
Adalah rencana Naja yang menyuruhnya menemui Darren jika ingin membuat Darren setuju menjadi pacar abal-abal Jen. Tidak! Naja memiliki rencana lebih jauh, terlebih setelah Naja mendengar sendiri dari mulut suaminya, bahwa sebenarnya papa Harris menginginkan Jen melanjutkan hubungan dengan Darren. Tentu ini satu kesempatan baik yang tidak akan dilewatkan Naja begitu saja.
Sehingga ketika Jen bertanya apa langkah selanjutnya, Naja menyuruh Jen mendatangi langsung ke rumah Darren. Ambil hati orang terdekat Darren, begitu pesannya.
Jen sebenarnya kesal dengan sikap Dinka yang begitu cuek padanya, tapi demi mengambil hati Darren, Jen terpaksa bermanis muka di depan Dinka yang sebenarnya bisa langsung ia ajak duelâjika berada di suasana menjengkelkan yang lain.
Hari mulai gelap, Darren tiba tepat ketika Jen membantu Desy menyiapkan menu makan malam. Mata Darren dibuat hampir jatuh dari tempatnya melihat pemandangan di dapur. Dua wanita yang memiliki tempat spesial dihatinya ini, terlihat begitu akrab dan kompak. Seperti ini, penampakan rumah yang akan selalu ia dapati ketika ia pulang kerja, andai Jen menjadi istrinya. Sayangnya, ucapan Jen semalam membuat harapan Darren pupus.
"Kentangnya diiris kotak-kotak, kalau mau dibuat sup, Sayang ... bukan seperti ini." Ucapan Desy membuyarkan lamunan Darren, matanya yang sempat mengabur, kini fokus lagi. Dilihatnya, Jen mengiris kentang itu memanjang. Darren tertawa mengejek, ia yakin Jen baru menyentuh bahan-bahan masakan itu sekarang. Bahkan Darren heran ketika Jen memegang pisau dengan benar. Ia pikir Jen akan mengiris kentang dengan punggung pisau yang tumpul.
"Nah ... begitu, ya! Tapi seharusnya, kamu ngga usah bantuin tante, ada Dinka nanti yang akan bantuin. Kamu pasti ngga pernah kena asep di dapur begini, 'kan? Aduh, Tante ngga enak hati sama mama kamu, nih," ujar Desy.
"Ngga apa kok, Tan ... Jen pernah kok, bantu-bantu di dapur juga," ucap Jen jujur. Iya, dia memang pernah membantu di dapur. Membantu doa, misalnya. Jangankan mengiris sayuran begini, sampai di ujung pintu dapur saja dia sudah diusir. Jen ketika di dapur hanya akan membuat semua orang gagal menyelesaikan tugasnya, mereka malah sibuk diajak membuat video konten untuk channelnya.
"Benarkah? Wah, Tante ngga nyangka loh, pantas saja, Ranu juga pinter masak. Jika nginep di sini, dia sering bawa gurame kesukaan Darren dan Dinka, atau bahan masakan yang akan diolah oleh dua orang itu." Desy tertawa. Ia mulai menyalakan kompor dan memasak. Ketika ia menoleh, dilihatnya Darren termenung menatap Jen.
"Wah ... anak mama udah pulang? Mama buatin teh dulu ya ... kamu mandi sana! Ada Jen juga, nih ...."
Kepala Jen memutar, lalu tersenyum cerah untuk mengusir rasa takut melihat tatapan Darren yang tajam. Jen jelas melihat bahwa Darren mengatakan 'sudah kubilang jangan kemari' melalui sorot matanya.
"Darren mandi dulu, Ma ...," pamitnya tanpa menghiraukan Jen.
"Oke, Sayang. Makasih untuk hari ini!" seru Desy sambil menggelengkan kepalanya.
"Darren jadi pemurung akhir-akhir ini, bahkan hari ini, dia lebih banyak diam. Biasanya, dia akan ngobrol dengan neneknya atau bertengkar dengan Dinka."
__ADS_1
Jen yang telah menyelesaikan irisan kentangnya hanya bisa menipiskan bibir. Mungkin karena ucapannya semalam.
"Biar aku yang buatin teh untuk Darren, Tan ...," ujar Jen sambil beranjak. Ia mengantarkan wortel dan kentang yang akan segera dimasukkan ke dalam panci.
Desy yang sedang mengambil sebuah mug dari rak dan menyerahkannya kepada Jen. "Boleh ... teh nya sudah tante seduh di teko itu." Telunjuk Desy menunjuk sebuah teko kaca berisi cairan berwarna merah pekat.
Jen mengangguk dan menerima cangkir berukuran besar itu, tetapi ketika ia hendak menarik cangkir itu, Desy menahannya. Seketika Jen memudarkan ekspresinya yang hangat, menjadi sedikit takut saat berhadapan dengan Desy.
"Jen ... Tante akan menutup mata dari video yang beredar itu jika kebahagiaan Darren ada padamu. Tapi Tante mohon, jika kalian telah bersama, tolong jangan sakiti anak Tante. Tolong buat dia bahagia, Jen! Satu hari saja kamu membuatnya terluka, Tante seperti sudah tidak mengenali anak Tante lagi."
Ada sebuah benda tak kasat mata tiba-tiba menyergah Jen. Napasnya memberat, hatinya mencelos turun, bergerak pun tak bisa. Ketika kesalahanmu menjadi luka bagi orang lain, apa yang bisa menjadi lebih buruk dari itu? Ia bisa mengabaikan Darren yang menurutnya hanya mengacaukan hidupnya setiap kali ia datang. Tetapi wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, yang selama ini juga sering menciumi pipinya, terlihat terluka dan memohon. Ini sangat tidak bisa ditoleransi lagi oleh Jen.
"Tante, aku minta maaf jika membuat Tante terluka." Hanya itu yang bisa ia katakan kepada Desy. Niatnya yang bulat untuk mengajak Darren memenangkan perang, tiba-tiba pecah. Argh! Jen kesal dalam hati karena ia harus memikirkan ulang bagaimana jalannya kedepan.
Desy yakin jika Jen belum tahu dimana kamar Darren, jikapun kesini, Jen hanya berkisar di ruang tamu. Selain bersama mamanya, Jen belum pernah datang ke sini sendirian, seperti sekarang. Desy pikir, selain untuk membenarkan kesalahpahaman, untuk apa Jen ke sini sendirian? Meski Darren tak pernah mengatakan, tapi sebagai ibu, Desy tahu anak lelakinya menyukai gadis ini. Tentu banyak hal yang menjadi pertimbangan Darren ketika menyukai gadis yang jauh berada diatas mereka. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa Darren banyak berinvestasi meski masih terbilang kecil.
Ucapan Desy seperti angin segar bagi Jen yang sesak. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, selain membicarakan baik-baik niatnya dengan Darren. "Aku antar teh untuk Darren dulu, ya Tan ...," Jen usai menuang cairan teh itu ke dalam cangkir, ia berlalu setelah Desy mengangguk.
Darren memerlukan waktu cukup lama untuk mandi. Termenung, di depan lemari. Kepalanya sedang berputar dalam pening saat ia tiba-tiba menjadi orang yang sangat di cari. Tak sedikit teman-temannya mengiriminya link sebuah berita online yang sedang membicarakannya. Bertanya, apakah benar mereka Darren yang sama. Tak sedikit juga yang bilang 'ditunggu undangannya' atau 'akhirnya' dengan emot wajah dengan hati dikedua matanya. What the .... mulutmu harimaumu! Demi wanita yang sama sekali tidak mengindahkan perasaannya, kini ia mengorbankan hidupnya yang tenang.
"Darren ...!" Hati Darren jumpalitan hanya mendengar suara itu. Ia bergegas memakai baju dan membuka pintu untuk Jen.
"Tehmu!" Senyumnya mengulur terlebih dahulu, baru bersuara. Hanya seperti itu saja, hatinya sudah bahagia. Luka bahkan turut hanyut bersamanya. Amazing Jen!
Senyum Darren harus dikungkung, ia ingat masih kesal dengan wanita itu. "Makasih ...," jawabnya sambil menerima cangkir yang tampak masih mengepulkan asap.
__ADS_1
Ketika Darren hendak menutup pintu, Darren menangkap gerakan tubuh Jen bergerak seolah enggan meninggalkannya. "Apa lagi?" tanyanya sambil menahan pintu tetap setengah menutup agar mereka bisa terus berbicara.
"Em ... aku ingin bicara!" Bibir pink yang sudah hilang pemolesnya itu, segera menekuk ke dalam, bola mata indahnya berkedip menampakkan kontak lensa berwarna amber, sesuai dengan cat rambutnya yang sedikit keemasan. Gadis pemikat yang luar biasa meluluhkan hati Darren.
"Bicaralah!" Ucapan Darren tak lebih dari sebuah bentuk pelampiasan sesak di dadanya. Kesal dan terpesona, tumpang tindih tak karuan di dadanya. Sekilas terlintas, ia ingin menjadi lelaki paling berengsek melihat mangsa yang menghampiri mulut gua seekor buaya. Entah -able apa yang mampu di sematkan pada gadis itu.
Maksud Darren adalah ia akan mendengarkan suara Jen dari balik pintu, seakan ada jarak di sana yang mengikis sisi kelelakiannya yang menginginkan Jen. Sangat ingin. Rasa frustrasi untuk menaklukkan wanita rasanya telah mencapai puncak. Tetapi dengan ragu kaki panjang Jen mengusir tubuh Darren dari ambang pintu. Dan menutupnya.
"Kuatkan imanku, Tuhan!" Darren memegang cangkirnya kuat. Tangan kirinya kini memegang sisi lain cangkir yang panas. Panas itu membuat Darren tetap waras. Menjaga pikirannya tetap tegak.
Darren semakin mundur saat Jen melangkah dan menatap lurus ke arah matanya. Apa yang dipikirkan wanita itu?
"Nikahi aku, Ren!"
.
.
.
.
.
Othor e ngumpetđ
__ADS_1