
"Crazy Rich?" Baik Dafin maupun Yoan menaikkan alisnya dengan tidak percaya, "lu jan ngadi-ngadi, Ren ...," kata Dafin yang tentu saja tidak percaya. Ya, tentu kaum itu tidak akan semudah ini menghubungi Darren, terlebih mereka belum memiliki nama di dunia per-startup‐an yang begitu menjamur di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.
"Ya, begitulah ...," Darren membuka kedua tangannya yang kini sudah menumpu di atas kedua lututnya. "Dia mau jadi angel investor kita, tanpa banyak tanya dan minta. Kita hanya harus menjelaskan secara detail dan akurat produk layanan kita, sasaran pasar, dan strategi pasar. Kemarin juga ... maaf, nih ... gue duluin kalian selaku pemilik ide." Darren menjeda perkataannya demi meminta pemakluman dan efek dramatis tentu saja. Demi mereka, dia harus menahan sakitnya dicuekin istri.
"Halah ... lo kayak ma siapa aja, Ren ... buruan gih, katakan apa mau dia." Yoan mengibaskan tangannya di depan wajah saking tidak sabar mendengar kabar baik dari Darren. Atau setidaknya dia berharap seperti itu. Kabar baik yang datang.
"Gue udah kasih gambaran lengkap apa yang kita lakukan selama ini, dan bisa dibilang cukup membantu petani, 'kan?" Kedua orang itu menganggukkan kepala. Darren mencondongkan kepalanya ke depan, lalu dua orang itu juga melakukan hal yang sama. Sejenak Darren menoleh pada dua orang itu sebelum melanjutkan perkataannya dengan lirih. "Dan dia nunggu presentasi kalian berdua secepatnya."
"Apa?" Yoan dan Dafin terlonjak dengan ekspresi terkejut yang kuat sementara seringai kebahagiaan muncul di sudut bibir mereka.
Darren meringis sebab gendang telinganya berdenging hingga sedikit lebih lama, ia tak mampu mendengar suara, bahkan desau angin sekalipun. "kalian ini tarsan, ya? Hobi banget teriak-teriak!"
"Lo gak lagi bikin kita seneng sesaat, 'kan? Bukan lagi ngeprank kita, 'kan? Ulang tahun gue masih lama soalnya ...," kejar Yoan yang masih tidak memercayai kupingnya sendiri. Dua tahun observasi, satu tahun pengembangan, dan dua tahun telah berdiri, dengan uang mereka yang kembang kempis sampai rela tidak merasakan nikmatnya dunia saat masih muda, dan kini ada angel investor yang bisa dibilang malah menawarkan, rasanya seperti mimpi jadi nyata. Lalu panggilan pria sukses tak lama lagi tersemat pada pria yang dianggap pengangguran ini.
"Gue ngga bakal becanda untuk hal seserius ini ... dan asal lo berdua tau, kita ditawari, kita dihubungi, artinya apa, calon angel ini cukup tertarik dengan apa yang kita rintis." Darren kembali serius, meski kesal dengan apa yang dikatakan Yoan. Sungguh sahabatnya yang brilian tapi suka mudah menyerah.
"Lo yakin dia gak ada motif dibaliknya? Mungkin dia ngincer Dinka? Atau ngincer mertua lo?" Dafin sejak tadi mengerutkan kening, dia memang selalu curiga dengan sebuah keadaan yang tiba-tiba. Meski sebenarnya, dia senang mendengar ini, tapi tentu ia sangat berhati-hati.
"Kek adek gue istimewa aja ... cewek bar-bar dan konyol macam dia, mana ada yang suka sampai sebegitunya?" kata Darren dengan ekspresi malas, "kalau mertua gue, mungkin masuk akal, sih ... tapi gak tau, ya ... keknya gue yakin sama orang ini. Dia tidak pernah terlihat di depan umum, dan yang kemarin menemui gue hanya asistennya."
__ADS_1
Darren seolah menunjukkan betapa sibuk dan berkelasnya calon investor mereka. Lalu ia meraih kartu nama yang berada di dalam dompetnya. "Ini kartu nama asistennya, katanya, jika kalian setuju, akan dikirimkan pesawat pribadi untuk menjemput kalian, dan—"
"Apa?" jerit mereka bersamaan sampai tubuh mereka berdiri. Sementara Darren terjerembab saking terkejutnya akan reaksi kedua manusia di depannya ini. ©️
***
Jen mengedarkan pandangannya di pintu masuk kafe bernuansa retro yang cukup apik. Vaya adalah makhluk perempuan yang dipindai oleh matanya. Lalu lambaian tangan Vaya di sudut jauh di dalam kafe menjadi penanda. Jen bergegas menghampiri sahabatnya tersebut.
"Lama banget, sih?" protes Vaya, tetapi bibir wanita muda itu merekahkan senyum bahagia.
"Mau kawin?" tanya Jen yang sedikit terusik oleh pengangguran baru yang duduk dengan kaos JC melekat di badannya. "Lagi krisis beneran sampai pake kaos buatanmu sendiri? Udah gak mampu beli baju lain?"
Jen meletakkan tas kecilnya terlebih dahulu di atas meja, baru kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa. "Kita berdua aja, 'kan?" melihat tempat duduk yang cukup untuk empat orang ini, Jen tiba-tiba curiga. Jangan-jangan ini ulah Vaya untuk mendamaikan dia dengan Darren. Jen tersenyum sinis dalam hati.
"Em ...." Vaya bergumam sembari mengarahkan tatapannya ke pintu masuk, lalu beralih ke ponsel yang berada di sebelahnya.
"Nunggu siapa, sih, Vay?" Jen, secara tidak sadar mengikuti gerakan Vaya yang terlihat gelisah, "ada orang lain yang akan kemari juga?" tanyanya sambil mengarahkan kembali kepalanya kepada Vaya.
"Iya ... dia katanya sudah otewe, tapi kok belum sampai, ya ...," kata Vaya lebih kepada dirinya sendiri daripada menanggapi pertanyaan Jen.
__ADS_1
Kecurigaan Jen mengumpul pada satu orang yaitu Darren, mungkin, Darren meminta bantuan Vaya untuk mendamaikan perang dalam diam dalam rumah tangganya. Jen merasa dirinya tidak siap jika harus berbicara di sini, dan dia tidak suka bila ada yang menyampuri urusan rumah tangganya. Dia pun berdiri dengan wajah yang dingin dan tegas.
"Mau kemana?" Vaya yang kelimpungan dalam keresahan, terkejut melihat Jen yang menyandang lagi tasnya.
"Bilang sama Darren, caranya terlalu kekanak-kanakan. Bikin masalah sendiri, selesaikan juga sendiri!" tegasnya sebelum benar-benar berlalu dari cafe itu. Bahkan sebelum ia sempat menikmati barang sesesap minuman atau sesuap makanan dari kafe kenamaan ini.
"Jen ... tunggu dulu," cegah Vaya yang akhirnya menemukan suaranya kembali setelah tercekat dan bingung mendengar perkataan Jen.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Dikutip dari berbagai sumber di google"