Suami Settingan

Suami Settingan
Ingin Piknik Lagi


__ADS_3

"Din ...," panggil Darren di muka pintu kamar adiknya yang bisa dipastikan masih molor.


Dinka mengangkat wajahnya dari bantal yang sudah cekung akibat tertimpa kepalanya. "Apa? Dikira masih ngorok?" Ia membalas satu panggilan kakaknya dengan berondongan kekesalan. Biasanya itu yang diteriakkan jika pagi-pagi kakaknya datang ke kamarnya. Malas meladeni, Dinka kembali menenggelamkan kepalanya di bantal. Memejamkan matanya lagi.


"Galak banget, sih! Udah kaya di suruh angkat dosa orang sekampung aja!" Ia membawa tubuhnya masuk tanpa dipersilakan. Darren datang tanpa persiapan, ia hanya kesini tanpa tahu bagaimana mengatakan tujuannya pada adiknya tersebut, sehingga ketika di dalam bilik Dinka yang ia lakukan hanya memutari ruangan ini dengan pandangannya.


Seperti diingatkan, Dinka kembali membuka mata dan duduk bersikap pada Kakaknya.


"Kakak dan istri kakak itu yang membuatku tak bisa tidur! Apa sih yang kalian lakukan semalam sampe Nek Ita minta aku buat diem dan nguping kalian? Hampir subuh aku belum tidur gara-gara permintaan aneh nenekmu itu!" sembur Dinka meluapkan kekesalannya.


Darren menahan napasnya. Apa mereka dengar? Batin Darren sambil menelisik wajah Dinka, sementara wajahnya sendiri terasa panas. Wajah Dinka hanya melukiskan kekesalan sehingga ia yakin kalau Dinka tidak dengar apapun semalam.


"Salah sendiri mau aja di suruh denger orang ngorok!" Tangan Darren menyapu turun wajah Dinka yang langsung merengut kesal dan mendecak.


Semalam, Nenek Ita meminta Dinka untuk tidak membuat suara dan memasang kuping dengan tajam. Katanya, akan ada gempa dan tembak-tembakan dari arah kamar Darren. Dinka hingga terkantuk-kantuk terpaksa mengikuti, meski ketika Darren mengetuk pintu kamarnya, ia masih terjaga dan setia membaca novel 'Terjerat Daster Janda'. Ia tak menjawab sebab dilarang oleh Nek Ita.


Darren mengalihkan wajahnya yang agak salting pada meja belajar Dinka, matanya jatuh pada buku-buku pelajaran Dinka, ia mengambil satu buku tebal dengan sampul merah muda. Sebuah novel terbitan baru.


"Kutembak Dengan Bismillah." Mata Darren melebar membaca judul tersebut, lalu batinnya menggumamkan 'astaga' secara berulang.


"Bukan belajar malah baca novel kamu, Din? Kaya udah lebih aja hidupmu, beli buku beginian segala!" komentarnya ketika tumpukan buku itu bukanlah buku pelajaran, tetapi tumpukan novel.


Dinka melebarkan matanya, selebar-lebarnya. Melompat ke samping Darren dan merampas novel 'berbahaya' yang ia baca ketika ia lelah dengan pelajaran dan tugas dari dosennya. Lagian 'kan sudah dewasa, daripada nanti nikah gak tau apa-apa, alasan hatinya untuk membenarkan perbuatannya.


"Wah-wah ...," Darren menganggukkan kepalanya, biji matanya menyudut dan bibirnya bermain penuh ancaman. "... mama perlu tahu ini!"


"Kakak ... plis Kak! Jangan!" Dinka menarik tangan Darren yang sudah menoleh ke arah pintu, bibir kakaknya itu sudah terbuka bersiap meneriakkan aduan.


Darren menoleh, "Kenapa jangan?" Darren seolah tak peduli, kembali ia arahkan kepalanya ke arah pintu dan telapak tangannya menempel di sebelah bibir, seolah itu akan membuat suaranya terdengar kencang.


Dinka panik, matanya membulat, napasnya berhenti, "Kakak jangan! Kumohon, Kak ...! Dinka janji akan bersikap baik sama Kakak asal Kakak tidak mengadu sama mama!" pinta Dinka sambil merendahkan tubuh di sisi kakaknya. Seperti monyet gelayutan.


Darren menoleh dramatis, "Bener?" tanyanya meragu. "Tapi kakak ngga percaya, tuh!"


"Kakak ...!" Dinka menarik tangan Darren hingga tubuh kakaknya memutar kepadanya. "Kakak minta apa aja bakal Dinka turutin, deh! Janji!" Dua jari Dinka mengacung penuh perdamaian. Swear, demi kelangsungan candunya pada novel dan komik, jika tidak ... ogah banget.


Bibir Darren mencibir hebat, itu tidak seperti Dinka yang biasa. Pasti ada alasan kenapa ia rela merendahkan diri padanya.


"Tapi kalau minta, yang gak pakai uang, ya ... tongpis, nih," gerutunya menghiba. "Bahkan bokek!"


Darren ingin tertawa. Jelas saja kantongnya tipis, apa Dinka pikir ia tak tahu harga buku-buku itu? Dasar anak bandel, bukannya ditabung buat jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendesak, eh malah dibuat beli buku novel. Darren menghela napas, ia tak bisa banyak berkata-kata, seusia Dinka pasti mudah tergoda dengan hal-hal seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah. Kakak akan diam, jika kamu pinjemin Kak Jen baju sama pakaian dalaammu! Tapi pakaian dalaamnya yang masih baru! Ada?" todongnya tanpa babibu.


Dinka menimbang sejenak. Ada. Dinka punya beberapa pasang underwear baru, tapi itu stoknya untuk beberapa bulan kedepan. Terlebih itu untuk Jen, ish ... ogah be-ge-te!


"Eh ... Dinka nanti gak bisa beli lagi, Kak ... 'kan uangnya udah kupakai beli itu." ujarnya sambil menunjuk beberapa novel di meja belajar dengan isyarat mata.


"Baiklah, mama akan tau semua ini!" ujar Darren sambil mengendikkan kedua pundaknya.


Dinka panik, dan menahan tangan kakaknya. "Baiklah, baik ... satu saja," tegasnya penuh peringatan.


"Deal ...!" Ia membulatkan kedua jemarinya. Masih tegak berdiri di tempatnya, Darren melihat Dinka berdecak dan tampak tak rela. Tapi apa pedulinya, asal apa yang Jen mau ada dan hidupnya tenang, aman, dan sentosa.


"Ini saja, ya ... ini sudah paling layak dan paling besar yang aku punya." Dinka mengulurkan apa yang Darren inginkan.


Menerimanya dengan senang, Darren mengguncang pakaian itu di samping tubuhnya. "Mungkin hanya tinggi badannya saja yang beda sama kamu, Kaki Pendek!"


Selain itu memang semuanya sesuai dengan ukuran tangan Darren! Eh!


"Makasih, Dekek Saiyang!" Darren menipiskan bibir seraya mengacak rambut kacau milik Dinka.


"Gosah sok sayang!" Tangannya menampar lengan Darren. "Baik cuma pas ada maunya! Dasar Kakak Modus!" kesalnya.


Darren abaikan saja ocehan Dinka, ia tergelak menanggapi semua itu, lantas ia kembali ke kamar dan menyerahkan baju itu ke Jen.


"Spreinya mana, biar ku cuci." Jen menerima handuk dari tangan Darren.


"Gak usah lah, lagian cuma basah sedikit, nanti aku cuci di bawah saja. Malah aku berniat gak bakal nyuci tuh sprei, Jen ... berarti banget buatku—au!" Darren mengusap kepalanya yang pengang sampai ke telinga. Sakit


Tangan Jen menimpa kepala Darren dengan keras.


Itu lagi-itu lagi, apa laki gak ada bahan omongan yang lain?


Mata Jen mendelik dan bibirnya merapat, lalu ia kembali memukul Darren lebih keras.


"Sakit Jen ...," keluh Darren sambil menangkis tangan Jen. Ketika berhasil, ia meraihnya hingga menabrak tubuh Darren, ia sematkan sebuah kecupan lama di atas bibir kekasih hatinya. "Makasih buat semalam, Sayangku!"


Jen kembali meronta, tetapi wajahnya menunduk menahan semu kemerahan di pipinya. "Jangan ungkit lagi atau kutendang Elmo-mu!"


Terlepas, Jen segera berlari ke kamar mandi. Jantungnya sudah berlompatan kesana kemari, hingga Jen mengungkungnya di bawah kedua tangannya. Ia menyandarkan diri di balik pintu kamar mandi. "Darren gila ...! Sayang?"


Hal yang ia pikir mustahil, kini bergema di seluruh penjuru hatinya. Ya Tuhan, apa ini?

__ADS_1


Jen segera membasahi tubuhnya, ia tak mau Darren mengontaminasi tubuhnya berlebihan. Tapi sentuhan itu ... indah sekali. Jen menjerit, kesal sekali pada dirinya sendiri. Sentuhan itu membuatnya melayang. Ya Tuhan, murahan sekali aku ini, gada perasaan kok mau aja dibegitukan!


***


"Darren ... bajunya Dinka kependekan! Lihat jadi kaya pake baju kurang bahan!" keluh Jen di depan cermin. Ia menatap Darren dari pantulan cermin. Cowok yang aslinya ganteng tetapi Jen selalu menganggapnya ngga ganteng itu membalas tatapan istrinya penuh makna.


Ya, jika dulu Darren menunduk, kini ia malah senang sekali melihat bagian-bagian tubuh istrinya itu terlihat. Darren usai menjalankan kewajiban subuhnya yang sudah sangat terlambat, masih memakai sarung dan baju kokonya, berdiri dengan tangan bersilang di dada.


"Aku pinjamkan baju mama aja, gimana?" Darren berlama-lama di atas celana yang jadi seperti hot pants, kaosnya kesempitan dan mempertontonkan bentuk indah dadaa Jen yang membuat tangan Darren jadi gatal. Ingin piknik kesana lagi—eh!


Jen menimbang sejenak, "Boleh deh! Sebenarnya, sih aku mau nelpon orang rumah, tapi masih pagi banget, takutnya masih pada sibuk."


"Oke ... tunggu bentar, ya ...!" Darren melipat bagian depan sarung dan mengangkatnya agar mempercepat lajunya.


"Sama hairdryer, yah ...," susulnya lirih ketika Darren hampir meninggalkan pintu. Ketika Darren menoleh, Jen menunduk sambil mereemas-remaas ujung bajunya.


Darren melihat rambut Jen yang masih basah, tentu ia akan jadi pusat perhatian di meja makan nanti apalagi ada saudara lain yang ikut tinggal. "Oke ...." Darren tersenyum saja sambil berlalu mencari mamanya.


***


"Satu koper dah Mas Agus anter ke rumah mertuamu, Jen ... tunggu aja, bentar lagi juga sampai!" Naja tersenyum lebar, padahal ia masih mengepak keperluan Jen dalam sebuah koper. Ia ingat jika Jen tidak membawa apa-apa saat kesana, jadi pagi ini, saat Cio sama neneknya, Naja segera mengepak kebutuhan adik iparnya tersebut. Kebetulan sekali Jen tengah menghubunginya.


"Makasih, ya, Na ... aku telpon Ranu gak dijawab semalam."


"Sama-sama, udah ya ... aku mau ngurus Cio. Kamu baik-baik, ya, di sana." Naja mengangsurkan gagang koper ke tangan Agus yang sejak tadi berdiri diambang pintu.


"Oke ...."


Naja mematikan ponselnya. "Mas, tolong cepat, ya ... kasian Jen."


"Kenapa kamu bilang kalau aku sudah otewe, Na ... bisa-bisa Jen marah nanti!"


Naja menyengirkan senyumnya, "biar dia gak parno."


"Ada-ada saja, kamu ini, Na ...," ujar Agus sambil menggelengkan kepala. Dua orang itu seperti tak pernah kehabisan cara untuk saling menyenangkan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2