Suami Settingan

Suami Settingan
Belenggu Label Halal


__ADS_3

Darren ....


Pria itu menempatkan Jen di tengah ruangan kamar. Ia menahan tautan tangan tetap bersatu di bawah. Sebelah tangannya lagi menahan pinggang Jen yang ramping tetap melekat padanya.


Kedua mata saling berpadu pandang dan menelisik. Jen tidak tahu apa yang ada dipikiran Darren dengan sorot mata yang seperti itu. Seperti sedang mencitra satu persatu anggota wajah Jen.


"Kenapa?" Jen seketika memberengut karena takut telah berbuat salah pada suaminya tersebut. "Aku hanya ngga mau membuat mama sedih, Ren." Mata itu mengawasi Darren bergantian.


"Ish, jangan melihatku seperti itu ... kamu nyeremin, tauk!" Jen berpaling dan menunduk. Darren masih menatapnya sangat tajam.


Jen kembali menengadah, pasrah, "baiklah, ayo kita ke bawah dan bilang kalau akan segera pindah." Ia tahu kalau tatapan itu berarti tidak suka, tetapi ia hanya berusaha menekan sifat egoisnya. Ia hanya ingin label egois itu lepas dari tubuhnya.


Jen berusaha melepaskan tangan dan tubuhnya, tetapi yang ada Darren malah mendorongnya hingga terantuk dinding. Tangannya dipaku di tembok oleh tangan besar Darren. Lalu tubuh pria itu mengunci mati tubuh Jen yang tenggelam di balik tubuh Darren.


"Au ... sakit, Ren! Kau ini kenapa, sih?" Jen meringis menggerakkan tubuhnya, meronta karena Darren kuat sekali mengimpitnya sekarang. Berharap Darren berbelas kasih dan melepaskannya.


"Kamu ...." Bibir Darren telah mendekati pipi Jen. "... selama ini bersikap seperti anak-anak, manja, dan egois. Lalu apa yang kulihat barusan, hem? Kau selama ini berpura-pura agar aku gak suka sama kamu, begitu?" Suara itu rendah, pelan, mengintimidasi, menguliti, tapi berhasil membuat pori-pori tubuh Jen membesar.


"Ish, apaan, sih?" Jen mengedipkan matanya, mengusir perasaan yang selalu membuatnya luluh dihadapan pria itu, "mana ada aku bersikap seperti itu? Aku hanya lelah dikatain egois, Ren ... aku mau berusaha jadi lebih baik! Aku selama ini emang gak pernah baik di mata orang, 'kan? Masa gitu aja kamu ngga ngerti?" sambungnya merengut.


"Ya, tapi tadi itu luar biasa ... kamu sangat memesona." Darren mengecup kening Jen yang langsung merona mendengar bisikan berat Darren. "Mengalah dan mengatakan hal itu, menurutku dibutuhkan kedewasaan berpikir, matang dalam bersikap, juga waktu yang sangat lama untuk belajar. Tapi kamu ...." Darren mencubit dagu Jen dengan jemarinya yang bebas.


Ia berkata tepat di ujung hidung Jen. "Kamu melakukannya dalam waktu singkat. Kamu ...." Darren memberi jeda ucapannya untuk menikmati sentuhan di sisi pipi wanita di depannya ini. Suaranya di rendahkan hingga mendesah. "... membuatku semakin cinta sama kamu, Hani."


Darren mengakhiri gerakannya pada bagian belakang kepala Jen. Menggerakkan ke atas, hingga menengadah. Perlahan sekali Darren menuju bibir Jen yang tercapit diantara gigi-giginya. "Berikan padaku, Hani ...!"


Ah!


Jen seperti berada di sebuah musim yang sangat dingin hingga ia tak kuasa menahan tubuhnya untuk tidak menggigil, ketika Darren memerintahkannya memberikan bibirnya, sampai dia mendesah tanpa sadar. Bagaimana tidak, sejak tadi dia sudah dibuat gemetar dan seperti rasa dalam perutnya jumpalitan. Kesenangan dan melilit-lilit penuh kebahagiaan. Pujian Darren membuat kepercayaan diri Jen meningkat dan tiba-tiba ia merasa menjadi wanita paling istimewa dan cantik sedunia. Kekuatan label halal meski ia belum cinta, nyatanya lebih dahsyat dan syahdu dari pada sebuah bualan yang sering dilontarkan Diego padanya. Belenggu cinta ini seperti mengekang.

__ADS_1


Jen mau tak mau menatap bibir sensual di depan matanya. Ia meyakinkan diri untuk memulainya terlebih dahulu. Yah, Jen ... dia yang gemas, kenapa kamu yang di suruh nyosor duluan? Jangan mau!


Namun, Jen hanya berdecak dalam hati lalu menempelkan bibirnya di sana. Lantas ia bergerak ringan seraya memejamkan mata. Sapuan napas Darren tenang dan berirama ketika mulai membalas ciumannya. Tak ada napsu di sana, hanya saling jujur pada perasaan masing-masing. Jen yang tinggi perlahan runtuh hanya karena satu kalimat dari pria yang selalu meninggikannya.


Darren mendekatkan tubuhnya, menahan tubuh Jen yang melemas, ia belum mau selesai. Hanya memberi jeda sedikit lalu menempatkan lagi Jen dalam kekuasaannya. Ia masih ingin. Masih ingin mendalami rasa yang coba Jen katakan.


Jen memukul pelan dada Darren karena ketika matanya terbuka, bayangan orang tua mereka dan Dinka masuk ke dalam penglihatannya. Kekuatan saat ketahuan memang dahsyat sehingga Jen mampu mendorong tubuh suaminya menjauh.


"Maaf, Ma ...," gugup Jen yang langsung semerah tomat ketika semua orang canggung dengan suasana ini.


Desy langsung menyambar gagang pintu, setelah sadar apa yang barusan dilihatnya seharusnya bukan jadi tontonan. "Lanjutkan saja, dan ya ... em ... kalian kalau mau pindah rumah, jangan jauh-jauh! Biar mama bisa sering-sering datang kerumah kalian." Desy berkata cepat, ia segera menarik daun pintu. Namun ketika ia melihat Dinka yang terbengong dan tampak meleleh melihat kelakuan romatis kakaknya, Desy melepaskan daun pintu dan beralih dengan menyambar tubuh anak perempuannya.


Anak ini, lihat adegan seperti itu! Astaga!


Desy kelabakan sendiri. "Lupakan yang barusan kamu lihat, Din!" Ia menyeret anaknya menjauh. Ia sampai lupa menutup pintu karena fokus mengurus Dinka.


Yah, Mama!


Ya, Tuhan. Mereka co cwit sekali ternyata! Ih, jadi iri sama Jen.


"Mah, kawinkan Dinka saja, Ma! Dinka pengen diromantisin begitu," rengeknya hingga membuat Desy berhenti dan menatap Dinka histeris.


Darren benar-benar merusak otak adikknya.


"Sekolah yang bener, cari duit, dan perbaiki sikapmu! Baru boleh ngimpi kawin dan romantis-romantisan begitu!" Desy berkata dengan gigi saling beradu dan suara penuh tekanan. Tak lupa ia mendorong kepala Dinka hingga gadis itu oleng ke samping.


"Mama!" seru Dinka tak terima. Ia meringis sambil mengusap kepalanya.


"Sampai kamu berkata begitu, mama akan nikahkan kamu sama Riko!" ancam Desy serius.

__ADS_1


Dinka membelalakan matanya. "Mama!"


***


Rendi di atas masih membeku dan canggung. "Eh, itu ... hanya mau mastiin kalau gak ada KDRT diantara kalian." Rendi mengusap belakang kepalanya dan mengulurkan tangannya, "sok atuh lanjutkan! Papa turun dulu." Ia mengusapkan tangan yang baru saja menyilakan anaknya bermesraan kembali. Sangat canggung dan tidak enak hati tentu saja.


Rendi berbalik, pria itu melegakan dadanya yang seolah penuh. Lalu ia melangakah, meninggalkan muka pintu kamar anaknya.


Darren mematung. Ia syok dan juga malu. Tapi ia masih bisa menguasai diri, sementara Jen sudah lunglai dan merosot di ubin ketika papa mertuanya berlalu. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Seakan belum cukup, ia menumburkan lagi pada kedua lulutnya yang tertekuk. Malu bingit.


Namun, ketika Darren merengkuh Jen, suara Rendi kembali membuat dua orang itu terkejut, sampai Darren melepaskan tangannya dari lengan Jen mengakibatkan Jen terjatuh dengan punggung menubruk dinding kembali.


"Lain kali tutup pintunya ...," ucap Rendi yang kembali harus menundukkan pandangannya dan meraih gagang pintu, lantas ia menutupnya dengan cepat.


Astaga!


Darren hanya bisa memisahkan bibirnya dengan tatapan tidak percaya. Mengabaikan Jen yang meringis menahan sakit di bawah sana.


Siyal bingo pagi ini!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Besok minggu, upnya sorean yah sodarašŸ˜† othornya mau piknik ke Bikinii Bottom, nemuin Squidward dan Tuan KrabšŸ˜†


__ADS_2