
Jen pergi ke dapur dan berniat memasak sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya. Mengingat kebiasaan saat bersama mama mertuanya, pertama kali yang dia lakukan adalah menanak nasi. Hal pertama yang Jen cari adalah benda yang digunakan untuk menanak nasi yang sayangnya sepertinya benda eletronik itu belum tersedia di rumah ini. Ya, memang perlengkapan lain masih ada, tetapi untuk lemari pendingin dan rice cooker sepertinya memang sudah tidak berfungsi, sehingga dilenyapkan dari tempat ini.
"Kenapa ngga mikir, sih? Kemarin buru-buru pindah sampe gak mikir kalau belum punya rice cooker." Jen menyikukan tangannya di kedua sisi pinggangnya, berdiri di depan meja dapur sambil menyapukan pandangannya ke seluruh permukaan ruangan tersebut. Oh My God ... sampai hal seperti ini juga dia tidak mengerti. Dasar, Jen!
Ia memutar otak, lalu kembali ke kamar untuk mengambil dompet. Memutuskan untuk membeli saja sarapannya kali ini. Ketika sampai di kamar, ia melihat suaminya masih membalut tubuh bawahnya dengan handuk dan duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakanginya. Seutas handuk menggantung di bahu tegap suaminya tersebut, sesekali ia menarik ujung handuk tersebut dan menggosok rambutnya. Tangannya yang lain sibuk menyangga ponsel di sisi telinga.
"Telpon lebih penting dari pakai baju, ternyata, ya," gumam Jen sambil berjalan ke arah meja rias, dimana ia menyimpan dompet.
"Maunya kamu bunga apa?" Suara Darren menghentikan tangan Jen yang sudah memegang dompet hitam memanjang yang sudah selama enam bulan ini menemaninya. Jen menoleh dengan perasaan was-was. Siapa kira-kira yang menelpon dan menanyakan bunga yang mampu mengalihkan dunia Darren, menjadi prioritas utama suaminya tersebut.
"Iya ... tapi 'kan aku juga gak tau sedetil mama! Makanya lebih baik kamu hubungi mama langsung."
Jen sempat menegang beberapa saat lamanya, napasnya baru saja melewati paru-paru dengan lancar. Orang pesen bunga, rupanya. Jen langsung ceria kembali dan melanjutkan niatnya untuk membeli sarapan.
"Mana bisa begitu? Bukan surprise dong namanya kalau aku kasih tau sekarang." Darren tertawa, membuat Jen mengening dan refleks melirik suaminya yang tidak mengubah posisinya sehingga tak menyadari kehadirannya.
"... udahlah, nanti juga bakal tau. Lebih baik kamu siapkan diri kamu supaya nanti pas nikah kamu fresh, gak sakit, dan yang pasti makin cantik!"
Jen mulai kesal ketika Darren memuji orang lain cantik. Ia merengut dan keluar dari kamar dengan cepat. Kakinya menghentak kesal, sampai ketika ia membuka pintu depan, dia baru mengembuskan napasnya dan berbalik dengan wajah masam.
"Laki dimana aja sama, suka nebar gombalan!" makinya pada pintu yang masih mengayun.
Namun, ketika ia menghadap halaman, tampaklah sebuah mobil yang tertutup sehelai penutup berwarna hitam.
__ADS_1
"Ohmaigat ...," seru Jen sambil berjingkat mundur. Siluet ini jelas menunjukkan apa, tapi punya siapa. Jelas ia tak membawa mobilnya keluar dari garasi, kenapa ada mobil di sini?
"Masa punya tetangga?" Ia mengitari mobil tersebut hingga kembali ke titik temu di mana ia mulai tadi, tangannya mulai gatal untuk tidak menyentuh benda tersebut, lalu mengintip dengan menaikkan penutup hitam tersebut.
"Gila ... ini mobil baru!" bisiknya sambil menutup kembali penutup tersebut. "Punya tetangga beneran ini, pasti mau kasih surprise istrinya ini ... daebak! Sweet banget mereka yak!"
Ia menggelengkan kepalanya, lalu masih menatap mobil tersebut, kakinya melangkah meninggalkan halaman menuju warung makan yang biasa menyediakan sarapan pagi.
***
Darren telah selesai bersiap, memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang lengkap dengan sepatu biru dengan logo mirip tanda centang berwarna putih.
"Sayang ...!" panggilnya saat setiap ruangan yang ia lewati terasa sepi. Ruang makan juga tak ada aura Jen tersisa, bahkan aroma wangi wanita tersebut juga tak meninggalkan jejak di penciuman Darren. Hening.
Darren harus menahan hampa, melihat dapur benar-benar kosong. "Kemana dia?" Darren mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, lalu mengusap wajah hingga ke rambutnya yang panjang di bagian depan.
Darren sigap dengan langkahnya, ia berlari ke depan, tetapi masih tak ditemukan Jen di sana. Tak ada yang berubah sama sekali di mobil yang ia tutup sempurna.
"Apa dia belum keluar rumah? Tapi kenapa rumah ini sepi? Apa dia sembunyi?" Darren menoleh ke kanan dan kiri, ia mendepa kusen pintu dengan kedua lengannya. Dalam hati ia bersumpah, jika Jen mengerjainya, maka ia akan meringkus wanita itu tak bersisa. Darren membuka setiap kamar dan tempat yang bisa saja menjadi celah untuk bersembunyi. Sayangnya, hingga mencapai pintu belakang dan halaman kecil di belakang rumah, ia tak menjumpai siapapun.
"Jen ... kamu kemana, sih?" Mau tak mau ia mulai panik. Ia menekan kusen pintu belakang. Batinnya mulai jumpalitan.
Darren menghela napas sebelum berbalik dan mengusap wajahnya berulang. Namun, ia melompat mundur ketika fokus matanya menangkap bayangan Jen malah menatapnya heran.
__ADS_1
"Kamu dari mana?" sergahnya tak sabar. Ia langsung merangsek ke arah Jen yang berjalan pelan ke meja makan.
Jen meletakkan dua bungkusan berisi nasi pecel, dua pak peyek kacang dan udang, satu bungkus plastik berisi tusukan telur puyuh, dan satu bungkus lagi berisi ampela yang digoreng.
"Beli sarapan ... memangnya mau kemana lagi?" jawabnya enteng. Ia berbalik dengan setengah wajahnya naik.
"Kenapa gak bilang? Aku bingung cariin kamu ... pamit kek, apa kek." Darren mendekati Jen tanpa meninggikan suaranya. Ia langsung duduk dan membuka bungkusan di depannya.
"Lain kali, kemana-mana izin dulu, biar aku gak panik cari kamu!"
Jen menguapkan napasnya, ia beranjak menuju tempat piring, gelas, dan sendok berada. Mengambil masing-masing dua dari jenis itu. "Aku gak mau ganggu kamu yang lagi teleponan!" seperti di ingatkan akan kejadian sebelumnya, Jen menjawab suaminya masam. "kayaknya asik banget," sambungnya lirih, terkesan menggerutu.
Darren baru saja akan membuka karet pengikat bungkusan makanan, ia terpaksa menghentikan gerakannya. Matanya menatap Jen dengan kerutan beranak pinak di keningnya. Nada itu terdengar kembali sumbang dan fals dalam alunan melodi yang telah di rekam Darren sebelumnya.
"Seperti apapun keadaanya, kamu 'kan bisa memintaku berhenti dulu ...," ia melanjutkan lagi gerakannya membuka bungkusan-bungkusan tersebut, ketika Jen telah bergabung lagi dengannya di meja makan. Benar saja, wajah itu mengerutkan bibirnya, masam dan bersungut.
.
.
.
.
__ADS_1
#maafkantypo