Suami Settingan

Suami Settingan
Salahnya


__ADS_3

Jen pulang dengan keranjang berisi Myung di tangannya menggunakan taksi. Ia ingin menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menemui dokter. Darren juga akan pulang sebentar lagi dan berjanji akan mengantarkannya setelah menyelesaikan rapatnya sore ini.


"Kamu mau keluar dulu?" Jen menaikkan keranjang Myung ke depan wajahnya ketika kucing itu terdengar mengeong lemah. Ia tersenyum lalu menurunkan kandang yang nyaris penuh dengan tubuh MYung itu ke lantai, dan membuka pintu kandang. "Jangan main jauh-jauh, ya ...!"


Jen berkata seolah berkata pada anaknya sendiri, melepaskan kucing itu setelah mengusap kepala hingga tengkuk Myung. Seolah mendapatkan kebebasannya lagi, Myung bergerak di sekeliling rumah. Myung jika di sini memang tidak pernah meninggalkan halaman, dia seolah tahu diri kalau sedang dititipkan.


Jen langsung membersihkan diri secepatnya, memang airnya hangat, tetapi usai mandi, Jen menggigil hebat. Ia dengan cepat berpakaian dan menggulung diri dalam selimut. "Kenapa makin parah, gini, sih." Mengabaikan segalanya. Termasuk Myung.


***


"Jen ...," panggil Darren yang baru pulang, dan sedikit terlambat dari jam yang dijanjikan pada istrinya tersebut. Pintu sudah tidak terkunci, dan hal ini membuat Darren sedikit waspada. "Sayang ...." Ia merambat ke dinding dan menyalakan lampu.


"Hari mulai gelap dan lampu di dalam rumah belum di nyalakan, apa dia sudah ke rumah sakit dulu?" Ia segera meraih ponsel yang terselip di saku celananya, lantas menekan nomor kontak istrinya tersebut.


Darren sedikit terkejut ketika mendapati suara nada dering ponsel Jen dari arah dapur. Ia segera beranjak kesana dan menemukan ponsel Jen tergeletak di atas meja dapur. Semakin bingung saja dia dibuatnya. Sungguh, saat ini perasaannya sedikit was-was dan berpikir yang tidak-tidak ketika mendapati seluruh keganjilan ini. Namun, ketika menyapu lagi seluruh ruangan ini, ia bersegera menepis pikiran buruknya.


"Apa dia ketiduran?" Darren membawa langkah cepatnya menuju kamar, "Jen ...!" Ia terkejut setengah mati melihat buntalan selimut yang teronggok di atas ranjang besar mereka. Langkahnya semakin kencang berpacu mendekati ranjang dan menyalakan lampu kecil yang menggantung di atas kepala ranjang yang berfungsi sebagai rak tempat buku, foto, atau cemilan—seperti yang dilakukan Jen selama ini.

__ADS_1


"Sayang ... kamu dengar aku?" Darren seketika panik saat melihat wajah Jen menyembul dari selimut yang baru saja ia singkapkan. "Bangun, Yang ...." Ia menyeka kening yang dipenuhi oleh keringat dingin dan terasa sangat panas setelah berulang kali mengguncang pipi istrinya tersebut. Tak ada reaksi, bahkan sekadar lenguhan saja. Tanpa berpikir dua kali Darren mengangkat tubuh Jen dan membawanya sedikit berlari ke mobil.


"Sayang, kamu kenapa?" gumamnya tanpa bisa dicegah. Ia sigap memutar kemudinya ke arah rumah sakit setelah memposisikan Jen dengan benar dan nyaman.


Wajah pria itu terlihat kacau dengan napas yang memompa cepat, sebelah tangannya yang bebas sibuk mengacau rambutnya dengan perasaan menyesal. Ia menyalahkan dirinya sendiri saat melihat Jen lunglai dan tak sadarkan diri. Seharusnya dia membawa istrinya itu kemarin-kemarin meski ditolak mentah-mentah olehnya. Seharusnya dia tak menjanjikan kehadiran karena Jen tadi sudah mengatakan bisa datang ke dokter seorang diri. Seharusnya, ia mementingkan janji pada istrinya itu daripada bersikukuh menyelesaikan rapat akhir dengan Kenang. Ini salahnya.


"Jen, Sayang ... maaf." Ia mengusap kening Jen dan meraih tangan istrinya tersebut, meletakkannya di bibir. Darren menitikkan air mata melihat Jen yang terlihat pucat dan dingin tak berdaya di kursi sebelahnya.


"Ma-af ...." Darren meringis pilu dengan tangis yang menderai di wajahnya. Ia semakin merana ketika tangan itu tak meresponsnya, tangan itu seperti layu tak bertenaga, pasrah dan terkulai dalam genggamannya. "Jen ... bangun."


Tindakan demi tindakan di ambil, Darren mulai bisa ditenangkan. Kondisi Jen cukup stabis setelah beberapa saat mendapatkan pertolongan.


Dokter yang memeriksa Jen keluar dengan wajah yang amat lesu dan seperti menyayangkan kedatangan pasien yang diakui sangat terlambat. Darren juga memikirkan hal itu sehingga ia langsung berdiri dengan wajah pasrah.


"Tidak perlu saya katakan, tentu anda sudah tau seberapa parah kondisi istri anda, Tuan," kata dokter itu sambil melepas kacamatanya.


"Sakit apa, dia, Dok?" Ya, ini adalah salahnya yang tidak tegas memaksa Jen berobat. Seharusnya, itu sangat mudah. Jen sangat mudah dibujuk dan ditakut-takuti. Harusnya dia paham hal itu. "apa sudah terlambat?"

__ADS_1


Badai pikirannya begitu besar, ia takut istrinya terkena penyakit parah dan mungkin tidak ada obatnya.


Sang dokter menghela napas. "Sebaiknya kita tunggu dokter yang berwenang untuk mendapatkan diagnosis yang lebih akurat."


"Tapi, Dok ...," sela Darren sedikit memburu, "istri saya tidak pernah mengeluh sakit selama ini? Dia juga tampak sehat-sehat saja."


Dokter yang belum selesai memberikan penjelasan itu lagi-lagi menghela napas. Ia memandangi Darren dengan pandangan tak terbaca. "Sebaiknya menunggu dokter Andina saja. Anda bisa bertanya banyak dan berdiskusi langsung dengannya." Dokter itu menepuk bahu Darren dengan senyum menguatkan.


"Maaf, saya terlambat, Dok ...."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2