
Semalaman, Jen memupuk kesal yang sangat banyak hingga akhirnya dia tertidur tanpa tahu kapan Darren kembali. Mimpinya berkejaran di mana Tamy terus berada di sekitar mereka berdua.
Jen menggeliat ketika samar telinganya mendengar kokok ayam yang terasa dekat. Pasti ayam jago tetangga Darren itu, pikirnya. Jen membuka mata dengan gerak yang sangat perlahan. Ya, itu di sana tampak sepetak dada loss shirt dan Jen tersenyum ketika mengusapnya perlahan. Dengan ujung hidungnya, tentu saja. Ya, karena tangannya sibuk melingkar di pinggang Darren.
Kesadaran yang belum pulih sengaja ia tahan agar tidak secepatnya kembali normal. Ia suka saat seperti ini, karena terkadang ia akan lupa kejadian ini di pagi hari selanjutnya. Ia kembali menjamah dada itu dengan bibirnya. Kepalanya bergerak rajin hingga mencapai leher dan dagu. Dia ... kenapa memabukkan begini, sih?
Jen membawa kepalanya turun kembali, untuk lebih jauh ia tidak mampu sebab ia masih punya kesadaran tinggi untuk menjadi lebih gila. Lagipula, ia takut Darren terbangun dari mimpinya yang tampak indah. Jen kembali menyarangkan bibirnya di tengah-tengah belahan dada suaminya.
"Kamu kenapa kaya kasur sih, memberiku kenyamanan terbaik," gumamnya dengan senyum lebar dan puas, merebahkan sisi kepalanya di dada bidang itu.
"Begini terus, aku makin jatuh sama kamu. Jatuh cinta maksudnya ...." Jen masih sesekali membuka mata lalu memejamkanya kembali. Senyumnya malu-malu tapi entahlah dia senang sekali. Memiliki suami seperti Darren.
Jen segera bangun, melihat jam yang ternyata sudah jam tiga pagi. Ia ingin segera mandi dan meski semalam tidak terjadi apapun tapi hampir terjadi dan Jen sudah berfantasi terjadi apa-apa. Entahlah, ia takut ibadahnya tidak bernilai. Ia hanya berpikir untuk menjaganya.
"Mau kemana?" Jen sudah menurunkan kakinya, segera saja ia menoleh.
"Mandi ...," jawab Jen enteng. Tangannya sibuk membantu mengikat rambutnya dengan karet yang biasa ia letakkan di pergelangan tangannya.
"Masih pagi, lagian ngga ngapa-ngapain kenapa mandinya awal sekali?" Darren berkata sambil meregangkan tubuhnya, membuat tubuh itu telentang. Tangan lainnya membantu melegakan pegal akibat menjadi bantal Jen semalaman penuh.
Jen memalingkan wajahnya, tak kuasa menahan gelombang keimutan suaminya ketika wajah itu masih bermuka bantal. "Udah mikir ngapa-ngapain, Renâ"
"Eits ...," kata Darren menyambar perkataan Jen. "... aku mau panggilan sayang dari kamu." Mata Darren telah terbuka, ia terjaga demi meminta perekat hubungan mereka. Meski hanya sebuah panggilan.
Jen masih ingat untuk merona, masih ingat untuk tersipu. Ia berjalan menghindar, menuju sebelah lemari dimana handuknya menggantung. "Panggilan sayangku sama kamu dari dulu cuma satu, lelaki galak dan matanya lebar mengerikan."
Jen membuat wajahnya sadis ketika mengatakan itu. "Kamu dari dulu sudah mendapatkan panggilan dariku, panggilan sayang dan penuh perasaan."
"Terimakasih, aku spesial dong dihati kamu?" Darren kini telah duduk. Dada dan pundaknya terlihat padat dan berkilat. Lengan itu berotot meski tidak sekokoh dan bergelombang seperti punya papanya. Mungkin, Darren di setel untuk sesuai dengan kenyamanan Jen. Ya, melihat lengan-lengan besar dan kekar, sejujurnya ia mual sendiri. Baginya, seperti milik Darren adalah yang pas dan tidak membosankan.
Bersih dan tidak terlalu putih. Rasanya itu tidak berlebihan.
__ADS_1
"Kenapa? Masih mau membasahi dadaku lagi? Sini ... semua sah milik kamu, kok!" Pria kurang ajar dan blak-blakan dengan otak luar biasa mesum itu menyodorkan dadanya.
Jadi dia merasa? Jadi dia sengaja diam saja dan membiarkan?
Jen melebarkan matanya, antara kesal dan malu. Ya, kesal karena ia terlalu terang-terangan membuat Jen mati kutu. "Aku belum gila untuk mengikuti apa maumu."
"Sebentar lagi kita akan saling tergila-gila, Han ...," timpal Darren dengan percaya diri.
"Itu menurut kamu, aku sih ...." Jen mengendikkan bahunya penuh cibiran. "... tidak!"
Jen berlalu setelah mengatakan itu, menuju kamar mandi dan segera membasahi tubuhnya.
"Aku gak akan semudah itu tergila-gila sama kamu, Ren ... mana ada cewek yang bucin sama cowok?" gumamnya di sela guyuran air yang cukup dingin. Meski sudah mulai terbiasa tapi tetap saja ia merasakan kulitnya menebal ketika air mulai menyentuh pori-porinya.
***
Sarapan kembali di gelar, masing-masing sudah menghadapi piring dengan menu sarapan yang kini mulai beraneka ragam.
"Pa, Ma ... kami akan pindah dan memiliki rumah sendiri sebentar lagi." Darren membuka obrolan ketika sejak tadi hanya suara denting menguasai ruangan ini.
"Kenapa? Mama membuat Jen tidak nyaman?" tanya Desy ketika suaminya memilih melanjutkan makannya dari pada meminta penjelasan tentang kepindahan anaknya.
"Bukan begitu, Ma ... aku malah merasa sangat nyaman di sini. Aku hanya ingin belajar mandiri." Jen segera menjelaskan, ia tak mau membuat mama mertuanya salah paham.
"Sebenarnya, Mama lebih suka kamu di sini, Nak ... mama jadi punya temen ngobrol yang nyaman dan ngga pake otot kaya pas ngobrol sama Dinka ...," ujar Desy berhasil membuat anak gadisnya itu melebarkan mata. Memang benar, ia selalu membuat mamanya berbicara keras dan berulang-ulang. Ia terbiasa baru melakukan apa yang dipinta mamanya setelah nada suara mamanya menjadi mayor.
Bukan masalah apa-apa, hanya mamanya meminta Dinka melakukan sesuatu saat dia sedang asyik-asyiknya. Entah itu baca novel, entah itu main game, bahkan saat fokus belajar.
Dinka mencibir. "Mama sayang, kalau pake otot dan urat itu pas mama merintah aku semau mama sendiri," ralat Dinka.
"Sama aja, Din ...."
__ADS_1
"Ish maha benar emak dengan segala kengeyelannya." Dinka merengut. Ucapan mamanya sukses membuat selera makan Dinka menghilang, sehingga ketika ia menghadapi nasi gorengnya lagi, ia hanya memutar dan mengaduk makanan tersebut.
"Yang dikatakan Jen benar, Ma ... kami hanya ingin mandiri," timpal Darren menegaskan.
"Mama bakal kesepian di rumah ... setelah nenek pergi." Desy tak mampu menyembunyikan getar dalam nada suaranya sehingga Rendi segera menenangkan istrinya dengan sebuah usapan di pundak. Walaupun nenek tidak membalas perkataan Desy tapi nenek adalah teman ketika Desy sedang lelah atau sepi. Ia yakin mertuanya mengerti apa maksud perkataan Desy.
Sementara Jen dan Darren saling pandang dengan helaan napas menyertai.
Jen merasa ia terlalu memaksakan keinginannya. Ia mengerti berpisah dengan anaknya pastilah sangat berat.
"Kami akan pindah jika mama sudah mengizinkan ...," putus Jen. Ia tak mau menjadi egois hanya karena keinginannya yang kecil. Hanya karena ia ingin mandi air hangat setiap pagi, hanya karena kamar yang sempit, dan hanya karena ingin menjauhi Dinka.
"Kami akan tinggal di sini sampai mama mengantarkan kami ke rumah baru kami." Tangan Jen meraih telapak tangan Darren yang ia simpan di bawah meja. Mata Jen dengan lembut menatap Darren yang memisahkan bibirnya. Bertahun-tahun lamanya, ia seperti baru melihat istrinya dalam mode dewasa yang melelehkan hatinya.
Seketika, Darren menarik Jen ke kamar, meninggalkan semua orang yang terbengong melihat sikap Darren yang sedikit kasar.
"Darren, Jen tidak salah, Nak ... jangan kau kasari dia!" seru Desy dengan cemas. Rendi bahkan berdiri dan mengikuti sampai ke bawah tangga. Dinka nyaris jatuh saking terkejut melihat sikap kakaknya yang cukup kasar.
"Ma ... kakak kesetanan setan mana? Masa Jen minta batal pindah gitu aja dia kesel banget? Segitu rumitnya berumah tangga, ya?" beo Dinka dengan mata masih terpaku pada jejak yang ditinggalkan oleh kedua kakaknya. "Fiks, aku gak mau nikah kalau Aric belum punya rumah sendiri."
"Jangan ngawur ngatain kakakmu!" Desy menurunkan telapak tangannya di wajah Dinka.
Ia menghampiri suaminya, "susul mereka, Pa ...!" Ia mengarahkan Rendi memijaki tangga. Ia takut anaknya marah karena penolakan Jen. Mungkin mereka bersepakat meminta izin dan berkeras pindah. Entahlah ....
.
.
.
.
__ADS_1
Jen mo diapain cuba?
Sorry baru up, abis mudik ke rumah embah, gak ada sinyalđ¤§