Suami Settingan

Suami Settingan
Terima kasih


__ADS_3

“Aku baru saja bertemu Hero …,” ujar Jen lambat dan seperti dipaksakan.


Darren yang baru saja selesai menjalankan ibadah sholat ashar menoleh, dan bangun tergesa-gesa. Ia sangat gembira melihat Jen yang sudah lebih segar daripada beberapa saat lalu saat dia baru saja bangun.


“Aku … baru saja … bermain dengannya.” Terbata-bata ia mengulangi perkataannya. “Dia bilang dia sudah bahagia di sana, dan ….”


“Sudah ….” Darren membungkuk untuk memeluk Jen yang sudah bersimbah air mata. Wanita itu meraung dalam dekapan Darren.


“Kenapa, Ren? Kenapa dia tidak menungguku? Aku sudah bangun, tapi dia malah pergi? Kenapa?”


“Dia tidak ingin melihatmu bersedih, Sayang ….”


“Dia pasti membenciku ….”


“Tidak … Hero sangat menyanyangimu.” Darren melepas pelukannya, menangkup pipi Jen dan mengusap air mata yang membanjir di wajah sayu Jen. “Jangan berkata seperti itu, Hero tidak mungkin membenci wanita yang begitu hebat mempertahankannya, berjuang bersama dengannya. Hero pasti ingin menemuimu dalam keadaaan yang lebih baik ….”


Darren mengakhiri kata-katanya dengan mengecup kening Jen agar dia sedikit lebih tenang. Yang paling menyedihkan dari luka setiap pria adalah dia harus tetap kuat dan tegar demi orang-orang yang disayanginya.


Seorang suami dan ayah pasti akan semakin terluka melihat kesayangannya begitu dalam merasakan kesedihann dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menghiburnya. Seharusnya, sebagai pria yang tulangnya ribuan kali lebih kuat, bisa melakukan apa saja untuk membuat orang-orang yang dikasihinya menerbitkan senyum.


“Tolong jangan katakan itu lagi, ya … itu hanya akan menyakiti Hero. Dia sudah bertahan sejauh ini dan kita tidak boleh memaksanya merasakan sakit lebih lama. Kau pasti bisa merasakan betapa kuatnya dia selama ini, kan? Selamanya Hero akan seperti itu, akan dikenang sebagai pria yang hebat. Yang begitu kuat mendukung maminya ….”


Jen mulai reda tangisannya. Perkataan Darren seolah mengingatkan pada janjinya sendiri kalau akan menerima apapun yang akan menjadi resikonya, meski bukan ini yang dia inginkan. Jika boleh, dia saja yang merasakan sakit, sementara anaknya akan tumbuh baik dalam asuhannya, dan Darren.

__ADS_1


“Hero ….”  Jen menghela napas. Dadanya terasa berat, kerongkongannya terasa nyeri, sakitnya mulai menyayat, tetapi ia harus memaksakan diri untuk kuat. Tangannya yang lemah merangkak untuk menyentuh dada Darren yang masih membungkuk di atasnya. Perlahan ia beranikan diri untuk menatap mata Darren, yang sejak tadi ia hindari. Dan Darren tersenyum.


“Dia senang bermain di sana ….” Jen meremas baju Darren, memejamkan mata yang terasa panas. “Dia … memegang tanganku, menuntunku ke sebuah cahaya yang terang dan silau. Lalu melepaskan tanganku.” Jen menangis lagi, suara tak terdengar jelas. Tertutup oleh selimut luka dan air mata.


Darren meraih tangan Jen dan menciuminya, “Di sinikah dia memegangnya?” ia menciumi tangan kiri Jen yang terasa basah dan hangat. “aku merasakannya …,” gumam Darren. Seolah ia merasakan bekas sentuhan anaknya yang entah seperti apa di dalam mimpi Jen.


Jen menggigit bibir, sungguh sakit rasanya kehilangan ini, tetapi ia harus kuat. Dia harus ikhlas. Ia hanya yakin kalau Hero akan lebih bahagia dalam dekapan Sang Khalik.


“Tunggu mami, ya, Sayang … tunggu kami semua, Hero.”


Keterbatasan Jen dalam bergerak membuat Darren tak bisa meraupnya dalam pelukan. Ia hanya bisa menenangkan dengan terus mengusap dan menyeka air mata Jen. Ia tahu Jen sedang berusaha menerima semua ini. Bagaimanapun, dia membawa mereka dalam satu raga, tidak mudah tentunya untuk ikhlas begitu saja, jadi Darren mencoba mengerti dengan membiarkan Jen mengangsur lukanya sedikit demi sedikit. Ia tahu kehilangan selalu tidak mudah untuk ditepikan dukanya.


“Apa kau mau melihat Hero?” kata Darren tiba-tiba. Tanpa menunggu persetujuan Jen, ia membuka ponselnya, dan menunjukkan foto Hero yang sempat diabadikan oleh salah satu perawat. Sementara ia juga menunjukkan satu buah foto yang ia ambil sesaat sebelum ia menemani Jen subuh tadi pagi.


“Dan dia kuat seperti kamu ….” Darren mengimbuhi. “Kau tau … aku sangat iri padamu.” Jen menoleh, meski air matanya meleleh, dia sudah bisa menguasai diri.


Darren mengangguk dan menipiskan bibir. “Dia sudah bermain bersamamu dan sudah menunjukkan bagaimana rupanya saat besar nnti, sementara … aku hanya bisa membayangkan dan menunggu Ace besar.” Katanya sambil merengut.


Jen mau tak mau tertawa juga, ekspresi Darren sungguh lucu sekali. “Menungguku baik sama kamu aja, kamu sabar kok, masa nungguin anaknya gede, gak sanggup?” ia mengusap air matanya. Dan memandang Darren penuh rasa terimakasih.


“Terimakasih sudah sabar denganku selama ini … terimakasih—"


"Jangan ucapkan terimakasih ... aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai suamimu." Darren tersenyum sembari mengusap kening Jen. Melihat Jen seperti ini rasanya dia sangat bahagia.

__ADS_1


"Em ... waktunya menjenguk Ace. Tapi sayang kau belum boleh ikut."


"Ace?" beo Jen dengan kening mengerut.


Darren seakan lupa, kalau dialah yang menamai anak-anak mereka tanpa memberitahu Jen. "Sorry, aku spontan memberikan nama kepada anak-anak kita!" Darren meringis. Kemudian ia mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa tahu kalau satunya bernama Hero?"


Jen malah terbengong dengan bingung. "Kau menyebutkannya keras-keras sebelumnya, kan?"


"Dimana? Kapan?"


"Lho ...? Bukannya kamu hanya menyebut nama itu dari entah kapan dan aku dengar semua yang kau ucapkan ...." Jen semakin heran dengan tingkah Darren yang seperti kebingungan.


"Ya ... entahlah," kata Darren akhirnya. "Aku ... terlalu banyak yang aku ucapkan, jadi aku sendiri tak ingat aku bilang apa." Darren meringis bingung dengan tangan menggaruk pelipis.


"Tidak mungkin kan dia dengar? Atau mulai bisa dengar batin seseorang? Bisa gawat kalau abis pingsan trus punya kekuatan aneh? Gawat hidupku nanti ... gak bisa mengeluh dengan kecerewetannya." batin Darren meringis ngeri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2