Suami Settingan

Suami Settingan
CU 1—Coklat dan Kopi Sasetan


__ADS_3

Selepas magrib, Jen membuat segelas coklat saset yang ia beli di warung depan saat dalam perjalanan pulang yang cukup memerahkan pipi sore tadi. Hujan sedang gencar menimpakan rintiknya sejak tubuh sepasang pengantin itu memasuki rumah. Dingin hawa lembab yang menerpa permukaan kulitnya membuat pori-pori membesar. Untuk meredakannya, Jen mengusap lengannya sekilas.


Usai mengaduk dua gelas berisi dua jenis minuman yang berbeda, ia membawa gelas tersebut ke ruang tengah, dimana Darren sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


Mendengar Jen mendekat, Darren mengalihkan perhatian dari ponsel ke arah Jen muncul, lalu menggeser posisi agar Jen bisa duduk di dekatnya.


"Kopi ...," tawarnya pada Darren yang terdengar ambigu. Sementara, Darren menerima gelas yang mengepul di depannya dengan sebuah senyuman simpul.


"Makasih ... pasti enak ujan-ujan minum kopi panas begini." Darren meniup sedikit cairan berwarna coklat muda itu lalu menyesapnya dengan kening mengernyit.


Jen melebarkan tawanya saat melihat kengerian di wajah Darren. "Itu kopi sasetan, Ren ... gak perlu takut rasanya gak enak!" tandas Jen. Ia sendiri menyesap coklat panas yang mengusung bahasa italia sebagai slogan iklannya.


Darren menyecap ujung lidahnya, kepayahan ia berkata untuk menanggapi ucapan Jen, "bukan itu ... aku bukan takut gak enak, Yang, tapi panas!" Darren mendekatkan gelas di tangannya ke depan Jen. Menunjukkan uap panas yang masih mengepul dengan telunjuknya dan bergumam 'tuh' lalu kembali menarik gelas tersebut ke arahnya lagi. Mengulangi lagi cara menyesap kopi tersebut dengan cara yang sama.


"Oh iya, tadi 'kan pakai air mendidih langsung dari kompor," kekehnya. Ia langsung nyengir kuda usai melihat Darren mencebik. "Gak punya termos buat wadah air panas, Re, eh ... Yang!"


Jen segera menutupi kesalahannya dengan menyesap lagi coklatnya.


"Gak usah dipaksa kalau belum terbiasa ... pelan-pelan aja!" Darren mengusap kepala istrinya dengan lembut. Ia tersenyum melihat Jen yang malu-malu mengintipnya dari balik gelasnya.


"Sini peluk!" Ia merentangkan tangannya untuk menerima Jen dalam dekapannya. "Sini ...!" Sambungnya meyakinkan saat Jen hanya menautkan alisnya dengan senyum meragukan.


Jen meletakkan coklatnya, beringsut pelan dan ragu-ragu ke arah Darren lalu merebahkan tubuhnya di dada suaminya tersebut.


"Ujan dan dingin begini 'kan enaknya pelukan kaya gini ... biar makin anget. Jadi bukan kopi yang menghangatkan, tapi pelukanku. Agar kamu saat dingin begini gak lari ke kopi dan coklat panas, tapi ke aku, atau seenggaknya ingatnya kepadaku," ucapnya sambil mengusap pelipis Jen, menyisihkan helai rambut istrinya ke belakang telinga.


"Ih, bisa aja!" Jen mencebik, sambil menepuk-nepuk dada Darren dengan perlahan. Jen yakin, saat ini pipinya sudah tumbuh semburat merah sebab ia merasakan panas berlebihan di sana.


Ketika Jen hendak menarik tangannya dari dada Darren, Darren menahan telapak tangan Jen di sana. Menggesernya tepat di jantung pria itu berada.


Jen mendongak sedikit, ia bisa melihat Darren sedang menunduk dan tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa senyum begitu?"


"Bahagia ...," jawab Darren enteng. Ia menarik telapak tangan Jen dan menciumi buku jari istrinya tersebut.


"Sampe dada kamu berdebar begitu? Sebelumnya gak pernah?" Jen bergerak rajin mendekat dan menengadah. Posisi Jen meringkuk di pelukan Darren dengan kaki terlipat.


"Yah, begitu kira-kira ...," jawabnya sambil menerawang. "Dirumah mama, mana berani aku minta kamu peluk-peluk aku di depan tivi begini? Dan berdebar karena kita bisa seperti ini selain di atas kasur."


"Ish ...!" Jen kembali memanas ketika mendengar kata 'ranjang' ia sungguh malu setiap kata itu terucap. Ingatan panjang akan tempat yang paling nyaman itu seketika rusak menjadi arena yang sangat menggelora baginya. Entahlah, baginya setiap sentuhan Darren seperti sebuah suntikan untuk perasaannya yang semula tipis semakin menebal.


"Benar, 'kan? Makanya kita stuck aja, gak berkembang, jadi setelah tinggal sendiri begini, kita bisa saling mempertebal perasaan kita. Bukan hanya cinta, tapi juga pengertian lain, seperti saling menghargai dan berbagi, karena menikah itu bukan hanya soal cinta dan **** saja, banyak hal lain yang saling membutuhkan dukungan pasangan. Jadi semacam hubungan timbal balik yang kompleks."


Jen mengerjap, "kamu berkata seolah aku gak ngerti apa-apa soal sebuah hubungan dalam pernikahan."


"Jadi kamu udah 'tau'?" Darren menekankan kata tahu dengan ekspresi meragukan.


"Iyalah ... gini-gini aku punya pengalaman lebih banyak dari pada kamu!" Jen berkata meninggi. Tentu, hidupnya yang kompleks dan sudah seperti kurva penjualan. Naik turunnya cepat. Berubahnya juga cepat. Jadi daripada hidup Darren yang terkesan bahagia meski datar, hidupnya tentu memiliki banyak pelajaran yang dipetik.


"Oke ... aku percaya, jadi tinggal membuktikan," tandasnya menegaskan sekaligus menuntut. "Kita lihat, sejauh mana pengalaman hidup Jen bekerja di dalam rumah ini."


"Gak asyik kalau motor sama makan ... lebih gede dong."


"Apa misalnya?"


"Bayi kecil disini ... gimana?" Darren mengusap perut Jen dengan gerakan memutar.


Jen menarik dirinya dari pelukan Darren, ia menatap lurus suaminya itu. "Apa aku bisa bawa perut gede kaya Naja? Gimana kalau pas hamil aku gak kuat bawa perutku?"


"Ya dicoba ... kalau ngga dicoba mana tau? Ya ngga ...?" seringai kecil di sudut bibir Darren sepertinya penuh maksud tersembunyi, tetapi Jen sepertinya di cekam horor yang luar biasa, hingga ia mengabaikan itu semua.


"Hamil kelihatan nyusahin, gak sih?" Jen menatap lekat wajah suaminya. Bayangan buruk tentang 'hamil' yang selama ini dilihatnya adalah repot, mulai dari mual dan muntah, sakit punggung, kaki bengkak, dan minta yang aneh-aneh. Ya, bukan masalah besar jika kamu orang yang biasa aja, manusia normal, tapi makhluk kaya Jen, yang udah freak sejak awal dan aneh tanpa perlu hamil, apa tidak semakin ajaib saat hamil nanti?

__ADS_1


Darren terkekeh, ia menangkup pipi Jen dengan kedua tangannya. "Kalau kamu mikirnya gitu, ya bakal gitu jadinya ... kalau kamu mikir susah, ya susah jadinya." Ia menggoyangkan kepala pipi Jen dengan gemas. Istrinya ini bibirnya, Masya Allah ... bawaannya pengen nyium. Eh!


Ketika ia melepaskan tangannya, takut kalau Jen sakit karena perbuatannya, wanita itu malah merengut, sepertinya tidak puas dengan jawaban Darren.


"Em ... kata orang-orang yang pernah hamil, katanya hamil itu menyenangkan, perasaan saat hamil itu gak bisa digambarkan. Kaya kesusahan yang menyenangkan gitu lah. Susah yang ada manis-manisnya gitu." Kini Darren sendiri kelimpungan mencari jawaban melihat reaksi Jen yang makin merengut.


"Yah, kenapa jadi gini, sih?" batin Darren sambil menggaruk kepalanya. Ia bingung pastinya. Referensi soal hamil hanya sebatas melihat saja, mendengar juga sekilas saja. Dan kelihatannya begitu, menyenangkan dan bahagia.


"Kan, Sayangku yang cantik ini punya mama Desy, punya mama Kira, Naja, dan teman-teman lain yang punya banyak pengalaman tentang kehamilan. Nanti tanya mereka ya ... eh, ada dokter Vivian, dokter Luna ... ada mbah G juga ... jadi jangan takut."


Semula Darren hanya mengusap-usap bahu Jen saja, ia takut kalau Jen akan ngamuk dirinya. Namun, ketika istrinya itu mulai melonggarkan kerutan di wajahnya, ia memilih mendatanginya. Mengadukan kembali kepala Jen dengan dadanya.


"Lelaki itu hanya bisa ngomong, kalau perkara hamil, Yang ... kecuali dokter kandungan. Jadi kalau ngomongin hamil aku tuh gak tau apa-apa ... yang aku tau cuma bikin hamilnya yang mudah, enak, dan menyenangkan ... au!" Darren meraih tangan Jen yang mencubit pinggangnya. Terasa perih dan menyakitkan.


Namun, Darren tetap terkekeh dan mengecupi rambut bagian depan istrinya.


"Makanya jangan sembarangan kalau ngomong." ketus Jen yang mendadak resah membicarakan hamil. Ia takut kalau ia tidak bisa menjaga anaknya nanti. Itu terdengar sangat serius dan berat.


Ada nada sumbang dalam suara Jen yang nyolot itu. Tidak senyolot biasanya kalau dia tengah kesal, sehingga Darren langsung mendorong pundak Jen menjauhinya.


"Udah ... gak usah dibahas lagi kalau bikin kamu takut, oke! Sekarang coklatnya diminum, drakornya mau tayang tuh ... jangan mikir yang enggak-enggak. Sama Darren itu harus hepi, gak boleh sedih ... oke!" Jen menggangguk dengan senyum terpaksa.


"Gadis baik ...." Darren kembali mengusap kepala Jen dengan gemas. Ia mengambilkan gelas berisi cokelat yang mulai mendingin, "kalau dingin ngga enak!" Ia mengulurkan gelas tersebut ke depan Jen.


Jen masih terpaku dengan pikirannya yang resah, tetapi ia menekannya dalam-dalam. Tangannya menerima gelas tersebut, lalu segera menyesap coklat yang tak lagi panas. Menghela napas berat, Jen menyandarkan kepalanya di sofa, mencoba menikmati drama kesukaannya yang tayang setiap senin sampai jum'at di salah satu stasiun televisi nasional bernama Jaring TV.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2