
"Istriku yang cantik, kenapa manyun begitu?" sambungnya. Darren menghela napas, lalu menghampiri Jen yang mulai sibuk membuka bungkusan nasi dan lauk lainnya. Ia melingkarkan jemarinya di pinggang Jen dan menekannya turun ke kursi yang telah di tempatkan pada posisi siap menerima tubuh Jen.
"Suamimu ini gak bakal ngerti apa yang membuatmu marah kalau kamu diam saja ...," lembut Darren sambil mengusap pelan punggung Jen, ia menumpu kepalanya pada tangan yang menyiku di meja makan berbentuk bundar. Matanya intens mengawasi perubahan di wajah istrinya.
Jen menggerakkan bola matanya sekilas-sekilas ke arah Darren. Wajah pria itu tampak menyebalkan saat menatapnya lembut seperti ini. Dasar tidak ingat dosa, sok manis, sok polos, sok gak ngerasa bersalah ... huh! Pria!
Tangan Jen bergerak serampangan saat kehilangan fokus. Ia masih merengut dan enggan menjawab suaminya, namanya juga lagi kesel.
Darren menghela napas, ia mencoba mengingat lagi kegiatannya pagi ini. Tak ada yang salah, ia hanya menelepon Tamy, Kirey yang tak lain adalah anak dari omnya Darren yang akan menikah beberapa hari lagi, dan si Jabir yang menanyakan perihal keberhasilan surprisenya.
Mungkin ia mendengar obrolannya dengan Kirey atau Tamy mungkin ... tapi dengan Tamy dia hanya membicarakan urusan pekerjaan saja. Ah ya, mungkin Kirey yang merajuk minta di bawakan seikat bunga olehnya. Ya, karena bagi Kirey, Darren adalah kakak tempatnya bermanja-manja.
Darren meraih ponsel yang sejak tadi menyelip di saku celananya. Menekan kontak Kirey yang berada di buku kontak ponselnya, dan melakukan panggilan video.
"Hai, Rey ... ada yang gak sabar mau kenalan sam kamu, nih," ucap Darren sambil mengarahkan ponsel di depan wajah Jen yang masih muram. Di seberang ada Kirey yang tampak anggun karena sudah bersiap pergi ke kantor.
Jen kebingungan hingga ia hanya bisa mematung dengan wajah pias. Gugup sampai tak bisa berkata-kata sekadar membalas sapaan ceria wanita yang melambaikan tangan dan tersenyum cerah kepadanya.
"Ayo jawab ... kenapa diam saja?" Darren menyenggol lengan Jen hingga tubuhnya bergoyang. Jen menoleh dengan perasaan kesal bercampur malu yang perlahan mulai timbul di pipinya.
Bibir wanita berstatus istri Darren itu mengatakan 'apaan sih' tanpa suara, lalu dia bersikap sebiasa mungkin saat menghadapi Kirey. "Ha ... i—" ia menolehkan kepalanya ke arah Darren yang masih mengemas senyum menertawakan sikap penuh cemburu istrinya tersebut. Sorot mata Jen mengisyaratkan tanya yang sengaja tidak diberi jawaban oleh lisannya. Sebagai ganti ia menaikkan bahu dan alisnya secara bersamaan.
Oh, Darren sengaja membuatku malu. Jen menghadap Kirey yang masih setia menunggu Jen kembali menatapnya. Terdengar sapaan 'hai Jen' dari seberang sana. Jen tersenyum canggung, lalu ia melebarkan senyumnya dan membalas sapaan Kirey.
"Hai, Rey ... apa kabar? Kita belum sempat kenalan, ya!" Senyumnya masih lebar, hatinya menghembuskan bisikan agar dirinya kembali bertenang akibat syok yang ditimpakan Darren padanya.
"Nanti dateng ke sini pas nikahan aku, ya, Jen ... nanti kita bisa kenalan lebih dekat. Selama ini aku tidak diizinkan oleh suamimu itu untuk sekedar nyapa kamu di IG." Kirey bersuara. "Kamu harus dengar langsung curhatan pria yang hampir depresi karena gak bisa dapetin ka—"
__ADS_1
Darren yang semula mulai menikmati sarapan, terpaksa berhenti dan menarik ponselnya dari tangan Jen yang tersenyum senang mendengar penuturan Kirey. Ini tidak bisa dibiarkan. Dua mulut bocor yang tidak bisa dikondisikan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kirey setipe dengan Jen baik kelakuan dan sikapnya. Semacam kembar beda rahim dan beda tempat dan tanggal lahir.
"Kerja, Rey ... udah siang! Telat ngantor, nanti dimarahi papamu, loh," ucap Darren
Jen tentu tidak terima ketika Darren hendak menyudahi sambungan video call terebut. Ia tentu sangat tertarik untuk mengetahui apa yang dibicarakan Darren dengan saudaranya tersebut, begitu tangannya hampa dari jejak ponsel suaminya yang seumur-umur baru dipegangnya kali ini—kalau tidak salah, segera bangkit dari kursi seakan ada magnet yang menariknya. Tangannya menggapai ponsel yang dijauhkan dari jangkauan Jen dengan sengaja.
"Kemarikan, Ren ...!" pinta Jen sambil melompat-lompat dan terus menarik bahu Darren.
Darren yang lebih tinggi tentu tak sebanding dengan Jen yang lebih pendek. Tak menyerah begitu saja, ia naik ke kursi yang langsung tidak seimbang dengan gerakan Jen yang sangat tiba-tiba.
Darren menahan kuat-kuat ponsel tersebut, sedangkan Jen mati-matian melepaskan jeratan jemari panjang Darren. Tak lupa bibir wanita itu menggerutukan kata 'kemarikan' dengan penuh tekanan dan suara yang berat tertahan di tenggorokan.
Tarik menarik dengan posisi Jen lebih tinngi dan terus bergoyang akibat kursi yang tidak seimbang membuat Darren khawatir kalau Jen jatuh. Namun, karena posisi Jen juga sudah condong ke arahnya, ia segera melingkarkan tangannya ke pinggang. Melepaskan ponselnya dengan ikhlas demi menyelamatkan Jen, Darren memfokuskan dirinya untuk menyangga tubuh Jen.
Terlanjur ambruk ke atas dekapan Darren, Jen menunduk dan khawatir Darren melepaskan dirinya, "jangan lepasin, Ren!" pintanya panik, ia merasakan tubuhnya semakin roboh ke arah suaminya tersebut, sebab hanya ujung kakinya yang menempel pada kursi kayu di bawahnya.
Beberapa jenak lamanya, dua orang itu masih merasakan diri mereka dalam diam, memejam, dan menahan napas. Keadaan hening menegang. Hanya degup jantung yang berlomba siapa paling kencang terguncang, dan deru napas pendek menerpa wajah satu sama lain.
Di saat hampir bersamaan, mereka memicingkan mata agar terbuka. Mengerjap dalam irama yang nyaris bersamaan, mereka masih terdiam dalam kekosongan pikiran. Sungguh tindakan mereka sangat kekanakan sekali, nyaris membahayakan keselamatan masing-masing.
Namun, masing-masing juga enggan segera bangun dari posisi ini. Darren yang perlahan menyadari ini, menggerakkan bibirnya ke tepi. Senyumnya perlahan terbit, pun dengan Jen yang sadar akan tindakan berlebihannya.
"Astaga, Papa!"
Suara yang familiar membuyarkan rasa yang perlahan merambat hangat yang terjalin di antara mereka. Kedua orang yang tumpang tindih dalam posisi yang intim itu, menoleh ke arah suara berasal, lalu saling tatap dalam keterkejutan yang mampu memutihkan wajah mereka.
Dalam sekali tarikan napas, mereka bangkit dengan tergesa-gesa hingga belakang kepala Jen membentur meja.
__ADS_1
"Adudududuh ...," erangnya sambil meringis dan mengusap belakang kepalanya, meski begitu ia tetap berusaha bangkit, dengan merundukkan kepalanya. Darren masih ingat untuk membantu Jen berdiri dengan baik hingga tubuh mereka tegak menghadapi orang tua mereka.
Kira yang tak tahan untuk menemui anak perempuannya, akhirnya memutuskan untuk datang. Semalam penuh ia ingat kalau rumah yang di tempati anak dan mantunya itu masih belum dilengkapi kulkas dan beberapa perabotan lain, sehingga ia berinisiatif mengajak Jen berbelanja kebutuhan anaknya tersebut. Namun, ketika sampai di dalam rumah, ia malah mendapati anaknya sedang memporak-porandakan ruang makan. Pikirnya, apa semua pria memiliki keganasan yang sama?
"Pa-pagi, Ma, Pa ...," sapa Jen dengan kepala menunduk dalam dan memerah. Sumpah, Jen sangat malu akan dirinya kali ini. Apa yang dipikirkan orang tuanya kali ini.
"Apa kalian abis berantem?" Harris yang berdiri di belakang Kira, mencoba berpikir positif. Tidak mungkin 'kan, bercinta sampai kursi tumbang semua? Di lantai pula? Itu sangat tidak mungkin, pastinya.
"Kami hanya bercanda saja, Pa ... dan aku gak hati-hati jadinya jatuh!" Jen tersenyum dengan engahan napas yang lega. Ia melebarkan bibirnya, dan langsung menyalami orang tuanya tersebut. "Aku yang gak hati-hati," ulangnya meyakinkan saat sudah menegakkan tubuhnya kembali.
Darren diam saja, tetapi ia mengikuti apa yang Jen lakukan, bahkan ketika Harris menepuk lengannya, ia hanya tersenyum kecil.
"Papa hanya nganterin nyonya besar yang sekarang lagi keluar manjanya. Kemana-mana minta di kawal," terang pria lima puluh tahunan itu. Walau keadaan sebenarnya adalah dia diminta menemani Kira yang sedikit malu mengakui kerinduan pada Jen, lalu kecemasan akan anak perempuannya tersebut, dan ia yang canggung setelah perselisihan terakhir dengan Jen.
.
.
.
.
.
Maaf ya, manteman, kadang endingnya gantung🤧 seribu kata dan aku harus sedikit peritungan demi even ini🤭 saranku, bacanya di tunggu banyak aja ... takut gak puas nantinya. Tapi, aku minta tetap tap like dan komen di setiap bab sekadarnya saja, agar tetep rame🤭 dih, ngarep yak🤭
Sekali lagi mohon maaf, aku beneran kebut ini🤧
__ADS_1
Cmiiw🙏