Suami Settingan

Suami Settingan
IRT Tulen


__ADS_3

Ya, ide Vaya cukup ampuh untuk menarik minat pengunjung pasar, tetapi hingga sore hampir menjelang, tak banyak yang mampu mereka jual.


"Gimana, Jen?" Vaya baru saja memeriksa keadaan halaman pasar yang mulai sepi dengan pandangannya. Bibir Vaya manyun saat melihat barang dagangannya masih banyak.


"Udah, kamu istirahat aja ... biar aku yang lanjutin." Jen baru saja tiba dari membeli minuman dengan bulir jeruk asli untuk mengatasi dahaga di leher mereka.


Vaya menerima botol itu dan menenggaknya perlahan. Lalu menghembuskan napasnya kasar.


"Udah, gak usah cemberut begitu. Pelan-pelan aja, gak urgent juga 'kan? Urusan makan masih bisa dikondisikan, aku gak kekurangan banget. Masih ada uang lah kalau buat hidup." Bibir Jen berhias senyum kecil, ekor matanya bergerak ke arah Vaya. Ia menggeleng melihat tingkah laku temannya yang memajukan bibir dan masam.


"Tapi Jen ... kamu bilang 'kan nanti tokonya mau kamu jual, artinya kamu gak bisa kerja lagi. Ya, meskipun aku yakin, gak kerja juga gak bakal kelaparan, tapi apa kamu betah jadi ibu rumah tangga tulen? Secara 'kan ...?" Vaya ragu mengutarakan kata selanjutnya. Ya, taulah sifat Jen yang mudah berubah.


Jen melepaskan botol dari bibirnya. Mencecapi sisa jus jeruk yang tertinggal di bibirnya. Ia tersenyum dengan tatapan lurus dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tubuhnya semula bersandar pada bodi belakang mobil, kini ia tegakkan.


"Aku tau kalau aku tuh cepat bosan pada sesuatu, tapi setelah menikah aku putuskan untuk komit sama hubungan pernikahan. Ku pikir rumah tangga tidak selalu membosankan. Tinggal bagaimana kita meraciknya saja 'kan?"


"Bukan setelah menikah, sih ... tapi setelah itutu ...," batin Jen hingga terlahir di bibir ketika membayangkan penyebab berubahnya jalur hidup yang telah ia putuskan selama ini. Ia nyengir lebar hingga pipinya merona.


Mengalihakn pikiran kotornya, Jen mengambil berapa baju dan ia dekap di dada. Ia melirik Vaya sesekali yang sepertinya kesulitan mencerna ucapannya. "Kalau ngga nyampe jangan dipaksakan! Karena ketika kamu hanya membayangkan dan memikirkan sebuah pernikahan, yang ada hanya dua. Kalau ngga menderita, ya, bahagia banget. Tergantung bagaimana penilaian dan pengalaman kamu tentang pernikahan yang kamu lihat."


Vaya menatap Jen yang kembali mengemas dan beberapa baju dalam dekapannya. Sepertinya ia bisa menebak apa yang ditakutkan dan yang dipikirkan Jen tentang pernikahan.


"Lalu bagaimana dengan Darren? Apa dia bisa dikategorikan pria yang layak diperjuangkan?"


Jen menegakkan tubunya yang sempat membungkuk, lalu tersenyum. "Dia suamiku sekarang. Baik dan buruknya harus aku terima 'kan? Lagian kami sedang mencoba menyesuaikan, bukan untuk dinilai layak atau tidak. Semua kembali sama kita sendiri, Vay ... mau apa enggak untuk diperjuangkan. Mau apa enggak menyesuaikan. Nikah itu mudah ketika kamu tau rumusnya."


"Dan kamu udah tau rumusnya?" Vaya menautkan alisnya. Entahlah, Jen sepertinya tidak sedang mencoba menutupi kenyataan yang ada.


"Udah ...," ucapnya di selingi senyum lebar. "... jujur dan berbicara."


"Jujur itu susah, Jen ... asal kamu tau, bohong aja yang tinggal ngarang, susahnya minta ampun, kok!"


"Makanya jujur jadi lebih mudah karena tinggal mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."


"Eh ... ya, gak gitu, Jen ... tapi jujur itu 'kan menyakitkan ... dan bohong kadang menghibur meski itu hanya dalam angan. Dan kadang kejer waktu ketauan." Vaya mendebat ucapan Jen sambil menggoyangkan tangannya.

__ADS_1


Jen menghela napas. "Enakan sakit dulu, nikmat kemudian ... dari pada ketawa dulu, mewek kemudian."


"Gitu, ya? Kalau sakit dulu dan mati kemudian gimana?"


"Itu nasib sial kamu!" Jen mendesakkan kaos yang terbungkus plastik ke dada Vaya. "Makanya buruan nikah biar tau sakit dulu nikmat kemudian!"


Vaya mengerutkan wajahnya, lalu ia mulai membuka bibirnya. "Nikah itu sakit, ya? Nikmatnya kalau udah tua, dong ... 'kan kalau peribahasa itu mengatakan berakit ke hulu, berenang ketepian. Bayangin Bengawan Solo aja, hulunya gak tau dimana, lalu pakai rakit pula, abis itu kalau mau ke darat kudu berenang. Mana aku renang masih noob, bisa-bisa hanyut dan gak bisa sampai hulu!"


"Udah? Selesai ceramahnya?" tanya Jen dengan ekspresi jengah.


Vaya mengangguk dengan senyum nyengir yang lebar. "Udah ...."


"Sekarang kerja!" Jen kembali menimpa dada Vaya dengan setumpuk baju. "Bagi-bagiin sama semua pedagang di sini."


"Lah ... rugi dong? Tar aku dibayar pake apa? Daun?" Vaya melongo dengan sangat tidak percaya menatap Jen. "Yakin? Aku gak salah denger 'kan?"


"Yakinlah ...!" Ia menatap Vaya dengan serius lalu mulai memberikan kaos-kaosnya pada pedagang. Ia sudah memutuskan akan jadi apa tokonya nanti setelah bersih dari kekacauan.


Vaya menjatuhkan bibirnya, "Jen jadi dewasa setelah menikah ...," ucap Vaya sambil menaikkan matanya ke atas. "... apa aku juga harus nikah agar bisa mikir agak bener kaya Jen, ya? Ah ... iya! Calon ... cari calon laki dulu, baru nikah!" Vaya mulai memandangi pria-pria yang menurutnya cocok. Kalau tidak setampan Darren setidaknya yang punya sifat kaya Darren. Mampu mengubah dan mendewasakan seorang Jen. Oh Vaya!


Darren meliarkan pandangannya ke seluruh halaman parkir pasar besar, mencari dimana Jen dan Vaya berada. Sore ini, iaberniat memberi kejutan pada Jen. Benar-benar kejutan yang sesungguhnya, hingga ia tidak menelepon Jen dan langsung mendatangi JC. Namun karena JC kosong, ia baru menghubungi istrinya hingga ia berakhir di sini.


Lambaian tangan Vaya memberi sinyal pada Darren yang langsung mendekat.


"Mana Jen?" tanyanya yang mendahului Vaya. Wanita itu tersenyum lebar dengan peluh bermanik di keningnya.


"Masih di dalam sana." Telunjuk Vaya terarah ke bagian dalam pasar. "Kok kamu bisa tau kita di sini?"


"Tadi telpon Jen ...," jawab Darren. Ia tak habis pikir dengan istrinya, yang salah paham dengan ucapannya dulu. "Laku?" Ia menggoyangkan salah satu kaos di depan Vaya.


Vaya nyengir, "dikit."


"Salah tempat, sih ... kaya gini jualnya di even-even anak muda. Kalau pasar kebanyakan ibu-ibu. Pasti dikitlah ...," ucap Darren dengan nada sedikit menghakimi usaha mereka yang bisa dibilang gagal.


"Eh ... kok gitu? Yang penting 'kan usaha dulu!"

__ADS_1


"Iya, usaha juga pakai ilmu ...!" sahut Darren dengan cepat.


"Loh, udah sampai aja kamu, Re—" Jen baru saja tiba dengan tangan yang sudah kosong. Semua telah ludes ia bagi-bagikan. Namun, ketika melihat Darren menatapnya galak, ia langsung menurunkan bahunya dengan hembusan napas cepat.


"Masa iya sekarang? Di depan Vaya juga?" batin Jen.


"Udah sampai, Yang?" Jen berkata sangat lirih tapi tetap bisa di dengar oleh Vaya. Sahabat Jen itu terbengong, hingga matanya berkedip-kedip.


"Apa langit akan runtuh? Kupingku berfungsi dengan baik 'kan?" batin Vaya sampai ternganga melihat sahabatnya tersebut.


Darren tentu saja tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya. "Baru aja sampai, Sayang."


Jen menyambut tangan suaminya dan memberikan kecupan di punggung tangan Darren. Kemudian, Darren mendekati Jen dan membalas istrinya tersebut dengan kecupan di kening.


"Capek?" Alih-alih mengomel, Darren membelai rambut dan mengusap keringat di dahi Jen. Tatapannya lembut dan senyum senantiasa menghiasi bibir seksi pria itu.


Meleleh hati, Adek, Bang!


Jen melipat bibirnya ke dalam dengan perasaan yang luar biasa senang. Seperti ini saja, ia lupa pada dunia. Cukuplah Darren yang membuat hatinya luluh tak bersisa. Bahagianya sangatlah sederhana. Zabdan Darrenio.


"Kalian ... kenapa jadi kaya Abi dan Umi, sih? Suit sekali ...," gumam Vaya. Genggaman tangan Vaya bercokol di bawah dagu, pupil mata Vaya membesar, dan hatinya merasa tersentuh dan hangat.


Tuhan ... berikan satu saja yang kaya Darren. Jen beruntung sekali, sih. Pertama kalinya aku iri sama kamu, Jen.


.


.


.


.


.


Selamat sarapan, Buibu temennya Mis yang tantik baik imut menggemaskan😂 mon maap, mau up banyakan, Mis lagi tersepona lihat Papa Harris kelayapan di beranda Noveltoon😁 sibuk ngawasin Papa Harris akutuh ... takut digoda gadis dan janda yang seliweran di sana🤭 kan aku bisa nyesek gak kelar-kelar😁

__ADS_1


Mis mau sarapan juga, tapi belum masak ... 😂


__ADS_2