Suami Settingan

Suami Settingan
Myung The Hero


__ADS_3

"Sayang ...."


Jen menoleh, lalu bangkit dengan senyumnya yang terkembang sempurna.


"Udah malem, kenapa masih di situ aja, sih, kamu! Bandel banget ... perlu berapa kali aku bilang, jangan urusin kucing itu terus-terusan. Cukup kasih makan, air, dan pasirnya ganti sekali sehari aja."


"Iya, ini juga baru sekali aku ganti ... dan pakan Myung juga udah abis. Tadi kamu aku telpon kenapa ngga di jawab, sih?" Jen merengut saat ia melangkah menuju Darren dengan tangan terulur ke depan.


"Eh, mau apa, kamu?" Darren menampik udara di depannya dan mundur selangkah, Jen masih berjarak dua puluh senti darinya, tapi Darren sudah bergidik tak karuan melihat apa yang akan dilakukan Jen padanya. Ya, meski biasanya Darren akan berdehem mengingatkan Jen kalau ia sampai lupa menyambutnya, kini seolah dia lupa akan semua itu. Tangan Jen saat ini sangat layak untuk dihindari.


Sungguh menjijikkan, apalagi jika dia ingat Jen baru saja memasukkan kotak pasir ke dalam keranjang Myung dengan tangan telanjang. Ih!


Jen berhenti, bibirnya mengerucut, "Kan mau nyambut kamu pulang, tar kamu omelin aku kalau gak cium tanganmu." Kecewa dan bingung menghiasi wajah wanita itu.


"Iya, tapi kamu baru saja memegang pasir itu tanpa sarung tangan. Kamu jorok sekali, sih!" Darren mendelik, jijik. Tangannya sibuk mengibaskan udara di depannya, seakan Jen sudah mengontaminasi udara sekitar mereka dengan kuman jahat.


Jen menaikkan kedua tangannya, memandangi dengan membolak-balik telapak tangannya tersebut. Senyum jahil seketika muncul di bibirnya saat sebuah ide gila melintas.


"Ih, aku gak kotor kok, ini tadi cuma megang wadahnya doang, gak kena pasirnya. Sumpah! Nih, masih bersih, nih ...." Jen maju dengan tangan menjulur panjang handak menjangkau Darren, tetapi pria itu mundur dengan perasaan ngeri.

__ADS_1


"Plis, Sayang ... Jen, jangan main-main! Kamu segera cuci tangan sana ... kotor itu. Nanti kamu malah sakit kena virus dari kucing."


"Enggak, tanganku bau sabun cuci piring kok ...." Ia mengendus tangannya sendiri lalu mengulurkan kembali pada Darren yang sudah merepet di dekat pintu dan sudah setengah berbalik badan. Jen tersenyum yang ditahan-tahan.


"No-no, Jen ... jauh-jauh dariku sebelum mandi sampe gak ada bau kucing itu!" Ia mendelik dari Jen ke Myung dengan cepat.


"Lu bikin rusuh aja, Cing ...," serunya kesal. Ia beralih ke Jen lagi. "Mandi ...!"


Sama kotoran Myung aja takut, dasar suamiku!


Jen tertawa akhirnya. "Abang, aku kangen ... pengen peluk, kok malah marah, sih ...." Ia berjalan cepat menuju Darren yang langsung mengambil langkah seribu.


"Jen, jangan main-main! Aku beneran marah ini!" Ia berbalik ketika tangannya menyentuh gagang pintu. Benar, Darren tampak marah dan Jen langsung berhenti, tetapi tawanya masih keras terdengar. Padahal dia berniat menggerakkan jemarinya seperti tangan hantu yang siap mencekik. Namun, ia urung melakukan, takut nanti suaminya itu beneran marah.


"Eh, jangan, Bang ... Myung baik, kok! Kenapa sampe gitu banget, sih?" gerutu Jen sambil menunduk dan bibirnya mengerucut kesal.


"Iya, deh ... iya, nih aku bakal mandi! Bukain pintunya, ambilkan aku handuk!" Jen akhirnya melangkah lebar dan kasar menghentakkan kakinya. Tepat ketika posisinya dengan Darren sejajar, Jen melirik tajam nyaris mampu merobek apa saja yang diterabasnya.


"Awas kalau sampai kamu deket-deket sama aku! Bakal aku tularin kuman di tangan aku ke kamu!" Ia memandang turun, dimana objek penularan kuman darinya akan merambat.

__ADS_1


Darren membulatkan matanya mendengar ancaman Jen. Ia siap mengajukan banding dengan menyanggah pernyataan Jen, tetapi Jen kadung masuk ke kamar. Bukan begitu juga maksudnya, dia hanya ingin Jen lebih menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya saja. Darren meminta Jen memakai sarung tangan dan masker selama membersihkan kandang kucing itu.


Seminggu sudah Myung, orang tuanya telah kembali, hanya Dinka masih ingin liburan di sana lebih lama. Kehadiran kucing itu sendiri sebenarnya membawa manfaat yang luar biasa sebab mereka banyak sekali melakukan pendekatan dan sering berbincang meski hanya soal pakan kucing, pasir yang enak beraroma apa, dan berdebat akan keinginan Jen yang ingin Myung tidur di kamar, sementara Darren menolak. Myung juga secara tidak sengaja menjadi penghibur bagi Jen yang kini kerap tertawa melihat tingkah kucing gendut itu.


Darren sebenarnya tidak membenci kucing, dia cukup menerima kehadiran makhluk itu di rumahnya dulu dan kini. Namun, jika sampai harus mengurus dengan detail seperti sekarang, dia akan berpikir seribu kali sebelum melakukannya.


Heh! Tidak semudah itu Ferguso! Enak saja!


"Abang ... masukin Myung ke dalam, kayaknya di luar hujan!"


"Iya ...," jawabnya sedikit menoleh ke dalam kamar. Lalu dengan langkah ringan, ia berjalan ke bagian belakang rumah dimana kucing pesek itu sedang rebahan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2