Suami Settingan

Suami Settingan
Sedang Sensi


__ADS_3

"Jen ...." Darren akhirnya membuka suara setelah sekian lama mereka berdiam diri dengan posisi merebah di atas tempat tidur besar yang memberi jarak cukup lebar di antara mereka. Jen membentangkan punggungnya di hadapan Darren sejak ia mengambil posisi di ranjang ini.


"Maaf untuk hari ini ...."


Jika dipikirkan lagi, salahnya teramat banyak sampai ia tak tahu harus mendahulukan yang mana. "Untuk kemarin malam, untuk tadi pagi, dan untuk siang tadi. Aku benar-benar sibuk dan terburu-buru," katanya tanpa mengharapkan pemakluman sama sekali sebenarnya. Malah dia berharap Jen mau berbalik dan memarahinya.


"Aku memang ada pekerjaan, bukan bermaksud mengabaikan kamu."


Jen mendengarkan semuanya, tetapi sungguh ia sangat lelah dan tidak ingin berucap sekatapun pada suaminya itu. Jangankan marah, menyahut saja rasanya sangat malas, entah rasanya bibirnya berat sekali untuk membuka. Biarkan saja dulu seperti ini, mungkin dia hanya sedang sensitif, karena sebentar lagi masa periodenya datang. Biasanya seperti itu.


"Kita bicara besok pagi, Yang ... sekarang istirahatlah. Mungkin besok kamu udah ngga kesel lagi sama aku."


Ya, siapkan dirimu besok, Ren ... habis kau olehku, nanti! Batin Jen masih sempat menggerutu, padahal matanya sudah sangat berat.


"Malam, Jen ...," katanya sambil mengusap pelan rambut Jen. Lalu hening yang menjadi pengisi kekosongan ruangan ini.


***


Ketika pagi hari, Darren terbangun oleh aroma roti tawar yang di toast dan tumisan bawang bombay yang sangat harum, lalu ketika menoleh, tampat itu sudah sepi dari napas Jen.


Darren melompat dan berlari menuju dapur. Ia melihat Jen sibuk membuatkan sandwich dan sepertinya dia akan membuat cah sayuran. Senyumnya sesekali terkembang, rupanya dia sedang menelepon melalui earphone wireless. Tawanya terdengar renyah tanpa beban.

__ADS_1


"Oke, Pa ... nanti Jen akan nemenin papa seharian, deh ... ini Jen siapkan sarapan dulu biar nanti ngga ribet di rumah papa."


"Ya ... sampai nanti, Pa ...," katanya lagi dengan terburu-buru. Sepertinya masakannya gosong setelah ia kesana kemari dengan ketidak siapan melanda.


Darren datang dan menyambar spatula yang ia gunakan untuk mengaduk tumisan bawang. "Eits, biar aku saja ... My Lady duduk manis dan akan saya layani, pagi ini." Darren melebarkan senyumnya, mengedipkan sebelah matanya, dia langsung beraksi di atas kompor.


Tawa Jen pudar seketika seperti ada saklar yang mematikannya. Wanita selalu ingat kalau dirinya dalam mode kesal. Melepaskan earphone di telinganya, Jen menanggapi malas suaminya tersebut. Dan dia berlalu begitu saja dari hadapan suaminya.


Helaan napas Darren begitu kasar terdengar, memompa sabar lebih banyak. Caranya mungkin salah, bukan diambil alih, tapi di temani dan diajak bicara. Menyadari ini, Darren hanya bisa meringis pilu dengan kepala menengadah. Astaga!


Sementara, Jen tidak tau harus melakukan apa, rumah sudah rapi dan bersih sebab Darren membersihkannya semalam, lalu ia ke kamar dan melihat cucian menumpuk. Diraihnya keranjang penuh cucian itu dan mencucinya di mesin cuci yang diletakkan di belakang rumah, dengan sebagian atap terbuka. Di sini cukup asri sebab tanaman bunga ditata apik dan terawat. Uti selalu suka tanaman hias dan bunga, jadi mama Kira selalu memerhatikan dengan baik tanaman di sini. Jen menyilangkan kaki duduk di sebuah kursi kayu yang tersedia di sana lalu memainkan ponselnya. Mengusir hampa dan rasa yang tidak nyaman karena Darren.


Sebenarnya ada sisi perasaan lain yang mengetuk hatinya, seperti apakah wajar hal seperti ini diperangkan? Ini hanya hal kecil dan sepele ... Darren itu milikmu, dan siapapun wanita yang kebetulan berada di dekat suamimu, tidak ada artinya bagimu.


Jen merotasikan manik matanya yang coklat terang itu dengan perasaan semakin memburuk. Sebelah mana aku harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Jelas dia sangat salah dalam hal ini! Jen mendenguskan kemarahannya, bertekat untuk tidak mudah lunak kali ini.


Guliran ibu jarinya terhenti saat melihat layarnya di penuhi foto mama Desy. Mertua calling.


"As—"


"Jen, Sayang ... kamu ngga papa, 'kan? Maaf, mama baru sempet hubungi kamu, Nak ... semalam kata Darren kamu pulang larut, ya?" Ucapan Desy terjeda, mungkin menarik napas, sebab perkataannya dikatakan dalam satu tarikan napas. "Eh ... Assalamualaikum, Sayang."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Ma ...," Jen tersenyum, "Jen semalam ke rumah papa Rian, beliau sakit, dan sempet mampir ke rumah papa Harris karena ada perlu dengan kak Excel, Ma ... hape Jen mati, dan baru Jen nyalakan tadi pagi, jadi ngga ngabarin, Mama ... maaf, ya, Ma."


"Darren udah telpon papanya semalam, mama juga ketiduran setelah ngelist pesanan hari ini. Kalau kamu ngga sibuk, boleh loh, temenin mama lagi ...." Desy terkikik sebagai akhiran.


Jen menimbang sejenak, lalu menjawab. "Agak siangan, ya, Ma ... Jen masih nyuci."


Desy mengatakan 'oke' sebelum menyudahi panggilannya. Lalu Jen kembali sepi dengan Vaya terhubung melalui chat. Wanita itu kini resmi pengangguran dan dia hanya mendapatkan omelan dari ibunya.


Jen juga sama berharapnya dengan Vaya agar mereka kembali memiliki kesibukan. Sungguh masa sibuk dulu, sampai kesusahan bagi waktu adalah masa lelah yang dirindukan.


"Kenapa ngelamun, sarapannya keburu dingin, tuh ...." Jen menoleh, tepat saat itu Darren meletakkan wajahnya di sisi wajah Jen dan akhirnya, bibir mereka bertemu. Meski hanya sekilas.


Darren menyeringai, "Love you, too ...."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2