
Ketika sampai dikamar, suasana menjadi sangat canggung. Darren yang duduk di tepi ranjang sembari mengajak Ace bercanda, terlihat mencuri pandang dari Jen, sedangkan Jen nampak enggan untuk memulai lebih dulu pembicaraan. Dia malah nyelonong menuju lemari, dan sibuk sendiri. Berpura-pura memilih baju untuk Darren, padahal biasanya Darren tidak pernah pilih-pilih soal pakaian.
Beberapa saat berlalu hanyut dalam suasana hening yang luar biasa menyiksa. Jen yang sudah lelah berdiri, akhirnya berdecak dan memutar tubuhnya menghadap ranjang.
“Ace, papi mau mandi … Ace mainan dulu sama mbak, ya!” ujar Jen pada Ace, Darren dan juga pengasuh Ace yang sejak tadi hanya diam saja. Pengasuh itu kurang inisiatif atau memang kurang peka pada sebuah keadaan, sehingga membuat Jen kesal sendiri. Pengasuh itu terlihat menunduk, mungkin bingung mau melakukan apa. Anak asuhannya terlihat asyik dengan sang papi, jadi dia sungkan untuk menyela.
Pengasuh itu maju dengan perasaan takut, lalu mengulurkan tangannya ke arah Ace. “Ace ayo main sama Mbak …,” katanya gemetaran.
“Ngga mau, maunya sama Papi.” Ace merangsek ke pelukan Darren. Menunjukkan keengganan dengan membenamkan wajahnya di dada sang ayah.
Darren sebenarnya juga masih ingin berlama-lama dengan anaknya, tetapi dia sedang berusaha peka dengan kode yang Jen berikan. “Ace Sayang … sekarang Ace main sama Mbak dulu, ya. Papi mau mandi, abis itu kita main lagi,” bujuknya dengan lembut seraya mengusap rambut Ace.
“Main sama Mami aja kalau gitu, kan yang mandi hanya Papi, Mami udah mandi tadi,” jawab Ace seraya menoleh ke arah Jen sejenak, tetapi ketika melihat maminya merengut dan bersedekap, Ace mendongak menatap Darren, seolah minta perlindungan.
Jen membuang napasnya keras-keras dan bersedekap. Anaknya ini memang banyak bicara dan menyebalkan.
“Mami mau bantuin Papi mandi?” celetuk Ace dengan polos. Ace menunduk, “biasanya Mami kan suka lama bantuin Papi mandi,” sambungnya membela diri saat merasakan kemarahan Jen.
“Ace main dulu sama mbak, ya … nanti baru main sama Papi. Papi kan capek baru pulang kerja.” Pengasuh itu akhirnya bersuara setelah beberapa saat lamanya terdiam, dan wajahnya memerah.
“Bener Papi capek?” Ace memadangi Darren untuk memastikan apa ayahnya memang lelah. Anak kecil itu sepertinya tidak mudah dibohongi. Atau mungkin sering dibujuk dengan kalimat seperti itu, sehingga dia mulai tahan dan kebal, juga tidak mudah percaya.
“Iya, Sayang … Papi sedikit capek, tapi setelah Papi mandi dan menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tubuh Papi, Papi akan main lagi dengan Ace.” Darren menatap anaknya tanpa berkedip agar pria kecil itu mempercayai ucapannya.
“Em … baiklah kalau begitu,” jawab Ace seraya menganggukkan kepalanya.
Darren tersenyum dan mencium pipi anak kesayangannya itu, sebelum menurunkannya.
“Tapi janji ngga lama kan?” baru saja tangan Darren menjauh dari tubuh Ace, anak kecil itu kembali memandangnya untuk meminta kepastian.
Darren menghela napas dan berlutut di depan Ace, tangannya mengusap kepala Ace. “Iya … Papi ngga akan lama.” Ia mengulurkan kelingkingnya, “janji …!” Darren tersenyum ketika Ace benar-benar semringah menyambut kelingkingnya. Ace tertawa, dan dengan riang meninggalkan kamar setelah melambai kepada Papinya.
“Mami jangan gangguin Papi, biar mandinya gak lama!” seru Ace sebelum pengasuh itu menutup pintu.
__ADS_1
Darren lagi-lagi terkekeh mendengar perkataan anaknya yang lucu. Namun segera ia hentikan tawanya tersebut karena Jen meliriknya dengan wajah bersungut. Jen memang tidak melupakan tugasnya sebagai istri meskipun dia masih dalam mode marah. Sekarangpun demikian, Jen segera melepaskan tautan tangannya dan mengambilkan Darren handuk, bedanya dia tidak banyak bicara dan bermanja-manja seperti biasa. Darren menggigit bibir, ketika dia benar-benar menyadari kehilangan sesuatu yang indah tentang hal itu.
“Sayang—“
“Mandilah cepat, kau sudah janji dengan Ace.” Jen menukas perkataan Darren, setelah Darren menerima handuk darinya. Jen sekilas membalas tatapan Darren yang terlihat memelas. Namun, karena dia masih enggan bicara dengan Darren, dia memilih untuk keluar kamar.
Darren tidak tahan lagi untuk menahan rasa bersalahnya lebih lama, sehingga ia langsung memeluk Jen dari belakang. Mengerat tangannya di pinggang.
“Aku tau maafin aku bakal susah, tapi aku tetap mau minta maaf sama kamu, Yang ….” Darren menelusupkan kepalanya di bahu Jen. Namun Jen menjauhkan kepalanya sehingga mereka tetap berjarak. “Maaf, aku keterlaluan sama kamu.”
Darren terus memeluk Jen dengan erat beberapa saaat lamanya. Mereka diam seolah saling menyelami dan mengoreksi. Seberapa banyak mereka berdua salah dan juga alasan mengapa harus memaafkan.
Jen bergerak pelan, dan Darren tahu kalau Jen masih berat memaafkannya. “Seharusnya, aku ngga bicara seperti itu sama kamu, Sayang. Aku seharusnya ngga ragu atau berpikir yang tidak-tidak soal kamu. Maafkan aku yang tidak peka dan seolah lupa kalau hanya aku pria dalam hatimu sekarang bahkan sampai nanti.”
Perlahan Darren melepaskan pelukannya, bukan tidak mau berusaha lebih jauh, tetapi dia lebih memilih memberikan Jen waktu. Membiarkan Jen menentukan pilihannya. Dengan kepasrahan yang benar-benar tidak mampu lagi ia paksakan, Darren menghadapkan tubuh Jen yang juga pasrah saja kepadanya. Tangannya meremas bahu Jen dengan erat. “Aku terima apapun keputusanmu, Sayang. Jelas aku salah, dan kau berhak marah, bahkan jauh lebih parah dari ini juga tidak masalah. Kamu berhak memakiku, mendiamkanku juga meninggalkanku jika perlu. Aku tidak apa-apa, sungguh!”
Jen memandang Darren dengan datar dan malas. Terkesan membiarkan saja apa yang Darren ucapkan.
“Tapi, jika boleh … beri aku maafmu dan kesempatan untuk menjadi suamimu yang lebih baik lagi. Ya …,” pintanya penuh permohonan. Yang benar saja jika dia menerima jika Jen meninggalkannya. Jika Jen meninggalkannya, dia yang akan mendekat. Jika Jen mendiamkannya, dia yang akan banyak bicara, jika Jen memaki penuh amarah, dia akan diam, menerima, lalu menciuminya hingga puas. Hahaha … Darren tertawa dalam hati.
Darren terenyak hingga wajahnya membeku. Tanpa disadarinya, tawa dalam batinnya barusan muncul dan terlukis samar. “A-aku serius, Sayang … tadi-tadi aku tuh tersenyum karena melihat kamu ....” Dalam hati Darren jumpalitan hingga tak mampu melanjutkan ucapannya. Jen sedang menatapnya dengan tuntutan penuh. Ada kala ketika Jen menatap seperti itu, dia hanya mau mendengar jawaban yang memuaskan, kalau tidak … pasti Jen akan semakin semena-mena padanya.
Ingat, Ren … jawabanmu harus sesuai fakta.
Darren menelan ludahnya susah payah. “Kamu tuh, kalau marah imut banget. Bikin aku gemes ….”
Darren mengumpat dalam hati. Kenapa juga jadi gombalan receh, garing, dan gak mutu begitu yang keluar? Ia kembali salah tingkah, apalagi melihat Jen biasa saja menanggapinya.
“Em … pokoknya, kamu itu cantik mau bagaimanapun juga. Makanya aku gak pernah bisa beneran marah sama kamu, gak bisa tahan lama-lama didiemin sama kamu.”
Jen tiba-tiba mendekat, dengan tangan terlipat di dada, masih dengan ekspresi malas dan cuek. Darren mundur, meski pada akhirnya, dia memilih bertahan. “Kamu tuh, gak cocok bicara kaya gitu …!” kata Jen tajam.
Darren membeliak meski gugup. “Kenapa?” benar dugaan Darren, Jen tidak akan puas dengan ucapannya.
__ADS_1
Jen memiringkan senyumnya, “karena kalimat kaya gitu cocoknya diucapkan sama buaya. Kecuali kalau kamu emang punya cita-cita jadi buaya, ya silakan! Ucapkan semua itu semaumu.”
Jen melepaskan tautan tangannya dan berbalik, malas sekali rasanya mendengar ocehan Darren yang menyebalkan. Lagi pula, dia tidak benar-benar marah sampai harus meminta maaf seperti itu. Jen hanya kesal dan malas berdebat dengan Darren.
Darren dengan cepat menyambar tangan Jen yang hendak meninggalkannya, membuat tubuh wanita itu kembali menghadapnya. “Aku ingin jadi buaya kali ini … aku ingin terus mengatakan hal itu. Aku ingin kamu terus bicara sama aku, meski hanya sebuah kemarahan, meski kau hanya akan mengejekku. Aku akan terus bicara hal yang tidak penting sekalipun, asal bibir ini tidak berhenti bicara padaku.”
Ibu jari Darren mengusap bibir merah jambu milik Jen, lalu menariknya mendekat.
Jen merinding hebat saat Darren berpidato panjang lebar, dengan keseriusan yang tampak di wajahnya. Jen merindukan Darren yang suka mencandainya seperti dulu. Dia suka, dia rindu, dan selama lima tahun ini rasanya semua itu hilang. Darren-nya telah kembali, dan Jen benar-benar diam karenanya. Dan ciuman ini, rasanya seperti ciuman pertama mereka dulu, yang penuh luapan perasaan dan cinta. Membuat Jen kembali bernostalgia.
“Maafkan khilafnya Anak Pak Rendi ini, ya, Yang … maafkan kekurangannya, maklumi kebodohannya,” kata Darren selepas ciuman yang nyaris saja tak mampu ia bendung arahnya.
“Tolong katakan pada anaknya Pak Rendi ini, Jen masih kesel karena tuduhan bodoh itu, kecuali kalau diizinkan Ace punya adik lagi.”
“Baiklah, Ace punya satu adik lagi, tapi tidak dalam waktu dekat, setidaknya kita harus benar-benar mempersiapkannya. Terutama kesehatan kamu.”
“Deal … aku mau ke Grenada bulan depan.”
“What?”
“Mau dimaafkan tidak?”
“Iya, mau …!” Darren meringis, barusan yang dikatakan Jen mengejutkan rekeningnya. Seketika, Darren lunglai. Apa kalau mencetak bayi dengan biaya menginap ratusan juta permalam menjadi jaminan kalau bayi yang dilahirkan adalah calon presiden?
“Yang ….”
“Aku ke sana mau liburan, kalau mau bikin bayi di sana aja bisa, kan?” Jen melirik ranjang dengan sinis. Lalu dengan tidak peduli, ia melangkah keluar kamar.
*
*
*
__ADS_1
*
5/5