
Jen meregangkan tubuhnya yang terasa lelah, ia baru saja melambaikan tangannya kepada Excel dan mobil abu-abu metalik milik sang kakak masih belum hilang dari pandangannya. Senyumnya belum sepenuhya hilang ketika samar-samar telinganya mendengar suara Darren dan seekor kucing.
“Myung ...,” gumamnya. Ia menajamkan pendengarannya, sampai dagunya naik ke samping. Ketika terdengar lagi suara kucing nakal itu, Jen melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Mama mana?” tanyanya ketika ia telah masuk dan melihat di dalam rumah hanya ada Darren yang sedang duduk dengan sereal dan susu memenuhi mulutnya. Cairan putih itu membasahi bibir Darren yang segera diusapnya demi menerbitkan senyum. Ia bahkan tergesa-gesa mengunyah dan mendorong makanannya ke dalam lambung. Di bawahnya ada Myung yang menengadah, mungkin kucing itu menginginkan sereal yang beraroma harum itu.
“Mama udah berangkat tadi sore ... dan Myung dititipkan di sini selama Dinka pergi. Apa kau keberatan?” Darren
berdiri dan menyambut istrinya diekori oleh Myung yang terus mengeong.
“Oh, kirain mampir kesini tadi.” Jen mengambil tangan Darren seperti biasa dan meraih Myung usai Darren mengecup keningnya. “kenapa harus keberatan, Myung sekarang baik, kok, sama aku.”
Darren bersumpah, senyum Jen barusan sangat manis meski hanya singkat, lalu sapuan lembut di lengannya membuat hatinya menghangat.
Ya, Myung memang sudah terbiasa dengan kehadiran Jen bahkan ia sering memberinya makan dan bermain bersama ketika di rumah mama Desy. Jen menggendong kucing Dinka, membawanya ke belakang. “apa Dinka membawakan kebutuhan Myung juga?”
Darren lega melihat ini, ia tersenyum dan mengekori Jen sampai melupakan serealnya yang sudah mengembang tak karuan. “ada, itu aku letakkan di teras belakang.”
__ADS_1
“Kenapa di sana?” Jen kembali dan hampir menubruk tubuh Darren, “biasanya dia tidur sama Dinka kalau malem, ‘kan?” Jen masih mengusap kepala Myung yang tampak patuh dan malas merebah di bahu Jen. Kucing sialan itu bahkan mendengkur—Darren berdecih dengan sangat sebal.
“Ya, tapi kalau di sini dia harus tidur di kurungannya itu saja.” Darren tentu tidak akan mau diganggu oleh sura kucing itu ataupun pelukannya di sela oleh kucing sialan yang kini memainkan matanya dengan malas seolah sedang berakting lemah tak berdaya, demi kasih sayang Jen.
“Oh, ayolah ... aku baru baikan belum lama, aku masih ingin memeluk dia tanpa diganggu,” batinnya seolah sedang berbicara pada Myung melalui tatapan mata.
“Dulu sering begitu, kok, kalau Dinka ngga di rumah dan hanya sama aku atau mama,” kilahnya menyakinkan. Ia meraih bahu-bebas kucing dan membawanya ke bagian belakang rumah dimana pasir, pakan, dan keranjang Myung berada. “dia akan baik-baik saja.”
Darren tersenyum dan meraih Myung dan memasukkannya ke kurungan yang cukup besar dan lega untuk kucing itu.
“Benar ini tidak apa-apa? Di luar dingin ....” Jen melihat sekeliling dan mengigit bibirnya. Dia mencemaskan kucing tersebut.
Darren melirik tajam ke arah Jen, “jadi ...,” ia mendekat ke arah Jen dan menarik dagu wanita itu. “kamu mau aku yang tersiksa semalaman, dan dia tidur dengan nyaman?”
Jen praktis menyengir dengan tawa yang renyah dan canggung. “tidak-tidak ... bukan seperti itu,” ia menurunkan tangan Darren dari dagunya. Menangkap sinyal bahaya dari mata yang sedang menatapnya. “setidaknya letakkan di dalam rumah.”
Kenapa begitu saja marah?
__ADS_1
Lalu ketika Darren masih enggan melonggarkan pandangannya yang menyelidik, Jen buru-buru mundur dan memutar tubuhnya. “Aku ... mandi dulu.”
Darren membuang napasnya dengan kasar dan tersenyum sinis, “dasar merepotkan!” umpatnya pada Myung yang kini sedang mengangkat wajahnya yang penyok ke arah Darren yang terlihat sebal.
“Puas kau sekarang, istri gue lebih sayang lo daripada sama gue, lebih peduli sama lo yang pernah gigit dia. Lo harusnya tau diri, kasih tahu majikan lo, baik-baik sama istri gue, bilangin kalau lu jadi prioritas istri gue sekarang!” Darren berkata sambil memindahkan kurungan Myung yang masih menjilati hidungnya tanpa dosa, ia juga memandang Darren seolah mengerti apa maksud perkataan itu hingga akhirnya dia mengeong manja.
.
.
.
.
.
Bacanya besok saja🤭 maaf dikit, tar aku sambung setelah bocans dulu🤭
__ADS_1