Suami Settingan

Suami Settingan
Naluri Tanpa Disadari


__ADS_3

Jen merutuki dirinya yang hanya bisa pasrah dan mendesah dibawah suaminya pagi ini. Sehingga ia masih manyun meski sebelumnya ia begitu mencecap dengan nikmat vitamin kompleks yang disuguhkan Darren padanya.


Jen menyiapkan sarapan seadanya, nasi goreng, telur mata sapi yang fail baik bentuk, rupa, dan kematangannya. Susu hangat seputih awan mengepulkan asap tipis dan aroma manis mendampingi sepiring nasi goreng yang sengaja ia letakkan di piring sekalian. Hemat wadah, sama artinya hemat tagihan air dan tenaga. Celemek dengan motif bunga matahari itu menjadi pelampiasan tangan Jen yang butuh lap. Lantas ia campakkan begitu saja di kursi yang ia duduki, setelah puas mengeringkan tangannya.


Ketika duduk, ia kembali sadar bahwa kursi di depannya masih kosong dari penghuninya. "Hassh ... apa sih, yang dikerjakan dikamar! Jangan bilang kalau tidur lagi!" Jen kembali bangkit dan berjalan menghentak menuju kamar. Namun, ketika ia baru sampai di ujung pintu dapur, tubuhnya berpapasan dengan Darren yang terlihat menyangga ponsel di samping telinganya.


"Jen ... aku berangkat dulu ya, aku ada banyak pekerjaan," pamitnya, mengabaikan wajah Jen yang tampak masam. Apa yang salah? Lagi!


"Tapi—"


Suara di ponsel Darren rupanya membuat suaminya tersebut lebih memilih menjawab panggilan itu daripada dia.


"Ya, Tam ... aku dalam perjalanan. Kamu tunggu di situ dulu, ya ...," tangan Darren mengisyaratkan agar Jen diam selagi ia menjawab panggilannya.


"Oke ... tunggu, ya ... share loc secepatnya!" Usai berkata begitu, Darren melukis senyuman singkat.


"Aku bakal naik taksi, kamu yang bawa mobilnya! Mama barusan telpon kalau suruh nganter kamu ke rumah, tapi ...," jeda ia berikan untuk melihat jam yang melingkar di lengan pria itu. "aku terburu-buru."


Sebentar! Jen sebisa mungkin tidak berpikir buruk, tapi jam tangan? Sejak kapan Darren pakai jam di tangannya. Itu tampak familiar di matanya. Dimana?


"Oke, Sayang ... aku berangkat dulu, gak papa, 'kan?" Ia mengusap sekilas rambut Jen dan melengkungkan senyum.


"Sarapan ... nya—" Pernyataan Jen menggantung di udara. Darren telah melesat keluar rumah menuju halaman rumah tanpa menghiraukan dirinya.


Jen berpikir sejenak lalu menyusul pria yanh telah jadi suaminya itu keluar rumah, tetapi Darren sudah mencapai taksi yang ia pesan sambil terus berbicara dengan teleponnya.

__ADS_1


"... aku akan bersama Tamy di kota B, tolong handle kerjaan dulu, ya! Kalau lancar gak bakal sampe siang udah balik kok!" Darren sudah memasukkan separuh badannya ke dalam mobil, tetapi bayangan Jen sepertinya masuk dalam jangkauan pria itu sehingga ia menoleh dan melambai. 'Bye' katanya, sambil terus melepaskan senyuman hangat sehangat matahari pagi ini.


Jen memandang hampa taksi yang mengusung tubuh Darren yang menjauh dari rumah mereka. Ada rasa dingin menyergap secara tak jelas mendengar perbincangan Darren dan orang tadi di telepon. Entahlah apa itu, tapi kenapa selalu Tamy?


Ia kembali dengan perasaan tak tenang dan gelisah. Ke luar kota—meski tidak terlalu jauh juga, tapi semua bisa terjadi 'kan? Apa dia harus terus-terusan mencemburui suaminya? Jelas-jelas ketika ia menanyakan tentang perasaannya pada Ranu saja, Darren sudah kesal seperti itu. Dan kini, ketika ia belum sempat mengklarifikasi semuanya, Tamy menjadi momok lain dalam biduk rumah tangganya yang masih sangat lemah tegaknya.


Jen menghela napas, memutuskan untuk meminum susu saja dan tidak jadi sarapan, mengingat rumah ini jadi terasa dingin baginya tanpa Darren. Tentu dengan kekecewaan yang besar juga saat Darren lebih mementingkan Tamy dari pada sarapan yang hangat dengannya.


***


Jen pada akhirnya meluapkan kesal dengan tidak memakai mobilnya juga. Memilih naik ojek yang secara kebetulan melintas.


"Makasih, ya, Pak ...." Jen menyerahkan helm kepada tukan ojek tersebut dengan senyum cerah. Ditambah mama mertuanya terlihat dari jaraknya kini tengah berlari menyambutnya.


"Lagi males nyetir aja, Ma ...." Ia akhirnya berkesempatan berbicara setelah banyak sekali ucapan mama Desy yang membuatnya bingung, lalu ibu dari suaminya tersebut bertanya lagi mengenai 'tidak membawa mobil kemari'.


Namun, ketika ia menyadari bahwa mama Desy mengulangi pertanyaannya akan hal tersebut, Jen secara tidak sengaja melihat raut wajah mama mertuanya.


"Em ...," gumam Jen ragu, "apa mama memerlukan mobil untuk mengantarkan pesanan bunga?" Sedikit menebak dan berharap mamanya hanya ingin tahu apa ada masalah dengan mobilnya. Atau mungkin alasan lain yang masuk akal.


Desy tersenyum dengan sedikit bingung dan tidak enak berkata. "Darren tadi nawarin soalnya, eh ... nanti mama bakal pake gojek aja, Jen ... gak papa. Mama tau kamu lelah juga." Ia sedikit maklum, mungkin Jen memiliki alasan lain yang agak sungkan untuk ia utarakan secara terbuka.


Sumpah demi apapun, Jen tidak tahu akan hal ini sehingga ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa bisa berkata-kata. Darren sudah memintanya tadi, tapi karena ia sedang dalam mode 'entah' pada Darren, jadi ia abai saja dengan anjuran suaminya.


Dengan rasa bersalah menggunung, Jen dengan gugup berkata. "Biar aku ambil aja, Ma ... biar lebih hemat waktu."

__ADS_1


"Mama ngerepotin kamu, ya." Desy mau tak mau merasa bersalah, ia sungguh membuat anak mantunya itu dalam kesusahan karena ucapannya. Seharusnya ia tak mengungkit apapun, apalagi menggunakan Darren sebagai alasan agar Jen mau menurutinya.


"Sama sekali enggak, Ma ...." Jen menggeleng dan melengkungkan senyum hingga gigi putihnya tampak. Ia belum sempat duduk, jadi ia segera keluar usai mengatakan pamit pada mama mertuanya. Tepat saat itu, Dinka juga keluar dari dalam rumah dan menuju motornya untuk berangkat kuliah sepertinya.


Jen mendekat untuk minta tumpangan sampai ke jalan besar, setidaknya mudah menemukan taksi di sana. "Din ... boleh numpang sampai jalan di depan?"


Dinka yang sedang meloloskan helm di kepalanya, menoleh dengan raut semringah yang pudar. Ekspresi ketus dan tidak suka memenuhi wajahnya. "Aku buru-buru, pesen aja taksi dari sini." Ucapan ketus pula sebagai jawaban, dan sedikit menyolot.


"Di depan pasti mudah nyari taksi, kalau di sini bakal lama nungguinnya." Jen berpikir Dinka akan mengerti keterdesakannya, tapi rupanya gadis itu memilih abai. Ia menstarter motornya dan memutar haluan motornya tersebut tanpa memandang Jen lagi.


"Din—" Jen merasa percuma saja jadi ia segera mengeluarkan ponsel dari tasnya untuk menghubungi taksi melalui aplikasi.


Beres dengan acara memesan, Jen baru bisa meratap akan kebodohannya pagi ini. Sekali lagi, ia mengedepankan cemburu dan mengabaikan perintah suaminya. Akhirnya, malah ia kerepotan sendiri.


Jen mengeluh pasrah. "Darren, kamu lagi apa?" Bayangannya, suaminya belum makan sesuap nasi ataupun seteguk air, "apa dia sudah makan?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2