
"Apa?" Jen mengerutkan wajahnya dengan senyuman tertahan. Sejak kembali dari mengantarkan keluarga besarnya, Darren duduk di depannya, memandanginya tanpa mengucapkan sepatah kata. Ada rasa senang dan juga rasa bersalah tergambar di sana. Jen sedikit takut dan canggung dengan tatapan suaminya itu. Apa, sih?
Darren mengubah posisinya demi menyamarkan helaan napas yang begitu berat. "Aku minta maaf atas nama Dinka ...." Ia mengambil tangan Jen dan menciuminya. "Tanganmu jadi terluka karena sikap brutalnya ...," kata Darren tulus.
Jen tertawa mendecih, apaan, sih? Seperti ini seolah apa yang dilakukan Darren tadi—menampar Dinka, sungguh ia sesali. Seperti terpaksa, sebenarnya. Jen menolak berpikir, Darren hanya ingin terlihat membelanya saja. "beneran Myung mati?" ia memastikan bahwa dirinya layak untuk diperlakukan tidak baik oleh adik iparnya. Entahlah, rasanya apa yang dilakukannya untuk Dinka, terasa sia-sia jika akhirnya Myung mati di dalam asuhannya, ditangannya.
"Tidak tau juga, aku belum bertanya sama mama dan papa." Darren berkata lirih. "Tapi itu keterlaluan juga jika hanya soal kucing dia sampai begitu memperlakukanmu." Jen menahan senyum, melihat Darren sepertinya benar-benar tidak suka dengan sikap adiknya barusan. Hatinya bergerak dengan penuh gairah.
Namun, sesaat kemudian Jen kembali sendu, "jika benaran mati 'kan, matinya saat bersamaku, jadi wajar kalau dia marah ...," kata Jen lirih dan hampir menangis.
Darren seperti tak memercayai apa yang barusan didengarnya, "kau masih merasa bersalah atas kematian kucing itu, sementara dia hampir membun—"
Darren menarik ucapannya yang menggelegar penuh amarah. Bisa-bisanya dia masih berpikir seperti itu ....
"Hampir apa, Ren?" Jen memasang baik-baik pendengarannya. Ia tak sedang bermimpi atau melamun ketiika Darren seperti hampir kelepasan bicara tentang membunuh. Ya, itu pasti membunuh!
Darren membuang napasnya kasar, lalu duduk kembali dan memeluk istrinya itu dengan perasaan pilu dari samping. "tidak apa-apa, Myung hampir saja membunuh burung milik tetangga, dan kita diomeli karena pemilik burung itu berpikir kalau Myung milik kita, makanya dia marahnya ke kita ...," dusta Darren.
"Myung nakal kalau begitu ...." Tawa Jen kembali terdengar, "hei, sayang ... kamu kalau udah lahir jangan nakal ya, sepertinya, kita diwarisi gen nakal yang sangat banyak dari orang-orang terdahulu kita ...," Jen mengusap perutnya yang masih rata. Terasa sekali kalau wanita itu sedang tersenyum bahagia, Darren merasakan benar semua itu dari getaran suara istrinya tersebut.
"Gak nyangka ya, Ren, dia bakal tumbuh secepat ini di perutku," kata Jen sedikit di ragukan maksudnya oleh Darren. "Maksudku, dia hadir begitu cepat, padahal aku belum tau bagaimana jadi ibu yang baik. Aku belum berpikir sejauh itu."
__ADS_1
Jen menoleh sedikit demi melihat bagaimana ekspresi Darren ketika mendengar perkataannya barusan. Ia takut Darren salah paham ketika pria itu terdiam beberapa saat lamanya.
"Kau 'kan yang secara tidak sengaja memintanya hadir ...," tuduh Daren semakin mengeratkan pelukannya di atas perut Jen.
Jen menepuk pelan tangan Darren yang melingkari perutnya, "kapan aku minta?"
Darren berdecak, "pura-pura lupa lagi ... apa perlu aku ingatkan satu-satu, kapan kamu minta gak boleh di—hemp."
Perkataan Darren terputus tatkala tangan Jen membungkam mulutnya.
Sorot mata Jen terlihat mengancam. "Seharusnya kamu tegas dong ... buruan ambil punyamu sebelum tumpah sembarangan ...," sungutnya dengan bibir mengerucut.
Darren seketika menjadi kesal, ia menurunkan tangan Jen dari mulutnya dan menahan tangan yang meronta itu di udara. Mendorong tubuh Jen hingga rubuh di atas ranjang. "Itu bukan sembarangan! Dan, aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika tangan dan kakimu ini kurang ajar sekali mengekangku ... aku sudah berulang kali menawarkan padamu, tapi kau menolak aku mengambil milikku."
Jen membolakan matanya, dia seperti tersiram semen beberapa saat. "Darren ... kau ini mesum sekali!" Jen akhirnya mendapatkan suaranya kembali, dia sungguh-sungguh merona dengan perkataan suaminya barusan. Ya Tuhan ... itu benar sekali! Eh ...!
Tangannya mendorong dada suaminya perlahan, sebab ia masih ingat kedua tangannya sedang mendapatkan beban. Namun, tetap saja, ia meringis sebab tangan kirinya terasa ngilu. "Auu ...."
"Eh, maaf-maaf ....!" Darren segera bangkit dan meniup punggung tangan Jen dan mengusapnya perlahan.
"Udah, aku gak papa, kok, kaya anak kecil saja pakai ditiup segala,"kata Jen malu sembari menarik tangannya dari genggaman Darren.
__ADS_1
Darren tersenyum, "ngga usah malu begitu, aku senang melakukannya, setidaknya itu meringankan, aku tau kamu sebentar lagi akan kepayahan dengan bayi itu di dalam perutmu."
"Benarkah?" Jen meyipit tidak percaya, Darren mengetahui begitu banyak tentang kehamilan dari pada dia. "Sok tau, kamu ...."
"Ya, taulah ... banyak kok temen sekelasku yang mengeluhkan susahnya hamil itu di grup chat kelas."
"Diam-diam kamu ikut rumpi juga ya, sama emak-emak di grup kelasmu." Jen mencebikkan bibirnya.
"Itu ilmu yang gratis, Yang ... dan berguna juga kan buatku."
Darren menaikkan kedua alisnya dengan senyum tertahan. "Dasar sukanya yang gratisan." Kedua orang itu tertawa kecil ketika Darren dengan sadar segera membenahi posisi tidur Jen agar rebah dengan nyaman.
"Kira-kira sebesar apa ya, dia sekarang? Aku sungguh penasaran," tanyanya sembari meminta Darren tidur di sebelahnya.
"Mungkin sebesar jempol kamu ...," jawab Darren asal dan itu berhasil membuat kening Jen menerbitkan kerutan kecil. "Sudah jangan dipikirkan lagi. Tidurlah, kau pasti lelah." Darren menempatkan tangannya di bawah kepala Jen, lalu melingkarlam tamgan lainnya di pinggang hingga mengusap perut Jen. Seandainya bisa mengulang waktu, dia akan tegas melarang Jen merawat Myung, makan makanan mentah, menjaga kebersihan, dan memeriksakan diri lebih awal. Ah, semua ini karena ketidaktahuannya.
.
.
.
__ADS_1
.