Suami Settingan

Suami Settingan
Kamu Ngeyel


__ADS_3

Segelas jus jeruk yang kental telah tersaji di depan Jen. Ia tersenyum membayangkan kelakuan suaminya itu yang belakangan ini agak aneh. Seperti bukan Darren yang gamblang mengatakan sesuatu, tapi dia mengambil rute jauh, hanya untuk meminta sesuatu yang amat sangat sepele. Jus jeruk ini adalah salah satunya, lalu terkadang ia membacakan untuknya sebuah artikel tentang pentingnya sayur dan buah untuk ibu hamil, yang sejauh ini agak Jen hindari—juga makanan manis. Bayinya menolak segala jenis sayur, sekalipun sudah dicacah sampai tak berbentuk oleh lidahnya, tetapi baru setengah jalan menuju lambung, sudah kembali keluar lagi. Lidahnya tidak bermasalah, ia mau mengunyah, penciumannya hanya tidak menyukai parfum Darren, selain itu dia sangat baik menerima segala aroma. Yes, ini 9 week pregnancy, dan ini masih seujung kuku perjalanannya sampai genap 9 bulan, sudah banyak macam rasa yang ia terima, tapi sungguh, perasaannya sangat baik.


"Bu, ini dagingnya mau diolah apa hari ini?" suara Ranti membuyarkan lamunan Jen, ia segera bergerak bangun dan tergagap bingung. Ranti berdiri dengan sekotak daging sapi yang masih merah dan irisannya sempurna. Darren secara khusus membelinya dari salah satu pengguna Agribis. Kualitas dan kebersihannya sudah terbukti.


"Oh ... em, enaknya apa ya, Mbak?" Jen menelan ludah membayangkan daging itu berdecis dipanggangan. Setengah matang dan tampaknya lezat. "Em ...," gumam Jen menimbang. Ia melongok ke pintu dapur. Semoga Darren tidak segera datang untuk sarapan.


***


Darren hari ini memutuskan untuk tidak mengurusi pekerjaannya. Secara teknis, dia adalah penggerak setiap pergerakan di Agribis, penentu setiap keputusan, dan meski bukan CEO-nya, secara tidak langsung, semua bergantung padanya. Ibaratnya, Darren adalah otaknya.


Dia menolak segala jenis pekerjaan yang berbau formal. Memakai jas, masuk kantor, jam kerja di atur, dan lain-lain. Darren sejak berhenti dari perusahaan tambang di Kalimantan, memilih untuk menjadikan uang sebagai aset, lalu membiarkan asetnya bekerja. Di galeri Jeje, dia hanya terlihat bekerja agar tidak tampak menganggur. Darren membeli saham publik milik beberapa perusahaan besar, meski kecil-kecilan, itu cukup untuk jajan satu bulan. Lalu beberapa bulan lalu, ia membeli lahan yang sudah dijadikan perkebunan bunga, yang dijual oleh mamanya sekarang. Bisma yang kini mengurusnya, lalu apartemen yang semula akan dia tempati—yang dia bilang ingin mengcancel, itu akhirnya ia beli dan sewakan. Uang motornya tidak boleh habis percuma.


Lalu aja usaha kecil lain yang join dengan kawan-kawan nongkrongnya, juga cukup untuk biaya rumah tangganya. Secara perlahan, ia mulai terbuka pada Jen, dan Jen semula terkejut—agak marah sebenarnya, namun ia akhirnya tertawa menghitung uang belanjanya sebulan. Jangan lupakan, Jen menciumi dan memeluknya semalaman gara-gara ini.

__ADS_1


Wanita itu selalu suka uang!


Lalu berencana bulan madu di Korea, tetapi harus gagal karena sakit ini. Jika hanya hamil, ia bisa menggantinya menjadi babymoon, kalau sakit apa iya diganti sickmoon? Ngga lucu! Apa lagi, saat ini dia sedang mengadu untung akan keadaan bayinya. Semoga pengobatan ini berhasil mencegah virus itu menembus plasenta.


Bau daging panggang khas yang kerap menghinggapi hidung Darren, menyentak lamunan—dia sering melamun akhir-akhir ini. Ia melemparkan ponselnya yang telah dimatikannya itu, bergegas melangkah ke dapur dan memergoki Jen berliur di depan panggangan—dapurnya kini makin bergaya dengan banyaknya peralatan masak yang serba lengkap.


"Berapa kali aku harus bilang padamu, Jenny!" seru Darren dengan langkah lebar-lebar dan mata yang melebar sempurna. Pria itu murka sekarang.


Darren menangkap tangan Jen yang memegang capit untuk membolak balik steak, menarik benda itu dan melemparkannya sangat jauh—mungkin keluar jendela dapur.


"Kau ini bebal sekali kalau dikasih tau, ha ... kamu tau kalau kamu makan daging yang ngga di masak sempurna itu bahaya buat bayi kamu, tapi kamu masih ngeyel! Apa kamu mau bayimu makin menderita, ha?"


"A-aku hanya ingin membuat sensasi rasa—tunggu, menderita? Apa maksud kamu?" Jen semula gugup dan hampir menangis ketika Darren membentaknya, tetapi ketika Darren mengatakan itu, ia merasa kalau Darren menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


"Ya, karena kamu yang bebal, kamu yang suka ngeyel, kamu yang susah dikasih tau, akhirnya bayi kamu yang kena dampaknya! Kamu emang egois dan ngga pernah mikirin orang lain, bahkan bayi kamu!"


Jen menumpahkan tangisnya, "Aku ngga ngerti kamu bicara apa? tapi kamu keterlaluan bicara seperti itu sama aku!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2