
Ketika malam telah kembali, Jen sudah bersiap dengan dress lace midi dengan perpaduan warna merah muda dan biru pucat. Berukuran besar sehingga menelan tubuh kecilnya. Rambutnya di ikat rendah dan terkesan longgar hingga wanita cantik itu terlihat modis dan santai. Kata Darren mereka akan menghadiri sebuah pernikahan.
Darren mengatakan dia tidak bisa pulang sebab mengurus acara pernikahan tersebut sehingga Darren meminta papanya untuk menjemput Jen di rumah.
Pertama kali adalah sambutan Dinka yang kurang enak di pandang mata. Jen sudah tahu kalau Dinka tidak akan sesenang mama Desy ketika Jen duduk di dalam kabin mobil keluarga ini. Jen dengan jelas mendengar dengkur kekesalan keluar dari bibir mungil iparnya tersebut. Lalu Jen yang juga tidak ingin mencari penyakit yang akan membuatnya tersulut dan kesal sendiri, akhirnya hanya diam dan memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Ya, bisa membalas tapi tentu ia lebih mementingkan nilai dirinya di depan mertua ketimbang kepuasan hati melihat Dinka mingkem dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Sabar, Jen ... sabar.
Hening di bagian belakang mobil kontras dengan keadaan di depan. Pasangan yang humoris itu tak henti berceloteh dan bercerita. Tentang bagaimana lucunya customer mama Desy ketika salah alamat, tentang bagaimana atasan papa Rendi yang suka marah-marah karena kesalahan sendiri, dan banyak hal lagi yang membuat mereka tak henti tertawa.
Jen sesekali ikut tertawa tetapi tidak dengan Dinka, gadis itu menyedekapkan tangannya di dada, sesekali matanya dengan kesal melirik mamanya. Suara decisan sinis, liukan bibir penuh cibiran, sudah Jen lihat sepanjang perjalanan ini. Dan Jen hanya menggeleng sebagai tanggapan. Mood gadis itu sedang tidak baik sepertinya.
"Ini pernikahan siapa, sih?" gumam Jen ketika mobil berhenti di depan sebuah gang yang dipenuhi motor dan mobil, lalu lalang manusia, dan teriakan dari bapak-bapak yang mengatur kendaraan parkir.
"Pernikahan kak Tamy ...," jawab Dinka yang kali itu dekat dengannya dengan nada siap tempur. Jen menoleh dengan kerutan menganak di keningnya. Tamy? Again?
Tunggu ... astaga, kenapa jantungnya berdenyut nyeri mendengar nama itu. Seakan Jen menderita trauma berkepanjangan ketika nama itu di sebutkan.
Jen berhenti untuk mengamati sekeliling, lebih tepatnya memastikan dia tidak salah paham lagi. Meyakinkan bahwa Darren di sini semata-mata karena dia adalah teman Tamy, lalu berusaha berpikir positif bahwa Darren terlalu sibuk dan waktunya tidak cukup jika pulang terlebih dahulu. Ya, pasti begitu.
Jen yakin sekali setelah sepagian tadi dimulai dengan damainya perang diantara mereka, kini dia tidak mau terlihat konyol dan kekanak-kanakan lagi. Big no untuk sikap sensi yang berlebihan dan childish. Jen sudah berubah menjadi istri dan wanita yang dewasa.
Ia melangkah mendekati Dinka, meski Dinka dengan sinis membuang muka dan terus menjaga jarak darinya seakan Jen adalah penyakit menular yang layak di hindari. Jen hanya berusaha menepikan semua pikiran buruk dan denyutan nyeri akibat perlakuan kurang menyenangkan dari Dinka. Ia melengkungkan senyuman demi mengusir semua itu.
__ADS_1
Keadaan ini terus berlangsung hingga di dalam tenda yang disulap seperti ruangan yang didekor indah. Jen mengagumi mahakarya ini, hingga ia tidak memerhatikan langkahnya, dan akhirnya menabrak Dinka yang ada di depannya. Tak berhenti di situ, akibat tabrakan itu, Dinka jadi menabrak orang-orang di depannya yang langsung mengomelinya.
Jen terkesiap dan segera berdiri tegak, matanya membola dengan rasa bersalah menyelimuti.
"Eh, maaf-maaf ...," kata Jen sambil menunduk. "Maafkan saya, Pak, Bu ... saya ngga sengaja tadi." Jen masih membungkukkan badannya secara berulang. Wajahnya sudah merah padam karena malu. Ia masih jelas mendengar omelan kesal dari orang-orang tersebut.
Tidak ada yang jatuh maupun rusak, tetapi Dinka kesal sekali dengan hal ini. Jadi ketika Jen mendekatinya untuk melihat keadaan Dinka, ia langsung mengibaskan tangannya dengan cepat.
"Jalan yang bener, bisa gak, sih? Sana jauh-jauh dari gue ...," ketus Dinka dengan wajah masam bukan main. "katanya orang kaya, kok gayanya kampungan gitu." Ia membenarkan pakaian dan tatanan rambut yang sempat koyak.
"Dinka, kenapa bilang begitu, sih? Jen pasti ngga sengaja tadi ...," bela Mama Desy yang melihat keributan tak jauh dari pintu yang di sebabkan oleh Jen dan Dinka.
"Bela dia troos!" tukas Dinka sambil mengeluyur pergi. Ia menghentakkan kakinya sambil berjalan.
"Maafkan Dinka, ya, Nak ...." Desy hanya bisa menghela napas dan mengusap bahu Jen dengan rasa bersalah yang dalam. Jen hanya menggeleng sebagai balasan. Mereka berdua memandang Dinka yang menghilang diantara tamu undangan dengan helaan napas yang berat.
Di sana, Darren terlihat duduk di antara sahabat karibnya. Tamy sedang berbicara memohon restu dari kedua orang tuanya. Ya, di sini hanya ada suasana haru menyelimuti. Lalu ia samar-samar mendengar petuah dari penghulu yang akan memimpin ijab kabul.
"Ketika seorang pria mengucapkan ijab kabul, artinya, tugas seorang ayah telah selesai, dan berpindah kepundakmu, wahai ananda Muhammad Zabir, apakah engkau siap?" kata penghulu itu. Dan Jen ingat dengan benar kalimat itu juga yang pernah dikatakan penghulu saat Darren menikahinya. Jen tertegun, seberat itukah beban seorang pria setelah menjadi suami?
"... setelah ananda mengatakan saya terima nikah dan kawinnya ananda Kurnia Sintamy, artinya ananda Muhammad Zabir juga siap memberi makan, siap memberikan pakaian dan memberikan papan. Ananda harus berdiri dibagian paling depan untuk memenuhi kebutuhan pakaian, perhiasan jika mampu, makanan dari hasil kerja yang halal, dan papan yang layak untuk istri dan anak-anakmu kelak. Termasuk skincare agar ananda Kurnia Sintamy tetap cantik dan tidak ada alasan bagimu untuk menduakannya suatu hari nanti. Benar begitu, Nak? Apa kamu siap, Nak?"
Jen menggigit bibir ketika senyumnya mengembang. Hampir saja dia ikut tertawa bersama dengan tamu lain yang merasa nasihat penghulu itu lucu.
__ADS_1
"Dan yang tak kalah penting ...," tangan penghulu itu menunjuk ke kedua mempelai sebelum beralih kepada semua yang berada di depannya. "... adalah menghargai istri dan menyayanginya, serta menggauli dengan benar sesuai syariat agama. Zaman sekarang, ada banyak sekali celah yang mengatas namakan agama, untuk melakukan kekerasan dan tindakan kurang beradab dalam kehidupan berumah tangga. Ingat anakku, pergauli dan perlakukan istrimu dengan baik dan benar, Ananda mengerti?"
Jen tanpa sadar mengangguk, meski itu untuk para suami tapi kenapa rasanya Jen mengerti. Ah, dia seakan tersadar dari nasihat panjang yang menenangkan. Melihat pernikahan sekali lagi membuatnya ingat esensi sebuah pernikahan.
Acara ijab kabul berlangsung tak lama kemudian, Jen duduk sedikit berjauhan dari mertuanya dan Dinka.
Darren di kejauhan melihat istrinya itu terlihat canggung sebab tidak kenal satupun dari tetamu yang hadir. Ia pun beranjak untuk mendekati istrinya tersebut, tetapi terhalang oleh beberapa rekan dan sahabat Tamy bergantian menyapa Darren.
Jen benar-benar kesepian sekarang, ia celingukan sendiri, berusaha membuat dirinya nyaman dengan menepi dan jauh dari perhatian. Seasing itu dirinya di dunia Darren.
"Sendirian aja, Cantik ...." Jen menoleh dengan ekspresi terkejut. Suara rendah yang begitu dekat dengan telinganya itu sungguh mengguncang tubuhnya.
"Darren ...." Ia memundurkan kepalanya dimana bibirnya sudah mendarat di atas bibir Darren. Tangannya menyusuli dengan sebuah tamparan di atas lengan suaminya itu. Perlahan semburat kemerahan memenuhi pipinya, lalu bibir tipisnya terlipat dalam.
"Kamu cantik ...," puji Darren sambil mengusap pipi Jen yang memanas.
"Apaan, sih?" Jen kembali menampar dada atas suaminya. Ia mengerutkan wajahnya yang sudah berbalur tawa dan malu, hingga akhirnya ia sembunyikan ke samping.
Darren terkekeh pelan, lalu menegakkan tubuhnya, menawarkan lengannya. "Mau makan atau ke pengantinnya dulu?"
.
.
__ADS_1
.
.