
Rumah sakit tiba-tiba begitu riuh saat Jen keluar dari sana. Ia tersenyum, lalu berjalan dengan santainya melewati wartawan yang menurut Vaya sudah memenuhi studio Jen sejak pagi.
"Ya Tuhan, aku ngga nyangka kalau Naja itu gila." Jen tersenyum dalam hati. Bagaimana tidak, Naja meminta Jen ke rumah sakit sore hari ini, mengemudi sendiri, dan secara terang-terangan menunjukkan diri. Di bantu Vaya yang menunjukkan keberadaan Jen kepada wartawan, secara sengaja.
"Mbak Jen ... bukankah anda harusnya ditahan atas penyerangan kepada Mbak Tannaya?" salah seorang wartawan pria yang paling dekat dengannya mengajukan pertanyaan.
"Saya tidak mengerti maksud anda!" jawab Jen santai sambil mengibaskan rambutnya dengan angkuh untuk menatap wajah wartawan itu.
"Kemarin Mbak Tanna melaporkan Anda ke kantor polisi mengenai penganiayaan yang Anda lakukan pada Mbak Tanna. Kenapa anda masih bisa bebas dan tidak ada pemeriksaan? Apa anda menggunakan kekuasaan ayah anda agar kebal hukum?" serbu wartawan itu lagi.
Jen menyapukan pandangannya ke arah seluruh wartawan yang mengerubutinya. Lalu melepaskan kacamata yang membingkai matanya yang indah. Tak lupa senyum manis ia sembahkan untuk segenap pewarta yang hadir. Naja memang lawan yang sepadan untuk Tanna, bersahabat lalu menjadi musuh? Kecuali kamu adalah orang yang berpikir banyak dan teliti juga lelah ditindas, tentu ini tidak akan pernah melintas dipikiranmu. Hati-hatilah pada orang yang diam ketika ditindas, karena saat itu mungkin dia sedang menguliti kelemahanmu.
"Mungkin, Tanna hanya berdiri di depan kantor polisi dan sebelumnya dia memancing wartawan datang. Apa kau memikirkan hal yang sama denganku? Jika Tanna sampai melapor, dan malah diketahui kalau dia yang salah, apa itu bukan bunuh diri namanya? Kau tahu, kata kakakmu, Tanna itu bebas bersyarat, jadi jika dia terlibat masalah lagi, apa coba konsekuensinya?" Ucapan Naja yang membuat Jen lebih berani. Ia bahkan mengambil risiko digantung oleh orang tuanya karena keluar sendiri di saat keadaan masih kacau.
Jen tersenyum mengingat betapa ia menjadi berbeda hanya karena ucapan Naja.
"Sebelum bertanya padaku, sebaiknya kalian bertanya pada Tanna, apa dia benar-benar melaporkanku? Atau aku yang seharusnya membuat laporan?" Jen mengangkat tangannya yang diperban dengan begitu dramatis. "Tanganku mendapat luka karena ulahnya, apa bukan hal wajar jika aku membela diri?"
Jen mengibaskan lagi rambut yang menyurai di salah satu sisi wajahnya dengan gerakan anggun. "Saya rasa diamnya keluarga saya bukan karena kami bisa menyelesaikan apa-apa karena kuasa dan uang. Kami menimbang baik buruk sebuah tindakan. Kata papa, hal seperti ini tidak perlu dikhawatirkan berlebihan, terlebih hanya karena masalah kecemburuan dan dicampakkan." Jen melangkah dengan menyibak kerumunan itu. Tetapi, pertanyaan masih terus terdengar.
"Maksudnya Mbak? Tolong jelaskan?"
"Siapa yang cemburu?"
"Tanna atau Diego, Mbak?"
"Benar Mbak Jen akan menikah dengan pria yang kemarin itu?"
"Doakan saja yang terbaik untuk kami."Jen tersenyum sebagai tanggapan.
"Di akun gosip, calon suami anda membeli bunga yang sangat banyak di sebuah pasar bunga? Dan ada yang melihat dia berada di kota B membeli bunga Krisan, apa itu untuk pernikahan anda?"
Jen tersenyum lalu memakai kaca matanya kembali. Darren 'kan mamanya emang penjual bunga. Tapi bisa dimanfaatkan juga ini. Jen tertawa jahat dalam hati.
"Eum ... kalian bahkan lebih tahu daripada saya. Terima kasih atas informasinya, ya ... pantas seharian ini dia tidak bisa dihubungi dan membatalkan janji mengantarku ke rumah sakit. Saya permisi ya, saya akan cepat pulang dan menelponnya." Jen tersipu dibuat-buat, dikepalanya dia membayangkan Darren pasti kerepotan membantu mamanya menyiapkan pesanan sementara diluar dia memanfaatkan semua itu. Ah, biar saja ... lain kali dia akan membalasnya.
__ADS_1
Jen bergegas menuju mobilnya berada dan melajukan mobilnya hingga ia rasa aman, baru ia berhenti dan menetralkan tubuhnya yang gemetar.
"Huh ... berbohong itu sungguh mengerikan. Maaf, Tante Desy aku pinjem nama anakmu. Besok akan kukembalikan dengan aman." gumam Jen sambil menghembuskan napasnya besar-besar.
Ia bergegas merogoh ponselnya di dalam tas, lalu menelepon Darren.
Di rumah, Darren sudah seperti orang jatuh cinta, dipenuhi bunga. Ia tengah membantu Desy menyiapkan pesanan buket bunga yang harus bergegas diantarkan.
Ia baru saja naik ke mobil, saat melihat nama Jen terpampang nyata di layar ponselnya. Malas sekali rasanya menjawab panggilan telepon dari Jen, setelah ucapan wanita itu semalam. Seharian ini ia mencoba melupakan sakit hati akibat ucapan Jen dengan menyibukkan diri seperti ini.
"Kamu nyimpen nomerku?" sergah Darren ketika ponsel menempel di telinganya. Lama, Darren menanti jawaban Jen.
"Aku tanya Ranu tadi."
"Ada apa?" tanya Darren malas.
"Kamu lagi dimana?"
"Dirumah mau antar pesanan pelanggan mama, kenapa?"
"Untuk apa? Tumben? Ngga usah nyamperin aku kalau kamu hanya akan menyuruhku bohong lagi."
"Mana ada aku seperti itu? Aku ke rumahmu saja kalau begitu!"
"Jangan," cegah Darren. "Nanti saja aku nemuin kamu, setelah aku antarkan pesanan mama!"
Darren memutuskan sambungan ponselnya tanpa menunggu Jen memburunya dengan keberatan dan segala rengekannya. Lalu ia menghempas ponselnya sembarangan di kursi sebelah kursi yang didudukinya.
"Sayang, kok belum berangkat? Ditungguin tuh sama pelanggan mama, Nak ...," Desy terlihat lelah berdiri diambang pintu. Masih memakai celemek yang bertuliskan Daisy Florist.
Darren menoleh dan tersenyum, "ini mau berangkat."
"Hati-hati dijalan ya, Sayang!" Desy melambaikan tangannya diudara. Desy menghembuskan napasnya lega ketika Darren meninggalkan halaman rumahnya.
"Dinka, bantu mama beresin rumah, Nak ... sudah sore, nenek belum mandi dan sebentar lagi papa pulang." Desy berbalik dengan tangan memegang siku, ia lelah sekali usai menyiapkan pesanan yang hari ini nilainya sangat besar bagi Desy.
__ADS_1
"Ma ... Dinka cape," rengek Dinka yang belum sempat istirahat sepulang dari kampus karena ditodong mamanya untuk turut membantu. Gadis seusia Ranu itu, melemaskan kedua tangannya dengan tubuh membungkuk sedikit.
"Jangan banyak ngeluh, makin cepat beres-beresnya, makin cepet pula istirahatnya. Tinggal sedikit aja kok!" Desy mengusap kepala Dinka dan bergegas ke dalam untuk mengurusi mertuanya yang lumpuh dan sepuh. Rendi—suami Desy—adalah anak tunggal, jadi sudah pasti ibunya adalah tanggung jawab Desy.
"Selamat sore," Jen mengulurkan kepalanya ke dalam rumah sebab pintunya terbuka.
Dinka menoleh, ia langsung merengut. "Sore ...," jawabnya malas. Dinka memang tidak menyukai Jen karena sikap Jen yang ceria, banyak omong, dan ceplas-ceplos. Baginya Jen terlalu percaya diri. Sejak tahu kalau Jen bermusuhan dengan Darren, Dinka semakin meninggikan kebenciannya pada Jen.
"Aku masuk, ya, Din ...," Jen masuk lalu mengulurkan tangannya untuk memeluk Dinka. Tetapi Dinka menggeser tubuhnya menjauh. "Em ... apa kabar, Din?" sambungnya ketika ia dilanda kecanggungan saat mendekati Dinka. Ia pikir Dinka akan menerimannya dengan mudah karena dia adalah kakaknya Ranu. Tetapi melihat ini ....
"Baik ... cari siapa?" Dinka balik bertanya. Nada suaranya tak ramah.
"Euh ... nyari Tante Desy," kilah Jen, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang menjadi ruang kerja Desy. "Aku bantu rapiin, ya, Din ...."
Jen mengambil sampah yang masih berserak dan memungutinya, mengabaikan tatapan Dinka yang menajam dan sinis.
"Mama di kamar nenek!" ketusnya sambil merebut tempat sampah yang dipegang Jen. Menunjukkan ketidaksukaannya, Dinka membuang wajahnya dari depan Jen yang mematung dengan cepat. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya tanpa menggubris Jen yang masih kukuh membantunya merapikan barang-barang.
"Jen ...," Panggilan dari Desy membuat Jen menoleh. "Kapan sampai? Eh, kenapa ikut beres-beres? Masuk yuk ...." Desy melambaikan tangannya agar Jen mengikutinya.
"Dinka, ada tamu kok ngga disuruh masuk, malah dibiarin aja!" ucap Desy yang membuat suasana semakin canggung. Dinka menekuk wajahnya seketika, dan Jen langsung menghampiri Desy dan menyambut tangan wanita itu. Ia tak mau membuat Dinka terlihat buruk hanya karena hal sekecil ini.
"Jen baru sampai kok, Tan ... baru saja Jen mau masuk dan nemuin Tante." Jen tersenyum. Lalu di sambut oleh sahabat mamanya ini dengan elusan di punggung atasnya. Mereka masuk ke dalam sambil berbincang basa basi.
"Dasar cari muka ...," sinis Dinka.
.
.
.
.
.
__ADS_1