Suami Settingan

Suami Settingan
Sengaja Menyalahpahami


__ADS_3

Jen begitu lega menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Papa dan Kakaknya. Ia berharap Tanna benar-benar mendapat hukuman yang setimpal setelah ini. Meski ia menceritakan segalanya, tetapi ia menutup rapat tentang bagaimana hubungan awal Excel dan Naja. Jen hanya mengatakan bahwa Tanna mendendam padanya karena menyembunyikan hubungan Excel dan Naja dari Tanna yang menyukai Excel sejak kuliah.


"Tetapi, Jen ... semalam kamu bersama Darren di apartemen, apakah salah satu alasan Diego menyetujui rencana Tanna karena hubunganmu dengan Darren?" tanya Harris membuat Jen tersedak. Ia pikir akan melewatkan pertanyaan seperti itu. Jen meringis ketika baru sadar kalau Papanya adalah orang yang sangat teliti dan memiliki ingatan yang kuat.


"Itu aku belum pasti Pa ... ma-maksudku motif Diego. Ta-tapi, dia baik kok sama aku selama ini."


Hell ... jawaban apa itu? Baik darimana coba, hanya karena dia ngga ngapa-ngapain kamu, kamu bilang dia lelaki baik, begitu? Jen, pakai otakmu, kalau Diego baik, dia ngga akan mungkin jelek-jelekin keluargamu hingga keakar-akarnya begitu. Dasar Jen!


Jen merapatkan bibirnya, ingin rasanya ia menimpuk kepalanya sendiri dengan batu, agar otaknya terbebas dari sihir Diego.


"Sebaik apapun Diego, Papa lebih setuju kamu serius melanjutkan hubunganmu dengan Darren." Harris mengenyakan tubuhnya di punggung sofa. "Saran Papa, ucapan Darren segera diwujudkan saja, meski masalah ini hanya sebuah perantara terbukanya hubungan kalian, tetapi Papa tetap tidak mau kalau terjadi sesuatu diluar keinginan kita."


"Tapi kami beneran ngga ngapa-ngapain kok, Pa." Ekor mata Jen melirik Riko yang berdiri kaku di samping papanya. Ini semua karena dia. Dasar menyebalkan kamu, Om ... setelah ini kita musuhan!


"Pikirkan saja ucapan Papa dengan baik, Jen ... tidak perlu kamu membela dirimu, yang malah akan membuatmu semakin terlihat bersalah!" Harris menunjuk pintu ruang kerjanya, mengisyaratkan agar Jen segera keluar dari tempat ini.


Jen beranjak berdiri, meski sebenarnya dia masih ingin menjelaskan kesalahpahaman ini, tetapi ekspresi papanya yang tidak bisa dibantah sama sekali membuatnya patuh. Diikuti Excel, Jen melangkah meninggalkan ruang kerja papanya.


Diruangan ini tersisa Harris, Kira, dan Riko, tetapi Riko juga sadar kalau majikannya membutuhkan waktu untuk bicara tanpa gangguannya. Ia segera menundukkan kepalanya dan berlalu pergi.


"Pa ... kenapa Papa percaya kalau Jen dan Darren ada hubungan?" Kira menyerbu Harris setelah pintu tertutup.


Harris tertawa ringan. "Ma ... semalam Riko memergoki mereka di apartemen yang ditempati Diego. Bukankah kata Ranu, sejak siang mereka bersama? Lalu ucapan Darren yang dikutip wartawan itu? Apa itu belum membuatmu mengerti dan percaya?"


"Tapi Pa, mereka itu seperti kucing dan tikus yang selalu ribut. Jen malah terlihat kesel kalau ada Darren di sini!" ungkap Kira.

__ADS_1


Harris meraih tangan Kira, membawanya lebih dekat padanya. "Bukankah Excel dan Naja juga begitu, dulu? Papa bahkan melihat sendiri mereka di kamar Excel."


"Maksud Papa?" Pikiran Kira berlari tak karuan.


"Ya begitu ...," Harris mengendikkan bahu dengan tidak peduli. "... sudahlah, kita akan menikahkan Jen agar mereka tidak larut dalam dosa, Yang."


Harris sengaja menyalahpahami hubungan Darren dan Jen. Jika pada kejadian Excel, Harris memang benar-benar salah paham, lain halnya dengan kejadian ini. Harris tahu pasti hubungan Jen dan Darren, tetapi ia ingin menutup kemungkinan anak perempuannya luluh pada pesona bule kurang ajar itu jika suatu hari mereka bertemu. Harris ingin memblokir perasaan yang membuat anak perempuannya lupa diri dan hampir terperosok.


Dalam hal ini, Harris meniru papanya dalam bertindak. Ia akan memberikan kehidupan yang layak untuk Darren dan keluarganya, jika Darren benar-benar mau mewujudkan impiannya. Sedikit imbalan yang ia yakini akan susah sekali ditolak oleh Darren.


Harris mendekap Kira dalam pelukannya, pikirannya penuh harap, tetapi tubuhnya menyakinkan Kira. Entahlah, hanya dengan memeluk istrinya, Harris selalu merasa kuat dan tentram.


***


"Jen, terimakasih sudah nolong Kakak," ucap Excel sambil merangkul adiknya itu.


Excel menutup bibir Jen dengan jemarinya yang panjang. "Sudah! Lebih baik ngga usah diceritain, daripada nanti malah berantakan. Kakak sudah bahagia dengan mantan asistenmu yang cerewet dan galak itu," kekeh Excel yang tiba-tiba merindu pada istrinya. Mereka melanjutkan langkah dengan tawa tergelak.


Naja yang baru saja meletakkan Cio di dalam boksnya, terkejut mendengar pintu dibuka dengan keras dan tawa yang berhasil membuat Cio merengek lagi.


"Ya Tuhan ... mulut kalian itu apa ngga bisa dikondisikan?" omel Naja sembari mengangkat Cio lagi.


"Eh, maaf kakak ipar. Aku ngga tahu kalau Cio bobok," ujar Jen sambil meringis.


"Sini, biar sama Daddy saja." Excel mengambil alih Cio yang masih menggeliat tak karuan dan mencebikkan ekspresinya.

__ADS_1


"Cio sama Daddy dulu, biar Mommy istirahat, ya ...." Excel terlihat luwes menimang anaknya, tak ada kata takut atau gugup, malah Cio selalu lelap dalam pelukan daddynya.


"Jen, berita tentang penganiayaanmu pada Tanna sudah menyebar loh, sudah lapor polisi juga, tapi kamu kok baik-baik saja di rumah? Kok ngga ada polisi datang buat interogasi kamu?" bisik Naja saat Excel belum jauh dari jangkauan mereka.


"Ish, kejam sekali kata penganiayaan itu? Aku hanya melakukan tindakan pembelaan, yang ada dia mau bunuh orang, Na. Ih dasar sundel bolong tuh wanita ... awas aja bakal aku potek-potek sampe jadi bubur!" geram Jen sambil mengumpulkan jemarinya menjadi satu, mengemas dengan gemas.


Naja tertawa melihat ekspresi Jen yang bukannya sadis malah terkesan lucu. "Kalau dia drama, kenapa kamu ngga balas dengan drama juga?"


Jen mengerut. "Aku mana bisa ngedrama kek dia, Na ...," keluhnya lemas. Ia langsung merebahkan diri di kasur, telentang.


Naja mengambil salah satu bantal, lalu duduk di bekas bantal itu. "Yang katanya mau nikah sama Darren, itu bukan drama sejenis settingan?" Ia menatap sahabatnya yang tengah asyik memandangi perban ditangannya.


"Itu Darren spontan saja agar aku bisa selamat, tapi di depan mama semalam itu ngga berhasil, malah aku didamprat mama habis-habisan. Nah, pagi ini ... mungkin mama udah diberitahu sama papa tentang kejadian semalam, jadi mereka malah nyuruh aku dan Darren serius, maksudku beneran pacaran ...," jelas Jen.


"Jangan pacaran lagi, nikah aja ... kamu ngga takut kalau bakal ditagih wartawan itu? Mending wujudin aja, Jen ...!" bujuk Naja yang sedikit senang jika mereka jadi menikah. Ia tahu kalau Darren sudah lama menyukai adik iparnya itu. Daripada sama Diego, si bule brengsek itu.


Jen bangkit dan menatap Naja. "Darren ngga mungkin mau, Na ... setelah apa yang aku lakuin ke dia. Aku suruh ngaku jadi pacar aja ngga mau, apalagi nikah."


"Buat dia jadi mau!" Naja menaikkan alisnya berulang-ulang. Membuat Jen kembali mengerut kurang mengerti, tetapi Naja menariknya dan membisikkan sesuatu ditelinga sahabatnya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2