
Jika boleh, Darren akan melewati hari ini, melompat ke hari bahagia selanjutnya. Sungguh ia belum pernah berada di waktu penuh penghakiman seperti hari ini. Hanya karena segumpal darah yang belum jelas bentukannya itu, dia harus pucat pasi dan berkeringat dingin.
"Hei, ini hanya USG saja, kenapa harus sehoror itu, sih, kamu?"
Darren mencoba menanggapi perkataan Jen dengan tawa, yang malah berakhir seperti orang menahan sakit perut.
"Tenanglah." Jen meraih tangan Darren dan membawanya ke perutnya yang rata. "Anak kamu baik-baik saja."
Dan, senyum Jen yang begitu cerah itu malah membuat Darren semakin sakit. Rasanya bibirnya sudah tak tahan untuk meneriakkan kata-kata yang mengatakan bahwa kalian berdua sedang terancam. Namun, Darren menggigit ujung lidahnya dengan pilu. Senyumnya getir terlihat, dan sepertinya Jen melihat ini sebagai pertanda yang kurang baik.
"Apa ada yang tidak beres denganku?"
"Sudah siap bertemu bayi kalian, ya?"
Andina datang dengan membenarkan sarung tangan lateks yang baru saja di pasangkan membungkus tangan kirinya, seperti seorang penyelamat bagi Darren yang hampir menangis. Kedua orang itu menoleh, dan mengangguk diiringi senyum sesuai perasaan masing-masing.
"Tentu, Dokter ... kemana dokter Luna?" Jen tahu siapa saja dokter kandungan di sini, dia sering datang kemari, terakhir beberapa waktu lalu ketika menemani Naja memeriksakan Cio.
__ADS_1
"Eh, beliau berada di ruang bersalin." Andina mengambil posisi duduk di sebelah Jen, yang sudah siap meski terlihat gugup. "Okey, kita lihat dedek bayinya sudah berusia berapa minggu, ya ... kalau maminya lupa terakhir datang bulan, artinya, hanya melalui USG saja kita bisa memperkirakan HPL-nya."
Andina tersenyum sembari terus bergerak di atas kulit perut Jen. "Wah, udah kelihatan itu, ya ... ini," Andina menunjukkan bulatan kecil dengan titik samar di salah satu sudutnya. "Key, terlihat baik-baik saja, tapi ... ini kayaknya dua, deh ...," katanya sedikit terkejut dengan penglihatannya, sampai ia membenarkan letak kacamatanya.
"Dua, Dok?" Baik Jen dan Darren memekik hingga seperti tersedak. Oh my ....
"Sepertinya, sih, tapi ini hanya kelihatannya saja, kita lihat lagi nanti kalau sudah sedikit lebih besar usia kandungannya." Andina seperti sibuk sendiri dengan kedua tangan yang menghentikan tampilan gambar di layar setelah dirasa menemukan angel yang tepat, lalu bergumam-gumam tak jelas—seperti menghitung.
"Okey, ini sekitar 8-9 minggu, ya, Mami ...," Andina menunjukkan angka yang tertera di layar, "baby-nya sehat, nanti kita akan periksa kembar atau tidaknya sekitar usia 15 minggu." Andina menatap Darren terlebih dulu dengan tatapan yang berarti. Lalu beralih ke Jen dengan senyum lebar.
"Sehat-sehat, ya, Mami ... jaga kesehatan dan jangan memaksakan diri untuk bekerja. Pola makan seimbang dan sehat, istirahat cukup, dan jangan stress, agar maminya sehat, debaynya sehat juga."
"Kenapa kamu ngelamun, sih?" Jen menyikut Darren yang melamun. Ya Tuhan, apa dia tidak senang mau punya anak? Kenapa tidak seperti kak Excel yang langsung over protektif pada Naja, yang langsung bucin akut dan senyum lebarnya malah terkesan mengerikan ketika Naja hamil. Darren sebaliknya, lelaki itu tampak horor menanggapi kehamilannya. Dan Jen tidak senang. Bukan ini yang dia harapkan.
"Aku hanya terlampau senang, Sayang ...," kata Darren akhirnya setelah kelimpungan mencari alasan yang tepat.
"Ya, aku melihatnya. Kau senang sekali sampai terlihat kau seperti tercekik." Jen berkata ketus. Kesal sekali ketika Darren merespons seperti itu.
__ADS_1
Dokter Andina melihat ini semua dan memandang Darren penuh prihatin. Ia berniat menengahi.
"Semua test dan hasil lab sudah keluar, Tuan, anda bisa mengambilnya setelah ini." Andina mengangguk, seolah memberikan kode kepada Darren. Lalu tersenyum lagi ke arah Jen.
"Mami kembali ke kamar, ya ... biar calon papinya yang mengambilkan obat. Mami harus banyak istirahat." Andina hanya bisa menghibur seperti itu, dia tidak ahli menenangkan seperti dokter Luna. Dia terbiasa serius dengan kehamilan yang beresiko yang terkadang berakhir mengerikan. Ia tak mau berlama-lama melihat air muka Jen—atau calon-calon ibu yang lain, yang memiliki riwayat kehamilan yang berisiko, rasanya sangat kejam ketika ia membunuh rasa bahagia itu dengan vonis yang dikeluarkannya.
"Suster ... antarkan Nyonya Jenny ke kamarnya, ya ... Tuan Darren, silakan ambil hasil labnya sekalian mengambil resep obat untuk Nyonya." katanya sekaligus dan cepat, membuat semua orang yang ia panggil melakukan tugasnya secepat kilat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.