
Dan, dugaan ketiga orang itu memang tak pernah meleset menyangkut reaksi mamanya. Wanita kesayangan mereka memekik dengan air mata dan sedu yang tak pernah meninggalkan bibirnya, sejak mata coklat
itu menangkap bayangan Jeje masuk ke dalam sudut pandangnya. Memeluk, menciumi seluruh wajah Jeje nyaris tak menyisakan satu jengkal saja yang terlewat. Menangkup, memalingkan kepala putranya seolah ia belum memercayai kalau yang ada di depannya adalah anaknya.
Benarkah ini kamu, Nak? Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut yang sesekali meringis untuk menahan laju air matanya, rasa haru, dan terkadang tersisip rasa malu akan sikapnya yang terlalu berlebihan. Lalu gumaman mencibir serta decakan dari Jen yang terlihat malas menanggapi reaksi mamanya tersebut, terdengar. Wanita itu dan suaminya memilih untuk mengambil kursi sebagai tempat duduk, dimana, mamanya telah mempersiapkan segala menu makan siang yang spesial. Harris sendiri memilih menghela napas dan membiarkan wanita yang begitu ia cintai larut dalam suasana haru yang berlebihan. Ia memilih segera menyusul anak perempuannya menikmati makan siang yang sudah sangat terlambat.
Excel datang tak lama setelah Jeje duduk dan menikmati menu yang baru saja ia dapatkan. Setiap anak di sini
mempunyai menu makanan kesukaan yang berbeda-beda, tetapi restoran Kira juga tidak akan kerepotan menyiapkan semua menu itu sekalipun itu sangat mendadak.
Jen terlihat sangat lahap menikmati makanannya, ada nasi bakar yang telah ia koyak dari bentuknya yang bulat dan memanjang. Dan ya, semua ini sangat lezat dan melelehkan rasa lapar yang sejak tadi mengekang lidahnya. Entahlah, Jen menjadi sangat sensitif pada satu hal yang mebuatnya cemas. Sepagian tadi dia sudah seperti orang yang sedang menunggu vonis dokter bahwa ia menderita penyakit kronis yang tidak ada obatnya. Mungkin Tanna saja tidak segugup Jen.
“Pa ....” Jen menyela keluarganya yang tampak larut menikmati makan siang kali ini. “Apa benar kalau orang tua
Tanna itu bangkrut?” sambungnya setelah seluruh penghuni meja makan bundar ini menoleh padanya.
Harris menyesap air putih sebelum menjawab Jen dan semua yang terlihat juga ingin tahu apa yang sebnarnya
terjadi. Kecuali Excel tentu saja semua orang di sini tidak tahu secara mendetail, lebih tepatnya tidak mau mencari tahu.
“Kalau Jen jadi Tanna—melihat kekayaan orang tua Tanna, apa Jen akan percaya begitu saja?” Harris sampai memiringkan kepalanya ketika bertanya, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Kira yang juga mengajukan pertanyaan yang sama dengan Jen, kemarin lalu. Kira memang tidak terlalu ambil peduli pada hal yang bukan menjadi urusannya, jadi daripada sibuk kepo dengan urusan orang mending ia menggunakan waktunya untuk
mengurus anak-anak dan cucunya.
Jen ragu sejenak, tentu ia tidak akan percaya begitu saja, meski papanya tidak sekaya orang tua Tanna, tetapi melihat kemampuan papanya, bangkrut itu mungkin adalah hal terakhir yang ia pikirkan. Ia menggeleng, “kalau Jen ngga akan percaya begitu saja, sih, Pa ... apalagi kalau pemimpinnya adalah Papa, aku rasa orang-orang yang tidak menyukai Papa pasti memakai jasa jinnya Bandung Bondowoso, baru bisa bikin papa bangkrut ....”
Jeje nyaris tersedak dan buru-buru mengguyur tenggorokannya dengan air putih agar kembali lega. “Ada-ada saja, kamu ini Jen ... mana ada yang seperti itu?” Diakhiri dengan sebuah decakan yang nyaris bersamaan dengan gelengan cepat dari kepala pria itu.
__ADS_1
Yang lain hanya tersenyum kecil dan terus melanjutkan makannya. Bagi mereka, Jen selalu luar biasa mengumpamakan sesuatu yang mustahil. Jen sendiri berpikir, meski ia tak mengetahui dengan pasti papanya bekerja, tetapi melihat bagaimana dia menyelesaikan masalah, rasanya hanya dengan bantuan makhluk tak kasat mata saja cara menumbangkan seorang Harris Dirgantara.
Harris tertawa kecil, “Papa hanya manusia biasa, Nak, jika Tuhan berkehendak, pasti semua ini akan sirna dalam sekejap.” Ia mengatakan hal itu sambil menyapukan pandangannya pada yang lain, seolah mengatakan di dunia ini ada yang lebih berkuasa dan tidak boleh meninggikan diri sendiri.
“Akan tetapi, dalam kasus Tanna, ini hanya menunjukkan bagaimana renggang dan kurangnya perhatian diantara mereka. Sebagai orang tua, mencari nafkah itu hukumnya wajib, tapi orang tua Tanna seharusnya tidak harus bekerja sekeras itu jika hanya soal materi, apalagi sampai mengorbankan anak-anak mereka. Anak itu butuh kasih sayang orang tuanya sebagai kebutuhan utama, baru materi. Buktinya, anak-anak yang hidupnya kekurangan asal mendapatkan dukungan penuh dan kasih sayang orang tuanya, akhirnya mereka juga bisa sukses kok, semua butuh proses dan kesabaran untuk menggapainya.”
“Iya juga, sih, Pa ... Tanna itu emang tinggal sebut aja mau berapa duit mintanya, gak sampai dua menit, udah
penuh aja tuh rekening. Gak kayak aku yang harus kerja—“
Jen langsung menutup mulutnya ketika ia seperti melantur saat mengatakan itu, ia menggelengkan kepala dengan mata membelalak lebar, mengundang tawa tertahan di bibir Jeje dan Excel.
“Oh, jadi kamu kesel pas mama suruh kerja? Kesel pas mama suka atur-atur uang jajan kamu?” Kira mendelik ke arah Jen yang kini menggoyangkan kedua tangannya di depan dada.
“Bu-bukan gitu, Ma ... tadi tuh, maksud aku gini, loh ... gak kaya—“
“Udah, ngaku aja Jen ... kamu dulu emang suka ngeluh kalau mama sedikit perhitungan sama uang jajan kamu. Percuma kamu ngelak juga, aku kan saksinya.” Jeje menyela dengan ekspresi menyebalkan keluar dari wajahnya.
Dan, Jen dengan patuh—meski masih melemparkan tatapan penuh peringatan pada saudara kembarnya yang terkekeh penuh kemenangan.
“Jadi, dalam keluarga itu harus ada komunikasi di antara anggota keluarga, ya , meski hanya pertengkaran atau
gurauan kecil seperti ini, tapi Papa yakin, kalian saling merindukan satu sama lain. Lagipula papa lebih suka kalian mengekspresikan apa yang kalian rasakan, dengan begitu papa dengan mudah mengetahui apa yang kalian rasakan, tanpa bertanya. Melihat sifat-sifat kalian tanpa perlu bertanya pada kalian.” Harris meredakan kekacauan ruangan ini dengan suaranya yang berat dan dalam.
“Ya, terlepas bagaimana orang tua Tanna yang berusahan sebaik mungkin agar kepura-puraannya berhasil, tapi
menurut papa, kepercayaan diantara mereka itu sangatlah tipis, bisa dibilang tidak ada.”
__ADS_1
Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, tetapi bagi mereka yang baru memulai hidup baru, ini adalah satu
petuah yang wajib dicatat di dalam sanubari mereka. Bekal hidup yang nyata bukti dan hasilnya.
“Akutuh hanya heran dengan Tanna, sampai sebegitunya sama kakaku yang satu ini ... gak ada apa pria lain yang lebih cakep dari dia? Kan ada Jeje yang cakepnya juga diatas rata-rata.”
Jen langsung menanggapi dengan ‘huu’ yang penuh dengan cibiran, “kepedean kamu, Je ... lagian kamu mau hidup sama phsyco kaya Tanna begitu, aku sih, ogah.”
“Halah, dulu kamu juga temenan sama dia ...,” balas Jeje tak kalah sinis. Dan ya, hal itu adalah bibit keributan
yang biasanya akan berbuntut panjang dan bisa merembet padah hal lain. Lelu Darren yang menyadari kebiasaan itu segera melerai dengan mengusap punggung Jen yang langsung menelan lagi kalimat yang
hendak meluncur keluar, yang tersamarkan oleh gerakan mulutnya menghirup udara. Lantas ia duduk kembali dengan tenang. Meski hatinya masih mengemas kekesalan yang cukup besar.
Excel telah menyelesaikan makannya dengan cukup tenang dan tidak terpengaruh dengan pertengkaran adiknya. Kepalanya cukup berat dengan pikiran akan Sia, dan dia datang kemari untuk memberitahu Jen tentang perkembangan pencarian Sia. Excel berdehem untuk menarik perhatian Jen uang duduk tepat berseberangan dengannya.
Jen terlalu sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya untuk menyadari hal tersebut, sehingga hingga beberapa detik lamanya, Excel hanya bisa menahan kesal. Darren menyadari hal tersebut, lantas ia menoleh dan melihat arah pandangan Excel yang jatuh pada Jen. Perlahan sekali, Darren menarik tangannya yang terlipat di meja untuk mengguncang lengan Jen yang dekat dengannya. Lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.
“Kak Excel mau ngomong sama kamu ....” Jen menghentikan kunyahannya dan menoleh dengan tatapan tidak mengerti. Lalu ketika Excel mengangguk, Jen seperti paham dengan kode itu. Ia langsung berdiri.
“Aku ke belakang dulu ...,” pamitnya lirih. Dan menjatuhkan anggukan kepada Excel dan Darren bergantian sebelum berlalu.
.
.
.
__ADS_1
.
.