
Pintu membuka lagi, kali ini dengan tidak sabaran. Menampakkan Excel yang napasnya masih satu dua dan keras sekali. Dua wanita menoleh dengan antusias dan menahan napas, berpikir itu Jeje.
"Hei, kau membangunkan anakmu, Dad!" pekik Naja dengan suara tertahan. Ketar-ketir memandang ke arah ranjang dimana bayi itu bergerak gelisah tiap kali mencium aroma ayahnya.
"Sayang ...," erang Excel. Nadanya keberatan. Jen curiga, itu panggilan intim mereka berdua karena kakaknya terlihat kurang nyaman dan sedikit salah tingkah saat bersirobok dengannya. Dan apa itu? Si cuek dingin angkuh itu merona? Seketika, Jen menyibak tirai dengan cepat. Diluar tidak terlalu panas juga.
"Woah ... ini luar biasa!" Jen bergumam dan itu membuat Naja dan Excel saling pandang.
"Apanya?"
"Eh ... bukan apa-apa!" Jen meringis, "bukan sesuatu yang penting, hanya ... sedikit dingin." Jen bergidik dan memeluk lengannya. Dia tak bisa menyembunyikan kegembiraan ini. Kakaknya telah meleleh parah. Dan itu bagus sekali. Setidaknya dia akan melihat banyak tawa dan mencandai kakaknya semaunya.
Excel mencebik dan berdecak, ia lantas mengalihkan perhatiannya pada Naja yang masih mengerutkan keningnya. "Ha—em, Yang ... Cio aman, 'kan? Kita keluar sebentar, yak ...." Excel mengisyaratkan sedang terburu-buru. Kelabakan mengambilkan Naja outer sembari terus berhitung dengan jam yang berada di lengannya. Tangannya dengan gesit merapikan anak rambut Naja yang menuruni kening.
"Mau kemana, sih?" Akhirnya Naja bersuara, setelah ia berhasil memakai outer mustard tersebut.
"Ikut saja, ya ... jangan ribut, nanti dia bangun." Excel berlari keluar, entah apa yang akan pria itu lakukan. Dan meski bingung Naja mengikutinya saja.
"Siapa yang ribut, siapa yang dituduh?" gumam Naja sembari menengok anaknya sejenak.
__ADS_1
"Ayo, Yang ...," ajak Excel yang telah muncul kembali dengan salah satu pengasuh Cio.
"Mba—"
"Udah aku kasih tahu ...." Excel menyela dengan tidak sabar dan hal itu berhasil membuat Naja jengah. "udah ayo buruan!"
"Ikut!" Jen akhirnya bersuara setelah matanya berputar dan pening melihat keributan barusan. Ada yang aneh dan Jen penasaran. Dia mengekor saja karena kakaknya itu tidak melarangnya.
***
Sekali lagi, Jen dibuat takjub oleh tidakan romatis sang kakak yang sudah jadi bucin akut. Pria itu menutup mata Naja dan membawanya ke sebuah rumah yang mewah, lebih besar, dan ya, ini bagus sekali. Bukan di perumahan mewah, tapi ini tepi jalan yang strategis. Ia tahu memperkirakan harga yang dikeluarkan sang kakak. Jen melihat jejak renovasi dari bau cat dan juga model dalam rumah ini.
"Taraaa ... welcome di rumah baru kita nanti." Tutup mata Naja telah terbuka, wanita itu masih mengerjap. Itu adalah sebuah galeri yang cukup apik dengan sebidang kaca di bagian depan dan samping. Memakan sebagian besar lantai bawah, lantai ini praktis hanya menyisakan satu ruangan untuk ruang utama. Lalu ada ruangan lebar di bagian belakang galeri yang luas dengan televisi besar terpampang. Selain itu ada dapur dan juga kamar utama sepertinya.
Jen bersumpah, dia menyesali keputusannya ikut ke sini, hanya akan melihat dua orang itu yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan memeluk suaminya. Jen menelan ludah, melihat Naja sedang memeluk mesra kakaknya, lalu ciuman panas terjadi tanpa bisa dielakkan lagi.
"Mungkin aku dianggap patung pajangan." Ia berlalu ke bagian belakang rumah yang terbatas pada ruang cuci kecil dan teras dengan kolam air yang mirip aliran sungai.
Sementara, Excel menunjukkan ruangan lain yang ia tujukan sebagai ruang kerja Naja nantinya. "Ayo, duduk, bu Bos ...."
__ADS_1
Excel mendorong bahu Naja ke arah meja yang tidak begitu besar menghadap satu meja berukuran besar. Ia memutar kursi abu-abu gelap itu dan duduk di sana. Meminta Naja yang malu-malu, duduk di pangkuannya.
"Kamu boleh lembur dan kita tetap bisa bercinta di sini." Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan, dan sepertinya sudah dirancang sejak lama, bahkan ketika bagian belakang tubuh Naja baru sebentar bersinggungan sedikit saja.
Naja sudah siap beranjak, tetapi Excel lebih sigap, dia langsung mendudukkan paksa dan memeluk pinggang Naja. Bersandar di punggung yang selalu terbuka menempel di perutnya. "Sebentar saja ... aku rindu, Mom ...," katanya pelan dan sendu. Dan itu berhasil membuat Naja diam dan berdesir-desir. Dia juga rindu.
"Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini, maaf, aku hanya bisa membantumu sedikit saja, maaf, aku belum bisa membujuk mama agar kita bisa pindah ...."
Naja dengan cepat memutar tubuhnya menyamping, menangkup pipi suaminya, lalu mengecupnya agar diam. "Kamu tau ...." Mata Naja menatap jauh ke dalam mata Excel yang bersinar gelap. Ia berbicara pelan dan dekat sekali dengan bibir suaminya, meniupkan napasnya lamat-lamat tiap kali berbicara. Tangannya menyusur hingga berakhir di bagian belakang leher suaminya.
"Kamu yang terbaik yang aku miliki ... bodoh jika aku mengeluh karena kesibukanmu dan tidak diizinkan pindah dari rumah mertuaku yang begitu hangat. Beri saja aku waktu satu menit dalam hidupmu, itu sudah cukup ...."
Lalu Naja dengan sedikit terbawa perasaan, mendorong tubuhnya menekan tubuh Excel. Menciumnya lagi. Excel tersenyum puas di sela senyumnya. Dia suka wanita galak ini menunjukkan sisi lainnya yang menggoda. Dia suka wanita yang seperti ini.
.
.
.
__ADS_1
.
.