
Darren pulang setelah lewat jam delapan malam, kusut dan terlihat lelah. Pria yang tidak suka berpenampilan formal itu mengucapkan salam kendati rumah terlihat sepi, tetapi ia tahu kalau Jen ada di rumah.
"Dosa ka—kalau gak jawab salam dari suami ...." Ia tercengang melihat meja makan penuh dengan seperangkat alat shabu-shabu dan dikelilingi tiga makhluk hidup yang sedang sibuk menggoyangkan sumpit di atas air yang mengepulkan asap tipis. Dua diantara mereka menoleh dengan senyum sebagai ganti sapaan. Mulut mereka yang penuh dengan makanan menggumamkan jawaban salam. Sementara si wanita, terlihat tidak peduli dan terus menggoyang sumpit di dalam kuah, lalu memakannya setelah meniupnya sebentar.
Melihat ini, Darren lega, setidaknya Jen masih menikmati makannya. Terlihat lahap dan berselera, sebab dari kemarin ia tak melihat istrinya itu makan.
"Duduk Kak ...," kata Aziel sambil menarik kursi untuk kakak iparnya. Dengan cepat pula ia mengambilkan sumpit dan mangkuk kecil berwarna hitam di depan kursi yang ia tarik barusan.
"Sudah lama?" Darren tergugah dari pandangan setengah melamun melihat istrinya, lalu duduk di kursi yang telah tersedia.
"Udah ...," jawab Agiel sambil menyalami kakak iparnya. "Kenapa pulang larut sekali, Kak?"
Darren tidak heran dengan dua adik iparnya yang begitu perhatian padanya. Memang mereka selalu bersikap begini, tetapi ada yang janggal dari semua ini.
Darren mendudukkan tubuhnya dengan tegak, ia mengait sumpit di antara jemarinya—mengetukkannya di atas mangkuk agar mencapai posisi nyaman untuk mencapit olahan di depannya. "Pria 'kan harus kerja ...," jawabnya enteng, sekilas ia melirik Jen yang masih setia menolak melihat ke arahnya.
"Padahal dia baca chatku? Kenapa gak mempan juga?" batin Darren ketika tangannya mencapit irisan daging berwarna merah.
Agiel menyela, "Ngga belok ke kos cewek lain 'kan?"
__ADS_1
Darren menggoyangkan sumpitnya di atas kuah yang menggelegak lembut. Ia mendengkuskan tawa, "aku ngga seberengsek itu ... lagian aku bukan tukang ojek, ngapain belok ke sana?" Bola matanya bergerak untuk memberikan tatapan pada istrinya yang terlihat tidak terpengaruh.
Darren mencapai satu simpulan, wanita itu memanfaatkan kedua bodyguard setianya untuk menginterogasinya. Yah—Darren tersenyum sinis, antara pintar, gengsi, dan takut melukai. Jen cukup cerdik menyelesaikan masalah dengannya. Tetapi entah apa yang Jen janjikan untuk kedua adiknya ini. Yang selalu Darren herankan adalah kedua adiknya itu selalu mau menuruti kemauan Jen.
"Nanu udah pergi karena dia suka sama kakak, lebih tepatnya dia salah paham dengan perhatian lebih yang kakak berikan padanya, lalu kakak menikahi kak Jen, menurutku itu agak berengsek, sih," sahut Aziel dengan bahu naik dan kepala mengendik. Ia tidak menatap Darren, hanya sibuk makan dan mengisi mangkuknya dengan sayuran dan jamur.
Darren menoleh, menelan daging yang baru saja di masukkan ke dalam mulutnya, "ya, itu salahku memang." Ia kembali fokus pada apa yang akan menjadi mangsa sumpit ditangannya, selanjutnya. "Karena aku ngga tegas memberi batas. Pria dan wanita itu tidak pernah murni dalam sebuah hubungan pertemanan maupun 'adik kakak'. Meski maksudku adalah Ranu kuanggap adik karena suatu hari akan jadi adik iparku."
Mereka diam, hanya denting sumpit, suara kuah mendesis, suara tiupan kecil pada makanan yang baru saja di angkat dari steambot dan cecapan nikmat yang menyela di antara lidah-lidah mereka.
Dari sini Darren melihat Jen terus berupaya tidak peduli, meski ia yakin telinganya tegak mendengarkan, hatinya sibuk mencocokkan, kesesuaian ucapan dan keadaan.
Darren menarik napas dan meletakkan sumpitnya, ia menghadap Agiel. "Baiklah, aku salah. Aku telah membuat Nanu kalian sedih dan pergi ... lalu aku harus apa? Aku juga sudah jujur sama Nanu, kok ... dan dia bilang mau menerima semua ini. Mungkin yang benar adalah Nanu sedang ingin menenangkan diri, berdamai dengan keadaan. Setiap orang berbeda cara menyikapi sebuah luka, ada yang lantang dan berani menghadapi, ada pula yang memilih pergi dan memilih tidak tahu sama sekali. Kita hanya bisa mendoakan dan berharap yang baik untuk Nanu, 'kan?"
Darren bergiliran menatap ketiga makhluk yang kicep di depannya ini. Yang masih setia menolak tatapannya. Yang masih berselera pada makanan yang sebenarnya lezat ini. Darren sudah berhenti sejak tadi. Rasanya hambar, tetapi ia belum mencoba sayur yang mungkin sudah ke sepuluh kalinya diisikan ulang ke dalam kuah itu.
Memberanikan diri menegakkan sumpit lagi, Darren mengambil sayuran di depannya. Dan ini tidak buruk, malah lebih enak dari pada dagingnya yang rasanya seperti sepah.
"Aku sudah memiliki kakak kalian sebagai satu-satunya wanita yang akan menemaniku sampai tua," kata Darren setelah menghabiskan satu mangkuk penuh sayur dan jamur. Lalu ia menarik tubuhnya berdiri, menyematkan tatapan penuh keseriusan dan kesan tajam.
__ADS_1
"Kalian seharusnya tidak meragukan ku, pun denganmu, Jen ... perlu berapa kali aku bilang bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku telah berjanji kepada Tuhan, aku tidak akan pernah mengingkarinya."
Darren berlalu dari meja makan setelah mempersilakan mereka melanjutkan makan.
"Ya, aku memang tidak ragu ... tapi istrinya ini sensi dan baper," gumam Agiel yang mampu di dengar oleh Jen yang menghela napas berkali-kali.
"Kan? Jadi kita berdua yang terlihat beego." Agiel menurunkan bahunya. Ia sungguh menyesal hari ini datang kemari. Mereka hanya ingin melepaskan rindu dengan kakaknya, berbagi canda dan tawa, bukan malah jadi alat perdamaian begini.
"Makasih, ya, Dek ... udah jadi jembatan kakak kalian ini." Jen berkata tulus. "Sisanya biar kakak bereskan sendiri."
Dek? Dua saudara kembar itu saling mengadu pandang dalam heran. Semua anggota keluarga mereka berangsur menjadi normal, setelah kakak pertamanya yang kini menjadi sering tertawa, kini si galak yang suka ngakak gak kira-kira jadi selembut tahu sutra. Astaga! Apa besok langit akan runtuh?
.
.
.
.
__ADS_1