Suami Settingan

Suami Settingan
Induk Kambing


__ADS_3

"Gimana kabar ponakan?" Naja langsung menyambar Jen yang baru saja muncul di ambang pintu kamarnya dengan sergapan pertanyaan. Kentara sekali Naja sangat penasaran dengan keadaan Jen dan bayinya. Sejauh ini, dia hanya bisa mengabarkan keadaan Jen melalui suara saja. Ya, tentu saja ini karena Excel yang melarangnya membawa Cio kemana-mana. Naja memiliki kecurigaan pada pikiran suaminya itu. Dasar menyebalkan!


Naja merebahkan Cio di ranjang. Bocah gembul itu biasa tertidur sekitar jam delapan sampai jam sembilan pagi. Di saat itu pula, Naja meregangkan tubuhnya sejenak, menikmati sarapan lanjutan dengan layak.


"Mereka baik ...." Jen masuk dan menutup pintu dengan perlahan. "... ganggu ngga? Kakak udah berangkat, 'kan?" Jen bersuara lirih, takut kalau mengganggu Cio, dan dia akan gagal bercerita dengan Naja. Meski dia ingin sekali menciumi pipi gembul sebulat bola itu hingga habis tak bersisa.


"Kalau dia masih di rumah, mungkin aku abis menang lotre, Jen ... kakakmu itu sibuk sekali akhir-akhir ini. Ya ... aku ngga bisa protes juga, sih, di sini, dia ngga terlalu aku butuhkan soalnya." Naja mengisyaratkan kalau semua kebutuhan dan bantuan selalu ia dapat dari seluruh asisten rumah tangga di sini, pengasuh juga telah disiapkan. Dan jujur saja, Naja sangat sungkan dan ingin segera pindah ke rumah mereka sendiri saja. Cukup Teh Esih saja yang membantunya.


"Cio membuatmu lelah, ya?" Jen duduk di sofa yang memunggungi jendela kaca tinggi dan nyaris menyentuh lantai di bagian bawah. Tirainya tinggi dan berwarna abu-abu, menjuntai kaku di sisi kanan dan kiri jendela. Mata Jen masih mengawasi Naja yang membawa nampan sarapannya mendekatinya. Wanita itu terlihat lelah, sedikit pucat, tetapi senyumnya selalu tersuguh riang.


"Lelah tapi senang ... gimana, ya ... kaya aneh gitu perasaanku setelah ada Cio. Kadang seneng, kadang tiba-tiba pengen nangis karena terharu. Masih ngga percaya, gitu, ada manusia yang pernah hidup di perutku, trus keluar dengan tenagaku, kaya amazing gitu, loh, Jen," papar Naja antusias. "Malem sering begadang, nangis kejer, tapi kakakmu selalu siaga dan dengan senang hati bantu jagain dia." Naja meletakkan nampan di meja kecil yang memisahkan mereka. "sarapan?" tawarnya dengan murah hati pada Jen yang langsung menggeleng.

__ADS_1


"Aku nanti saja ... tadi aku bikin nasi goreng seafood," Jen membenahi posisi duduknya, mengatur bahasanya. "buruan abisin ... tar Cio bangun, kamu ngga bebas makannya."


Naja mengangguk dan mengambil salad sayuran yang porsinya jauh lebih banyak dari ukuran normal, dan Jen bergidik ngeri melihat itu semua.


"Kamu ngga berubah jadi induk kambing, 'kan saat menyusui? Kenapa sayurannya sebanyak itu, sih?" Dia berpikir, ketika melihat Naja lahap menikmati semangkuk sayuran itu saja, perutnya sudah bergolak, apalagi jika harus makan makanan mengerikan itu?


Naja terkekeh dengan mulut penuh. "Mama yang nyuruh aku makan sayur banyak-banyak, lalu daging, telur, dan buah-buahan." Naja susah payah menelan sayuran yang terasa asing baginya, sembari menunjuk apa saja yang ada di nampannya, lalu menyusulinya dengan segelas air putih yang terlihat mengepulkan asap. Hal itu membuat Jen menahan gejolak yang mengaduk perutnya.


Kebiasaan Naja yang lain dari sebelumnya ini membuat Jen bertanya-tanya. Bisakah dia nanti seperti Naja? Menjadi dewasa dan sabar. Jen menelan ludahnya, hatinya berdesir hanya membayangkan dia akan menimang dua bayi, kerepotan, lalu marah-marah, ngomel panjang lebar, lalu kesal sendiri dan menangis. Biasanya dia seperti itu jika kelelahan. Jen melihat Naja terlihat lelah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau tadi mau bicara apa denganku?" Ketika salad, telur, daging, dan semangkuk kecil nasi telah berpindah ke perut Naja, ia seolah baru ingat dengan tujuan Jen kemari. Sedangkan Jen malah lupa tujuaannya apa datang kemari. Menguap begitu Jeje menjitaknya.

__ADS_1


"Nanti saja ... sekarang aku ngantuk, boleh aku ikut tidur dengan Cio?"


"Jangan menghindar kalau ada masalah, katakan saja. Siapa tau aku bisa bantu?"


Jen membeku sejenak, ragu-ragu ia memandang Naja yang antusias menunggu Jen bicara.


"Kamu tahu aku akan tes itu, kan?" Jen menghela napas pasrahnya. Ketakutan dan cemas menghiasi wajah yang melingkup ciut. "Kalau aku pasrah saja, bagaimanapun kondisi anakku nanti bagaimana?"


Naja membasahi bibirnya. "Dokter yang dimiliki rumah sakit kita pasti melakukan yang terbaik buat kamu, Jen ... seharusnya kamu ngga usah takut."


"Tapi, jika gagal sekali ... mereka akan mengulangi tesnya, Na ... aku takut akan mengenai mereka nantinya."

__ADS_1


Naja meraih tangan Jen, ia cukup mengerti kalau Jen sebenarnya takut mengetahui anaknya tertular dan harus diambil tindakan yang cukup ekstrem. "Bukankah lebih baik kamu tau semuanya, dan tahu apa yang terbaik untuk kalian sekarang, daripada nanti malah terjadi hal buruk dan tidak diinginkan?"


__ADS_2