tetap tidak suka keju, menciumnya saja tidak mau. Dan kali itu Leah benar benar melahap banyak martabak kejunya.


"Dek, setahu Mas, kamu kan nggak suka keju. Kok, ini hampir habis di makan kamu sendiri, ya?" tanya Ruchan heran.


"Eh, ndak tau juga, sih. Yah, hampir habis pula! Nih, buat Mas aja!"


"Kok, jadi Mas. Kamu saja yang makan, Mas suka lihat kamu makan dengan lahap gitu. Lha, terus ini ayam kecapnya gimana? Ini kan kesukaan kamu, Dek?" timpal Ruchan.


"Ih, nggak mau ah! Ini aja, enak!" jawab Leah memilih makan martabak keju dengan lahap.


Ruchan masih ingat kata kata Uminya tadi. Bisa-bisanya Uminya menyuruh Ruchan berpoligami, dan itu pun dengan Linda. Sedangkan Ruchan telah menganggap Linda seperti adik sendiri, karena mereka tumbuh besar bersama di Pesantren.

__ADS_1


__ADS_2