Suami Settingan

Suami Settingan
Ancaman Jen


__ADS_3

“Kau ini berisik sekali! Ganggu orang mau buat minum saja!” Jen meraih satu cangkir wedang dan menyerahkannya pada Darren, “awas kalau masih suka perhatian sama cewek! Ini ...,” ia menahan cangkir yang sudah dipegang Darren, hingga membuat pria itu merepet waspada. “akan bercampur racun serangga!”


Darren melebarkan mata, sepersekian detik ia lupa cara bernapas dengan benar. Mengerikan sekali ancaman wanita ini. “I-iya ... gak lagi-lagi, deh ... tapi dia ‘kan saudaramu. Masa juga termasuk ce ... wek ... la ... in ....”


Darren mengerjap dengan cepat ketika Jen kembali mengecamnya melalui sorot matanya. “I-iya deh ... semua


cewek, termasuk Dinka dan mama ... oke, semuanya, yah!” kata Darren dengan pasrah ketika Jen tak juga menyurutkan kecamannya, meski bibir Jen mengerucut meniup wedang tersebut.


Darren tertawa kikuk dan salah tingkah mendapatkan ancaman  sebesar dan seekstrem itu. Lalu ia menyeruput wedang yang masih mengepulkan asap tersebut. Hemph ... Darren kembali membeliakkan matanya, ketika ia merasakan lidahnya terbakar. Mau menyemburkannya takut kalau Jen akan salah paham lagi padanya.


“Kenapa?” suara dingin dan tajam membelai telinganya. Nah, ‘kan? Baru juga membatin, sudah terbaca saja apa yang ditakutkannya. “ngga enak?”


Darren menelan wedang yang langsung membakar tenggorokannya. Ia menyengir pilu. “Panas, Yang ....”


Jen menahan tawanya hingga pipinya sakit, melihat wajah Darren yang memerah dan meringis ketika menelan cairan coklat muda nyaris kuning tersebut.


“Apanya yang lucu?” Darren merengut dan melangkah ke samping Jen, meraih wadah gula pasir dan mengambil sejumput gula, lalu menaburkannya ke bekas terbakar di lidahnya. “Sengaja, ya?”


“Ih, mana ada? Namanya juga air mendidih langsung dari atas api ... ya, panaslah. Makanya hati-hati, perhatikan apa yang masuk ke mulut kamu.” Jen menggelengkan kepala, lalu meletakkan cangkirnya.


“Air dingin?” Jen bersiap membuka pintu kulkas, tetapi Darren menggelengkan kepala.


“Ini saja cukup ....” Darren bergumam sebab ia sibuk mengulum butiran gula tersebut di dalam mulutnya.

__ADS_1


“Maaf ...!” cicit Jen akhirnya. Melihat Darren tampak kepayahan dan sesekali mendesis, ia tak tega juga.


“Sudah sampai seperti ini, dan kamu hanya minta maaf saja?” Darren mencium aroma kesengajaan dari raut wajah Jen. “Tanggung jawab!” Ia menegaskan suaranya. Dan itu berhasil membuat Jen berjengit takut.


Perlahan Jen menggeser tubuhnya mendekati Darren, “aku beneran gak sengaja. Lagian ‘kan kamu yang gak hati-hati, kenapa jadi aku yang salah,” gerutu Jen yang sudah berdiri di depan Darren. “aku harus apa?”


“Cium aku ...!”


Jen mundur sedikit dengan kedua alis terangkat, “Jangan gila! Ini gak separah dan seberat itu, ya ... jadi gak usah minta macam-macam, atau mau aku—“


Jen membola, Darren telah terlebih dahulu menyambar irisan bibir bawahnya. Menyesapnya lembut. “Biar aku saja yang menghukummu ... karena kau pintar sekali mengelak.” Darren meremas bahu Jen dengan lembut, lalu tersenyum. “Apa kau masih belum terbiasa juga dengan semua ini?” Ia mengusap pipi Jen hingga ke telinga.


Jen menunduk dan mengerjap malu. “Ini hanya terlalu tiba-tiba ... aku tidak siap.”


***


Darren menggeliat dengan perasaan yang ringan dan hampa. Rasanya kehangatan semalam telah lenyap. “Mana dia?” gumamnya sembari mengucek mata. Ia sadar kalau Jen pasti sudah meninggalkannnya sendirian. Istrinya itu pasti tidak akan tahan untuk tidak memperhatikan kucing muka penyok yang semalam penuh ditinggal di dekat ruang cuci.


Darren beranjak bangun dan segera menunaikan kewajibannya, meski kantuk masih menggelayuti matanya, hingga tak sampai lima belas kemudian, ia sudah mencari keberadaan Jen. Wanita itu sedang memasak ikan yang baunya seperti sarden.


“Hai ... sudah bangun?” ia menoleh dan tersenyum ke arah Darren yang melangkah lebar-lebar ke arahnya. “Apa bumbu yang aku tumis mengganggu hidungmu?”


“Ngga juga ....” Darren mengcup ujung bibir Jen sekilas, “masak apa? Kelihatannya enak ....” ia melihat potongan ikan yang sudah larut dalam saus sambal berwarna merah cerah yang meletup-letup dan harum ini.

__ADS_1


“Lagi bikin makanan yang beda aja, kemarin Vaya bawa masakan ikan kaya gini, jadi aku minta resepnya. Kebetulan masih ada ikan di kulkas, jadi langsung eksekusi saja.” Wajah cerah Jen telihat lain dari biasanya. Senyumnya sangat murah terkembang, rona-rona merah bersemu di tulang pipinya.


“Apa ada yang membuatmu bahagia hari ini ...?” Darren tak tahan untuk tidak memeluk istrinya itu, menyisihkan


helai-helai rambut yang menghalangi bibirnya untuk mengecupi tanda stroberi di leher Jen.


Jen melipat bibirnya, “apa harus dikatakan juga?” batin Jen dengan wajah memanas. Semalam, ciuman mereka berakhir dengan di sisihkannya wedang yang akhirnya terbuang percuma. Dapur menjadi sangat panas membara dengan udara dua orang yang sedang berpetualang dan menjelajah, lalu permulaan yang begitu bergairah itu berakhir di atas peraduan.


“Masakanku gosong, Yang ....” Jen bergumam lirih. Namun masih jelas didengar Darren, hingga pria itu menghembuskan udara di leher Jen.


“Kamu akan terbiasa nanti ... bahkan setiap tempat di rumah ini hanya akan kamu ingat sebagai tempat paling romantis di muka bumi.”


“Gombal ....” lagi-lagi wajah Jen dipenuhi semburat merah yang merambat hingga telinga, sensasi panasnya bahkan memblokir suara Myung yang mulai tidak kerasan di dalam sangkarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Dua bab done, ya, gais🤭


__ADS_2