
'Ngga apa-apa, Kak. Mungkin Ace kangen kalian'
Dari kemarin, hanya kalimat itu yang bisa Dinka katakan kepada kakaknya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana sebab Ace melarangnya memberi tahu kedua orang tuanya, perihal sakit yang dia derita. Ace kemarin lalu bermain hujan-hujanan selagi menunggu Dinka menjemput.
Dinka menghela napasnya dalam-dalam, lalu melepaskan perlahan. Seharian kemarin Ace demam, hingga akhirnya ia melarikan keponakan tersayangnya ini ke rumah sakit. Kebetulan, Oma dan Opa Ace sedang mengunjungi Ranu dan baru saja tiba di negara tujuan, jadi dia hanya seorang diri menjaga Ace, bergantian dengan Desy juga Rendi. Dinka sendiri memilih menutup pet shop-nya demi Ace.
"Ante ...." Suara lemah Ace membuat Dinka kembali fokus pada keponakannya itu.
"Eh, kesayangan Ante dah bangun ... kenapa, Sayang? Haus, ya? Atau laper?" Dinka bangkit dan memeriksa kondisi tubuh Ace yang sudah tidak sepanas kemarin. Wajah Ace pucat sayu, membuat hati Dinka seakan teriris. Dalam hati dia selalu menyalahkan diri sendiri jika Ace kenapa-napa, meski ini bukan sepenuhnya salahnya.
Ace membasahi bibirnya yang kering, bahkan sampai terlihat mengelupas. Mata hitam bening itu menatap lurus Ante-nya yang tampak ingin menangis. "Ante kenapa? Ace cuma sakit, bukan mau mati."
"Hush ...!" Dinka menutup mulut Ace, lalu membawanya ke dalam pelukan. "Jangan bicara sembanrangan, Ace. Ante gak suka, ya!" Mata Dinka memejam, air matanya meleleh begitu saja. Hatinya seperti tersengat jika diingatkan soal kematian. Ace jadi lemah daya tahan tubuhnya, Hero harus meninggalkan dunia selamanya, karena kesalahannya. Karena tingkahnya yang begitu egois, kekanakan, dan menyebalkan.
Ini semua salahnya. Kebodohannya.
"Habisnya Ante lebay, aku kan hanya sakit, demam kaya biasanya. Kenapa sampai sebegitunya?" oceh Ace tanpa beban.
Dinka melepas pelukannya, mendengar ucapan Ace membuatnya kesal juga dengan anak itu. Sok banget kalau ngomong.
"Kan Ante cengeng ... lebay beneran!" Ace berdecak seraya tertawa mengejek sang Tante yang menyeka air matanya. "Sudah ih, kalau nangis tambah jelek!"
Dinka memanyunkan bibirnya, membuat gerakan memutar di sana. "Untung kamu sakit, Ace, kalau enggak, bakal Ante gelitikin sampe ngompol." Tak tahan untuk tidak menangkup rahang kecil bocah itu dan menggoyangkannya. Kesal dan gemas sekali padanya, dan sayang sampai meluber dalam satu waktu. Ace adalah dunianya sejak lahir sampai sekarang.
"Ante lepas ... sakit!" Ace meringis kesakitan.
"Oh, sori!" Dinka menyengir tanpa dosa.
Ace menjauhkan tangan Antenya dengan sebuah tamparan kecil sebelum membuat gerakan seperti sedang membenarkan rahangnya. Seakan-akan, tangan Dinka membuat rahangnya remuk dan rusak. "Tangan raksasamu ini menyiksa sekali!"
Dinka meliukkan bibirnya, "Dasar sok kul! lama-lama kamu akan mirip Uncle Excel kalau sikapmu begini! Jadi kaya balok es berjalan!" ia mengacak rambut Ace dengan gemas.
"Ante panggil dokter dulu, ya ...," pamit Dinka yang langsung melesat keluar usai Ace menanggapi dengan anggukan.
"Ah, Dokter!" Dinka berseru saat hampir bertabrakan dengan dokter yang memeriksa Ace, tepat ketika ia membuka pintu. "Kebetulan sekali, saya mau memanggil Anda." Dinka tersenyum, tetapi dokter yang tidak ramah itu hanya melewatinya begitu saja. Melirikpun tidak.
__ADS_1
"Haish, bongkahan es yang lain," keluh Dinka dalam hati. "Kenapa sih, di dunia ini banyak sekali orang yang sodaraan sama beruang kutub?"
Dinka menggelengkan kepala, lalu membuntuti si Dokter tanpa berkata apa-apa. Lebih baik ia simpan kata-katanya untuk menghadapi Ace saja.
"Halo jagoan! Gimana? Udah baikan?"
Dinka menjatuhkan rahangnya. "Sama Ace ramah begitu, kalau sama aku kok judes, yak?" batin Dinka.
"Demamnya sudah turun, apa dia masih muntah?" tanya si Dokter itu dengan nada datar mencekam. Dingin sekali.
"Hari ini enggak, Dog—"
Dokter itu menatap Dinka dengan sadis, saat mendengar penekanan kata pada ucapan Dinka memiliki arti lain.
Dinka berdehem kecil. "Maksud saya, hari ini gak muntah, tapi belum makan juga dari tadi, Dok-ter." Dinka meralat ucapannya dengan santai dan lembut, senyumnya mengembang dengan sempurna, bahkan ia mengimbuhi dengan seringai lebar sampai ke telinga. Juga 'hihihi' yang terlihat sekali mengejek.
Mata dokter itu masih lekat menatap Dinka, mengancam dengan segala dominasi yang dia punya. Bahkan sekilas senyum mengejek pun terlihat di sana.
Ada apa dengan dokter itu?
Dan tatapan mengesalkan selanjutnya membuat Dinka mendelik. Bukan ... bukan karena Ace disebutkan sebagai anaknya. Bukan itu yang membuatnya keberatan—itu sudah biasa ia dapatkan. Namun, dari sorot mata, lalu gerakan melengos sarat aura meremehkan dari dokter tersebut seolah mengisyaratkan bahwa Dinka hanya tahu soal membuat anak, tanpa tahu mengurus anak.
Siapa dia memangnya sampai bersikap sok tahu begitu? Pasti dia tidak tahu Ace siapa! Dasar!
Dokter itu meletakkan stetoskop di dada Ace, lalu memeriksa mata, mulut, mengetuk perut Ace di beberapa bagian, dan sekali lagi meraba kening Ace sembari menanyakan beberapa hal kepada Ace.
"Untuk sementara berikan anaknya makanan yang lembut dan hangat, kalau masih muntah kasih tau saya ...," kata Dokter itu seraya menoleh, tepat saat Dinka masih mengutuk sang dokter dengan gerakan bibirnya yang menyebalkan.
Dokter itu kembali berekspresi kaku dan terlihat marah—Ace membungkam mulutnya menahan tawa. "Jangan sepelekan apa yang saya ucapkan, Nyonya ... anak Anda dalam kondisi yang kurang baik! Seharusnya Anda memperhatikan dengan benar, bukan malah mengejek saya!"
"Saya memperhatikan ucapan Dokter, kok, Anda saja yang sensi dan suka menghakimi!" Dinka melipir ngacir mengambil jalan lain untuk mendekati Ace. Mengabaikan Dokter tampan yang begitu kesal pada Dinka.
"Dokter kan tugasnya mengobati, bukan menghakimi dan mencampuri urusan keluarga pasien."
Dokter itu mengepalkan tangannya, kalimat yang sudah siap meluncur dari bibirnya terpaksa ia telan kembali ke dasar perut. Usai memberikan tatapan mematikan kepada Dinka, dia segera menarik dirinya keluar dari kamar kelas wahid ini.
__ADS_1
"Ante galak sekali sama orang? Ngga takut jadi jodoh?" celetuk Ace.
"Oh, udah pinter, ya, sekarang godain Ante? Siapa yang ajarin, hem?" Dinka berkacak pinggang, kesal sekali pada celetukan Ace yang suka ngawur. Bocah itu tidak tahu kalau di hatinya masih bertahta nama Aric, meski perasaannya itu harus ia kubur dalam-dalam. Dia takut sekali pada hukum karma. Dia takut kalau apa yang dialami Jen akan dia alami nanti. Entah apa yang membuat Dinka berpikir seperti itu.
Sementara, Jen mengamuk karena merasa pesawat milik Kristal ini terbang begitu lambat. Perasaannya tak enak soal Ace, meski Darren sudah menenangkannya.
"Besok lagi, jangan pakai pesawat sialan itu!" umpat Jen ketika ia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Bisma. "Gila aja si Kristal itu kasih kita pesawat kargo bobrok yang terbang kaya siput."
Bisma menyeringai tanpa suara, sementara Darren meringis sambil menggaruk telinga.
"Jalan, Bis!" perintah Jen seraya menggebrak bagian belakang jok yang di duduki Bisma. Isyarat tangan Bisma menjawab titah itu, lantas melaju meninggalkan bandara.
Jen masih menggerutu, dia berniat memprotes Kristal.
"Kamu mau apa?" tanya Darren. Ia waspada melihat Jen mengambil ponsel. "Sebaiknya sekarang jangan berkata apa-apa, Yang ... jika bukan karena Kristal, kita masih tertahan di sana. Bisa jadi kita baru akan sampai lusa." Darren menahan tangan Jen dan merebut ponsel pintar tersebut. Sebenarnya, Darren sangat sungkan pada Kristal yang selalu sabar dan tersenyum jika Jen memarahi ataupun mengomelinya. Kristal suka sekali dengan suara omelan Jen, katanya, suara itu membuatnya rindu. Lebih konyol, Kristal memiliki koleksi rekaman omelan Jen yang akan ia putar saat ia kesepian.
"Bela terus Kristal! Kenapa ngga kamu nikahin dia sekalian?" kata Jen ketus. Ia bersedekap dan marah sekali. "Bis, jalannya cepetan!"
Bisma hanya bisa menghela napas mendengar titah Jen. Bagaimana bisa kecepatannya sekarang dikatakan kurang cepat. Ia melaju nyaris menyentuh 150 km/jam. Meliuk dan menyalip semua mobil yang menghalangi jalannya.
Lambat-lambat, Bisma mencuri pandang ke arah Darren yang sepertinya memompa kesabaran agar memenuhi dadanya. Pria itu tampak kesal tetapi tak mau meladeni istrinya yang sedang marah. "Kenapa, sih?" tanya Bisma dalam gerakan bibir tanpa suara saat Darren berhasil menangkap pandangannya.
"Kangen anaknya," jawab Darren keras-keras.
"Oh ...!" Bisma mengerti apa yang dirasakan Jen. "Dia hanya demam dan sudah dirawat di rumah sakit dari kemarin!" kata Bisma enteng seraya membenarkan rambutnya. Ia pikir, Dinka sudah memberi tahu Jen dan Darren.
"Apa?"
Bisma terlonjak mendengar teriakan kompak dari kursi penumpang belakang, nyaris saja kemudinya oleng dan menyebabkan mobil melenceng ke lajur lain. "Astaga!"
*
*
*
__ADS_1
*