
Darren hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Jen pagi ini. Wanita itu tampak bahagia dan tertawa lepas. Hanya karena dia mengiyakan apa maunya saja. Yah, entahlah, ia sebenarnya tak mau ribet dan ribut, bahkan lebih memilih berpuasa saja, tapi sudahlah, melihat Jen senang begini mendaki Everest pun rela.
"Hatciw ... hatchiw ...." Darren menoleh. Jen sedang membantu mamanya menyiapkan sarapan seperti biasa, tangan kirinya sejak tadi menggosok hidung. Ia berdiri di depan kompor mengaduk tahu dan tempe bacem yang hampir kering airnya.
Darren mendadak waspada. "Kamu sakit, Jen?" tanyanya.
"Enggak ... gatel aja hidungku!" jawabnya ringan tetapi suaranya terdengar sengau. Darren yang semula berniat membawa menu sarapan ke depan, beralih mendekati Jen. Ia meraba kening dan leher Jen.
"Apaan, sih?" Mata Jen membelalak lebar. Ia sungkan sebab mamanya masih di antara mereka dan menatap Jen khawatir.
"Ke dokter aja, Ren ... takut Jen kecapekan dan sakit!" sahut Desy. Ia tak kalah cemas mendengar percakapan anak dan mantunya. Apa kata besannya jika anak gadis mereka sakit di rumah mertua?
"Ngga perlu. Ma ... hidungku gatel karena bau masakan ini agak menyengat." Jen menurunkan tangan Darren dan memdelik penuh peringatan.
"Tapi kamu demam, Jen ...," desis Darren khawatir.
Iyalah ... karena lengket, Jen memutuskan untuk mandi tengah malam, memang airnya tidak dingin sangat, tapi bagi Jen tetap dingin. Ia bahkan sampai menggigil. Setelah itu tidak bisa tidur karena ketakutan lalu menangis dan drama 'aku kamu' untuk menetukan siapa yang pakai pengaman. Meski Jen akhirnya tersenyum penuh kemenangan dalam tidurnya, tapi itu tidak mengendurkan niat demam untuk menghinggapi Jen. Faktanya, pagi sekali ia harus bangun meski matanya menciut, mandi lagi, lalu mengikuti kebiasaan di rumah ini, tanpa bisa malas-malasan dan bersembunyi dengan kata 'iya' atau 'sebentar lagi'.
"Udah gapapa, nanti beli obat pereda demam dan flu sajalah. Udah sana ...!" tangan Jen mengusir Darren dengan lembut. Ia bahkan melebarkan senyumnya, agar mama Desy tidak curiga.
Darren masih mengawasi Jen, ia tak percaya Jen baik-baik saja. Namun ia juga tak punya pilihan selain pergi dan bersegera sarapan.
"Itu jangan dibawa, Ren ...," larang Desy ketika Darren hampir membawa semangkuk balado jengkol dari Tamy kemarin. Darren mencibir, lalu ia segera pergi dengan tangan penuh makanan.
"Mama suka jengkol?" Jen telah usai dengan masakannya, ia segera mencuci tangan dan bersiap ikut sarapan.
"Suka banget, Jen ... ini ngga ada bau atau rasa pahitnya, enak loh, Jen!" Desy dengan bangga mengatakan bagimana kondisi si jengkol. Wanita yang tengah mengepak sebuah kardus berisi oleh-oleh untuk salah seorang kerabat suaminya itu berdiri dan bersiap ikut sarapan juga.
"Jen ngga suka pete sama jengkol, Ma ...," jawab Jen jujur. Ia tak mau berbohong tentang apa yang di sukai dan tidak.
"Oh iya, mama lupa ... dari dulu 'kan udah gak suka. Maaf mama mulai kendur ingatannya, Nak ...." Desy menepuk pundak Jen sambil tertawa dan dibalas Jen dengan senyum merekah.
"Ngga papa, Ma ...."
"Kita ke depan, yuk ... besok udah ngga bisa sarapan sama-sama lagi dengan mereka. Mama juga mulai buka lagi besok. Pelanggan mama bisa kabur kalau lama-lama libur," seloroh Desy sambil merangkul anak mantunya itu.
"Iya, Ma ... bener."
"Kamu kalau kangen mama juga boleh pulang, minta sama Darren. Jangan takut sama dia, lagian 'kan lebih baik kalau apa-apa itu dibicarakan," nasihat Desy.
"Iya, Ma ... aku ngerti kok." Jen membalas rangkulan Desy dan melangkah bersama. Tampak akur dan kompak sekali pasangan mertua dan mantu ini. Mengenal sejak kecil, Desy pikir Jen adalah gadis menyenangkan. Itu benar, hanya dia tak pernah menyangka anaknya yang berhasil memenangkan hati gadis ini.
"Wah, sejak Jen jadi mantu mama, Papa gak pernah kena omel lagi. Biasanya, pagi-pagi Mama teriak kaya Tarzanwati manggil-manggil Dinka dan Papa." Rendi menuruni tangga sambil mengancingkan manik di lengan kemejanya. Hari ini, dia harus bekerja, meski masih dalam suasana berkabung. Namun, ia adalah pegawai dengan jabatan baru, yang kini memilik bawahan dan tanggung jawab yang lebih besar.
"Itu karena setelah punya mantu, Papa rajin bangun pagi, jadi Mama gak perlu lagi lari-larian ke atas kebawah sampai bikin encok dan teriak-teriak kaya bakul gorengan yang viral itu hanya untuk bangunin papa dan Dinka," jawab Desi.
"Kan Papa jadi kangen diteriakin Mama, padahal baru dua hari loh. Jen, disini terus ya, telinga Papa gak cepet aus."
__ADS_1
Rendi dengan santainya mengecup kening Desy di depan Jen, bahkan mereka saling memeluk satu sama lain. Jen melihat itu jadi malu sendiri, ia langsung mengendap-endap dan bergabung dengan Darren. Takut ganggu.
Sepeninggalan Jen, Desy membisiki suaminya. "Pindah ke kamar bawah aja, Pa ... kuping mama gatel dua malam ini. Semalam saja, Mama sampe ke kamar mandi bawah karena kamar mandinya dipakai Jen. Mama gak bisa tidur, Pa ... nih, kantung mataku udah jadi kantong Doraemon yang ada pintu kemana sajanya."
"Papa juga mikir begitu, sama Dinka sekalian. Semalam sampe pake guling buat nutup telinga, Ma ... makanya, mama cepetan kelarin mensnya, biar gak melek merem sendiri. Papa juga tersiksa tauk ...!"
"Dinka mau tidur di antara kita? Yakin?"
"Iya juga ...," beo Rendi dan ikut berpikir. "Dinka pasti gak denger, Ma ... 'kan gak terlalu keras juga. Paling dia belum paham, jadi biar dia diatas saja."
"Ma ... Pa."
Rendi dan Desy saling melebarkan mata saking terkejutnya. Mereka langsung menoleh serentak dan tersenyum ketika melihat Darren menatap mereka penuh keheranan.
"Kalian ngomongin apa? Serius banget?"
Kedua orang tua itu tertawa canggung. Berharap anak lelaki mereka tidak mendengar percakapan mereka.
"Kenapa, sih, kalian?" Darren mendekat melihat sikap aneh mama papanya. Ia menyusuri wajah kedua orang tuanya dengan keheranan yang menumpuk.
"Ngga ada apa-apa, kok ... ini ... em, anu ... besok mama mau buka lagi. Sayang kalau sampai langganan mama banyak yang kabur," kilah Desy.
"Yaudah, ayo sarapan ... mama udah laper ini." Desi ngeloyor pergi. Suasana disana sangat canggung dan mengerikan. Atau malahan, Darren sudah mendengar diskusinya barusan.
"Mama kenapa, sih, Pa ... aneh banget?" Darren masih menatap kepergian mamanya hingga duduk lesehan di sebelah Jen. "Kalau ngomongin soal florist, biasanya ngga seperti itu gayanya."
Kepala Darren memutar, menghadap dimana Papanya masih berdiri bersamanya.
"Kaos kaki Papa masih dibelakang, Ren ...," seru pria itu menggema.
"Kan Papa udah pake kaos kaki ...," balas Darren dengan mimik tak mengerti dengan tingkah aneh orang tuanya. Ada apa dengan mereka, sih? Jangan-jangan mau proyek bikin bayi lagi tuh orang tua?
"Darren ... apa pula yang kao tunggu itu? Kemarilah!" seru Nenek Ita dengan wajahnya yang tegas memandang ke arahnya.
Darren hanya tersenyum kecil, ia sejenak menoleh lagi ke arah belakang sana. Rendi sudah tidak tampak lagi sehingga ia segera bergabung dengan yang lain.
"Nenek cantek nanti kau antar ke bandara, ya ...! Ajak pula istri kau yang cantik ini. Nenek sayang kali sama istri kau ini." Nenek Ita menatap Jen dengan senyum khasnya sehingga membuat Jen tersipu dan merah padam.
Darren mengambil piring bersih yang masih ditumpuk. "Bawa saja kalau nenek suka ... biar aku kardusin sekarang!"
"Hei ...!" seru Nek Ita membuat siapa saja menjengit takut. "Kau pikir dia boneka, apa? Pakai kardusin segala? Jangan kurang ajar kau sama istri molek macam dia! Kubawa beneran gigit jari kau!"
Seluruh ruangan menggemakan tawa, tapi tidak dengan Dinka. Gadis yang sejak tadi duduk di sisi nenek tua itu merengut hebat, meski ia memaksa bibirnya ikut tersenyum sesekali.
"Apa kalian masih bisa tertawa dan memuji wanita manja itu kalau tau apa yang terjadi sebenarnya?" batin Dinka. Ia mengaduk nasinya dengan kesal, matanya menatap bergantian Darren dan Jen. Sungguh, ia tak menyangka wajah-wajah sok suci itu bisa melakukan hal yang sangat memalukan dan keterlaluan.
Pandangan Darren terjatuh pada Dinka, mereka berpadu pandang sejenak. Gelagat aneh yang baru ia lihat hari itu dari ekspresi wajah adiknya, membuat Darren menyurutkan senyum. Dagunya bergerak maju seakan menanyakan apa yang salah dengannya. Namun hingga beberapa detik berlalu, Dinka tidak mengubah ekspresinya.
__ADS_1
"PMS, kali ...," batin Darren. Ia mengendikkan bahu, tak peduli dengan apa yang Dinka pikirkan. Lantas, ia kembali membaur dengan suasana ramai nan hangat ini. Sesekali ia menatap Jen yang juga ikut tertawa lepas.
"My sunshine ...," batin Darren di balik bibirnya yang merentangkan senyum.
***
Menjelang siang, Darren dan Jen berdua saja di dalam mobil setelah mengantar nenek Ita dan anaknya ke bandara. Keluarga lain juga sudah kembali ke kampung halaman masing-masing, hidup akan kembali berjalan seperti biasa.
"Memikirkan apa?" Darren menatap kembali jalanan usai melirik Jen yang tampak tegang.
Jen menoleh. "Ngga ada ...," jawabnya kemudian.
"Masih kepikiran yang semalam?" Tangan Darren menumpu kemudi lalu memainkan rambutnya tanpa mengalihkan perhatiannya.
Jen membuang napasnya, "Bisa ngga, sih, kehamilan terdeteksi meski baru semalam kejadian?" Meski Jen tahu jawabannya, tapi tetap saja pertanyaan itu ia luncurkan dari bibirnya. Biar lega saja sebenarnya.
Darren pikir Jen sudah tak lagi terbebani dengan kejadian semalam, tapi ternyata hamil benihnya tetap menjadi momok bagi Jen. Ia menghela napas, kepala Darren memutar ke sisi luar jendela mobil. Dadanya terangkat naik, seakan melegakan impitan sesak di sana.
"Aku hanya tidak mau—"
"Seminggu lagi kita ke dokter!" potong Darren. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Pikirkan saja apa ren—"
Rrtt ... rrtt ... rrtt.
Ucapan Darren terpotong oleh getaran ponsel Jen. Ia kembali menghela napas setelah merapatkan bibirnya. Kembali fokus ke jalan, ia membiarkan Jen menjawab teleponnya. Ia merasa tersinggung dengan keresahan Jen yang berlebihan, apalagi tentang hal sensitif seperti itu. Apa Jen kurang jelas dengan pernyataannya semalam? Apa cintanya saja tidak cukup dijadikan landasan hubungan mereka? Ah, ia sungguh kesal sekarang.
"Kenapa, Vay?"
"Oh, gitu ... ya udah! Kasih bayar aja, bereskan semua yang belum dibayar!"
"Ya, gak papa. Mau gimana lagi? Cari orang buat pindahin ke gudang."
"Letakkan dimana sajalah, nanti aku pikirkan lagi tempatnya. Aku kesana sekarang!"
Darren berusaha tidak peduli karena masih kesal dengan Jen, meski ia tahu kemana harus menuju sekarang.
"Antarkan aku ke JC, ya, Ren ...," pinta Jen. Ucapannya terdengar lesu.
Apa lagi sekarang?
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf, semalam ketiduran gegara minum obat🤧