Suami Settingan

Suami Settingan
Run All Night


__ADS_3

Aku menyukaimu, menyayangi kamu—"


"Sebagai adikmu, 'kan?"


"Bukan ... sebagai Ranu. Sebagai seorang gadis pintar, pemaaf, dan penyayang. Sebagai apapun kamu untukku, sampai kapanpun aku akan sayang kamu sebagai seorang Ranu."


"Cinta?"


Darren mendekati Ranu lalu menepuk pundak gadis itu. "Kamu tahu pasti, Ran ... aku hanya mencintai kakakmu."


Ranu tersenyum, menahan isak yang mulai lancang merambat di bibirnya. "Baik kak, aku ngerti. Semoga kalian bahagia."


"Kamu juga ... kamu harus bahagia. Lebih bahagia mulai sekarang."


Ranu menurunkan tangan Darren lalu berjalan dengan cepat meninggalkannya. Ia berpaling, tetapi tidak sebelum ia melihat gadis itu berhenti di tengah-tengah tangga, dan menangis.


"Maaf, Ran." Darren tak lagi mau mengikuti langkah Ranu, ia memilih berbalik ke ruangan Papa mertuanya untuk berpamitan.


Pilihan telah ditetapkan dan hatinya telah memutuskan. Hanya akan ada hal baik setelahnya.


***


"Kenapa cemberut terus, sih?" Darren akhirnya membuka suara ketika hanya audio mobil yang menjadi pengisi keheningan kabin mobil ini. "Aku kelamaan ya, tadi?"


Jen menegakkan tubuh dengan helaan napas berat menyertainya. Ia menggeleng. "Makan dulu, Ren ... cari yang seger-seger. Palaku mau pecah."


"Ini udah malam, kalau yang mau kamu makan adalah sesuatu yang dingin." Darren mengingatkan. Setelah reda demamnya, ia tentu tidak akan membiarkan Jen semaunya sendiri kali ini.


"Kenapa, sih? Coba cerita, mungkin bisa bantu!" Seformal itu hubungan mereka. Kaku.


Jen menyilangkan posisi duduknya menghadap Darren. "Kamu tadi ngomong apa sama Ranu?"


Menyudahi segala rasa yang sikut-sikutan, Jen akan mengurai segalanya. Dimana semua berawal hingga sampai titik dimana ia bisa melihat sebuah kebenaran. Ya, jelas Darren menyukainya, tapi jika welas asih suaminya terbagi karena tidak tega melihat Ranu terluka, tentu ini akan menjadi ******* dan titik balik hidupnya.


Menata hidupnya yang baru. Menepi dan sendiri. Tanpa satu orangpun.


Darren tersedak hingga tanpa sadar menginjak pedal rem hingga mobil berhenti. Kalut, ia menatap Jen yang terus mendesaknya. "Hanya memberitahunya sesuatu." Pikirnya, itu saat ia berpamitan. Darren celingukan, menghindar. Ia mengisyaratkan bahwa mobil mereka menghalangi jalan, lalu perlahan ia menepi, bahu jalan cukup sepi dan mereka leluasa berbicara di dalam mobil.


Jen mencondongkan tubuhnya lebih dekat, dan membuat Darren mundur. Tangan Jen menirukan gerakan Darren saat mengusap rambut Ranu. "Sampai gini-gini tadi apa?"


"Oh, itu ...." Lega, ketika Jen tidak mendengar apa yang Ranu dan dia bicarakan.

__ADS_1


"Hanya mengucapkan terimakasih atas gurame nya yang enak."


"Benarkah?" Jen meneliti seluruh wajah Darren, hingga semu merah sisa tangisan tadi masih terlihat jelas oleh mata pria itu.


"Iya, untuk apa aku bohong?" Darren mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Jen. "Cemburu?"


Jen berdecak, lalu menampik tangan Darren. "Kaya cinta saja, pake cemburu. Jalan yuk, pulang kalau gak boleh makan apa gitu!"


Darren hanya tersenyum melihat semu merah itu makin terlihat jelas. Salah tingkah sikapnya itu membuat Darren gemas sendiri. Sayangnya, Darren tak peduli bibir penipu itu, ia lebih percaya mata dan gestur tubuh Jen. Ada cinta nyempil di sana.


"Nyalain AC juga udah seger 'kan? Kalau cuma mau yang seger-seger."


"Yee ... bukan itu kali! Tapi ...," Jen menjeda ucapannya sambil menggerakkan tangannya di depan dada seperti meluapkan sesuatu dari dalam perutnya. "... melepaskan beban, gitu. Paham 'kan maksudku?"


"Party seperti pas masih sama Diego?" goda Darren.


"Dia lagi! Enggaklah." Jen merasa percuma saja memberitahu Darren. "Pulang saja deh, mending tidur. Capek ngomong sama kamu."


Gak ngerti-ngerti juga kamunya.


Darren terkekeh melihat kekesalan Jen. "Ingin meluapkan kekesalan dan rasa marah, 'kan? Aku tahu tempatnya. Mau kesana, nggak?" Tawar Darren.


"Jangan bilang dikuburan!"


"Gak lucu kalau kamu ajak aku ke tempat yang menyeramkan, Ren!"


Ini adalah jalanan menuju kawasan pantai, dan mereka akan berkendara berjam-jam lamanya.


"Jangan gila, Ren ... kita bisa kemalaman di jalan." Jen malah panik. Pikirannya kemana-mana, mulai dari ancaman begal sampai sosok-sosok tak kasat mata yang biasa ia dengar dan lihat di televisi. Sosok yang muncul dimana saja tanpa bisa ia duga sama sekali.


"We'll run all night till the dawn comes." Darren tersenyum nakal, lalu menarik tangan Jen yang saling meremas dan mengisinya dengan jari-jarinya.


Berjam telah mereka lewati, hingga sampailah pada sebuah pantai. Jen telah tertidur dalam genggaman tangan masih saling beradu.


"Bangun, Jen ... kita sudah sampai," bisik Darren yang terlihat letih. Bau asin air laut yang kering membuat Darren menyengirkan hidungnya. Bercampur hawa dingin, hidung Darren menjadi sangat sensitif.


"Bangun ... kamu gak pengen lihat air laut."


Jen terusik, tentu debur ombak yang mengganggu juga bisikan Darren yang begitu menggelikan.


"Sudah sampai?" Ia menggeliat hingga tangannya merenggang diatas kepala. Parau suaranya segera ia normalkan dengan sebuah deheman kecil tapi panjang dan berulang.

__ADS_1


"Sudah. Mau turun gak?" Jen masih mengerjapkan kelopak matanya, ia mencari-cari sumber deburan berasal. Matanya masih buram, lalu ia mengangguk dan beringsut turun.


"Pakai jaketmu, diluar dingin." Darren mengambilkan sweater yang tertindih tubuh Jen. Kaos tanpa lengan dan leher tinggi itu segera tenggelam dalam sweater dengan gradasi warna gelap.


Jen menyadari Darren sangat kelelahan ketika pria itu berjalan gontai tapi berusaha tetap tegak.


"Capek?"


"Udah tidur masa masih capek, sih?" Darren salah tangkap akan ucapan Jen yang ambigu.


"Kamu!"


"Eh ...," Darren salah tingkah hingga ia menggaruk kepalanya dan celingukan. Bibir pria itu kembali tersenyum.


"Biasa aja, aku sering ke luar kota pulang pergi aja gak capek kok." Sambungnya kemudian.


"Oh ya ... kamu tadi kenapa? Bertengkar dengan Ranu?" Ucapan Darren mengingatkannya pada ucapan sang Mama.


"Aku hanya mengingatkan Ranu agar tidak kecentilan sama kamu," jawab Jen akhirnya. Ia berjalan terlebih dahulu hingga menyerak pasir yang begitu dingin.


"Tapi ngga perlu bertengkar apalagi sampek saling menyakiti 'kan?" Darren masih berdiri ditempatnya, menatap tubuh yang sedang memainkan pasir dengan kakinya.


"Dia nyolot sih, 'kan aku jadi kesel!" teriak Jen diantara debur ombak. Ia seperti terbuai oleh suara-suara keras dan lembutnya pasir.


"Kenapa kesel? Kalian biasa 'kan ngomongnya kaya orang lagi tengkar seperti itu?"


Jen berhenti, ia menatap Darren dengan helaan napas.


Nih, orang lemot banget otaknya. Masa iya aku mesti bilang kalau dia udah punya bini.


Jen melangkah lebar-lebar menuju Darren, lalu menunjukkan punggung jemarinya yang berhiaskan cincin dari pria telmi di depannya. "Ingat sekarang? Kamu masih di bumi, belum ke Pluto, jadi jangan pura-pura lupa ingatan."


"Apa artinya itu," Darren menunjuk cincin dengan dagunya. "jika hanya berlaku satu tahun dan kamu gak punya perasaan sama aku?"


"Kan-kan? Kamu bilang aku harus menikmati satu tahun bersamamu, jadi gangguan harus dihilangkan ... biar perjanjian kita khusyuk. Kan mengcape, udah pura-pura, ada orang ketiga, lalu masih harus akting dan setting perasaan didepan orang—eh."


Darren mengemas napasnya bersatu dengan Jen. Ia terus bergerak tanpa peduli Jen yang kaku. Menyesapi perlahan lalu melepaskan.


Jen kalang kabut dengan serangan Darren barusan. Ia begitu syok hingga hanya bisa mengedip.


"Perasaanku bukan settingan Jen, aku hanya mencintai kamu. Jangan ragukan apapun yang keluar dari mulutku."

__ADS_1


Lagi-lagi, Darren menyesap bibir Jen. Ia terus mendesak wanita itu hingga napasnya habis.


__ADS_2