Suami Settingan

Suami Settingan
Singkirkan Tanganmu!


__ADS_3

"Ke rumah dulu, Ren ... ambil baju!" Jen baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang. Ia sibuk memakai sabuk pengaman dan menata rambutnya yang diikat asal. Beberapa helai menyurai di bagian depan wajahnya yang malah menambah kesan cantik dimata Darren.


Bibir Darren menipis secara alami melihat Jen memajukan bibirnya untuk membuang napas. Wanitanya itu terlihat lelah, mungkin setelah berlarian saat menuju mobil atau sibuk seharian mengemasi barang-barang di JC.


Sebenarnya, selain saat bercinta, Darren ingin sekali memberikan ciuman kepada istrinya itu. Saat seperti ini, ia ingin menunjukkan sayangnya kepada Jen tapi, ah ... sudahlah, lupakan saja.


"Sudah makan?" Mengalihkan perhatiannya, Darren segera melajukan mobilnya. Hanya helaan napas yang mampu ia keluarkan sebagai bentuk pelampiasan.


"Belum ...," jawab Jen sambil menggeleng. Setelah minum obat, dia langsung tertidur dan begitu bangun, ia berpikir untuk mengosongkan tempat itu, menjualnya, lalu ia berencana meninggalkan kota ini suatu hari nanti. Ia lelah dan ingin menepi.


"Makan dulu, ya—"


"Ngga laper! Nanti aja di rumah ... mama pasti nungguin kita untuk makan bareng," potong Jen cepat.


Darren kembali menipiskan bibir, "Oke, kalau begitu." Menelan lagi kecewa, berharap akan ada waktu untuk memberikan Jen perhatian setidaknya wanita itu tahu bahwa dia tulus padanya. Menikmati waktu berdua seperti makan misalnya.


Keduanya saling diam dan berpaling, tenggelam dalam pikiran mereka sendiri-sendiri, hingga sampai di rumah Dirgantara, bahkan satu suara tidak mampu keluar dari mulut mereka.


"Aku akan cepat ...," ujar Jen. Ia menatap serius tapi tetap datar ketika melepas sabuk pengamannya. " ... tunggulah di dalam saja!"


Usai berkata begitu, Jen langsung melesat menuju rumah meninggalkan Darren yang mematung di tempatnya.


"Ngga ikut masuk?" Agus membuka pintu mobil dimana Jen baru saja keluar.


Tersentak, ia segera tersenyum dan berkata. "Baru juga mau turun, Mas ...."


"Ayo barengan kalau begitu, Tuan Harris belum lama juga sampainya."


Darren mengangguk lalu dengan patuh ia mengikuti saran Agus. Mereka berbincang hingga sampai di ruang tengah yang ramai.


"Kirain gak ikut ke sini, tadi ... kenapa buru-buru sekali, sih?" Naja tengah menempel pada sisi suaminya yang sedang menimang Cio, ia tersenyum cerah ke arah Darren.


Darren dengan takzim menyalami orang tua Naja, ada Tara, juga Agiel dan Aziel yang membuat suasana di rumah ini selalu meriah.


"Ngga tau, Na ... mungkin kebelet." Ia duduk di sebelah Excel lalu mengadukan telapak tangannya dengan Naja. Sebelah tangannya lagi mengusap kepala Cio.


"Papa dan mama mana?" tanyanya pada Excel.


"Baru saja sampai, paling sebentar lagi turun," jawab Excel tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah anaknya.


"Kenapa gak dibaringkan? Udah pules begitu?" Darren mau tak mau memperhatikan Cio yang tampak tak terganggu.


"Iya, pas dibaringkan langsung melek dan nangis," celetuk Naja.


"Masa, sih?"


"Rasakan sendiri nanti kalau kamu punya anak ...," balas Naja.


"Gimana mau punya anak kalau Jen aja judes kaya gitu? Gak mungkin mau dia disentuh musuhnya," kelakar Excel di sambut tawa lirih Naja.


"Eits ... jangan salah. Meski terlihat judes, sama Darren pasti jinak," ucapnya bangga.

__ADS_1


Excel dan Naja mencibir tak percaya.


"Terserah kalau gak percaya ...," sambung Darren sambil merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. "Jeje katanya mau pulang? Kapan tanggal pastinya?"


"Paling cepat minggu depan ... masih ada urusan katanya," jawab Excel.


Darren hanya mengangguk dan membulatkan bibirnya. "Dia kapan hari bilang kalau mau pulang ... kontraknya udah selesai dan katanya mau berhenti saja."


"Klubnya di sini juga lagi bermasalah keuangannya. Kabarnya bangkrut."


"Penggelapan dana lagi?"


"Iya ... begitulah. Kemarin lalu HW menemui papa dan minta dukungan, tapi ngga tahu gimana akhirnya, papa juga belum mengiyakan. Lagipula, dari dulu management clubnya berantakan. Papa setuju Jeje gabung di sana 'kan hanya nurutin tuh anak, biar ngga ngambek, dan memang hanya untuk menyalurkan hobinya, daripada kelayapan ngga jelas," terang Excel.


Darren mengangguk, ia semakin kagum pada mertuanya tersebut. Meski telah tahu resiko besar yang akan dihadapi anaknya, tetapi ia menerima itu demi senyum di wajah anak-anaknya. Perlu jiwa yang sangat besar untuk menghadapinya.


"Loh ... Darren!" panggilan Kira membuat Darren menoleh dan berdiri. "Kapan datang, Nak ... mana Jen?" Kira celingukan mencari anak perempuannya. Meski bersikap tegas, tapi tak dipungkiri tiap hari dia mencemaskan anak perempuannya. Namun ia menutupi itu.


"Ke kamar, Ma ... kami belum lama datang." Darren menyalami mertuanya.


"Kenapa ngga disusul ke kamar? Kalian ngga nginep di sini?" terka wanita yang masih cantik diusia matangnya. Seraut ekspresi kecewa mencuat, tetapi ia berusaha ikhlas. Bagaimanapun, anaknya telah berkeluarga.


"Eh ...," Darren mengalihkan perhatiannya dari Kira. Ia tak tahu harus berkata apa, sebab ia hanya menuruti maunya Jen. "... tadi pakai mobilnya Papa, takut besok pagi kepakai, Ma."


"Kalau gitu makan malam di sini, ya ... Ranu tadi kebetulan masak gurame. Setau Mama kamu suka gurame," bujuk Kira dengan mengusap bahu Darren.


"Cel, pinjami Darren baju kamu ...!" perintahnya pada Excel, yang langsung diiyakan dengan isyarat tangannya.


"Kalau begitu, aku ke kamar dulu, Ma ...," pamit Darren yang langsung di angguki oleh Kira.


***


Jen mengambil hairdryer, perlengkapan perawatan wajah dan kulitnya, baju tentu saja, kipas mini berbentuk kepala Doraemon, dan piama. Ini harus sebab ia tak ingin menjadi menu penutup untuk Darren.


Suara pintu dibelakangnya membuat kepala Jen menoleh. "Sebentar lagi selesai ...," pikirnya, Darren kemari karena ia terlalu lama berkemas, sehingga ia tak sabar dan menyusulnya. Jen kembali memasukkan barang-barangnya kedalam sebuah tas jinjing yang berukuran sedang secara asal dan memaksa. Ia juga menutup paksa resleting tas itu, meski tiba-tiba macet.


Suara menceklik dari pengait pintupun berbunyi, membuat Jen kembali mengangkat kepalanya. "Mau apa? Gak usah dibantu, aku bisa sendiri."


"Mama meminta kita untuk makan malam di sini, baru boleh pulang." Perkataan Darren membuat Jen menegakkan tubuhnya, ia melepas begitu saja tangannya dari resleting yang macet gara-gara tersumpal salah satu bajunya.


"Maaf, aku gak bisa nolak Mama ...." Darren masih memaku tatapannya pada wajah Jen yang tak bisa diartikan maksudnya. Lantas ia beralih pada tas milik istrinya itu, lalu dengan perlahan ia bisa mengurai masalah pada resleting dan menutupnya dengan sempurna.


Jen mengamati itu semua, "Kalau begitu mandilah ... akan kupinjamkan baju kakak, handuknya di lemari kanan atas."


Jen segera beranjak meninggalkan kamar, tetapi ketika ia telah mencekal handle pintu, Darren melarangnya.


"Ngga usah ...."


Jen menghela napas, "Lalu kamu mau pake baju itu lagi? Bajumu udah dipakai seharian dan kotor, kamu mau gatel-gatel? Mau sakit dengan banyak kuman di bajumu? Disini ada anak kecil, kamu mau buat dia terinfeksi?" Mata itu melesat menghujam Darren penuh kilatan amarah.


"Bukan gitu—"

__ADS_1


"Lalu apa? Mau mesumm kamu?" Jen kali ini membalik badannya sempurna ketika melihat Darren berdiri dan bersiap mendekatinya. "Jangan coba-coba lagi, Darren! Aku peringatkan!"


Jen meliarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari benda yang sekiranya bisa melindungi tubuhnya dari serangan Darren. "Kita udah sepakat, Ren!" Ia menghamburkan langkahnya ke dekat lemari, dimana ia ingat menyimpan penyangga kameranya.


Darren terkekeh, ia berpikir untuk menggoda Jen dengan mendekatinya.


Jen panik, gerakan tangannya serampangan saat mengambil benda yang ia cari, tetapi tak juga ia temui. Selain karena takut, matanya sibuk mengawasi gerakan Darren, sehingga benda hitam yang semestinya mudah ia raih, menjadi sangat sulit dan jauh.


Tatapan Darren yang mengerikan, mengamati Jen dengan lapar, ia segera meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Jen dengan gerakan menghentak.


Jen terkejut, dan menekankan tubuhnya rapat ke pintu lemari, ia memejamkan mata dan berpaling.


"Siapa yang mesumm? Otakmu?" Darren mendekatkan ujung hidungnya pada sisi kepala Jen. "Aku masih punya baju di sini, jadi ngga usah di pinjamkan ke kak Excel."


Mata Jen melebar sempurna, ia segera menoleh dan mengakibatkan ujung hidung dan bibirnya menempel pada pipi Darren. Sekilas, aroma tubuh Darren menggelenyarkan segaris rasa pada tubuh wanita itu. Jen memekik dan menjauhan kepalanya, tetapi malah membentur lemari.


Ah, sial! Sakit!


Jen menggigit bibirnya, ekspresinya meringis menahan campuran rasa malu dan denyutan di bagian belakang kepalanya.


"Makasih, Sayang ... ini berarti sekali. Padahal aku takut mau mencium kamu, tapi kamu malah menciumku terlebih dahulu." Darren semakin membuat-buat ekspresinya, ia tampak berpuas diri dan mengejek, sementara hatinya melonjak. Meski tidak di sengaja, sapuan hangat itu cukup lama menghinggapi pipinya.


"Apaan, sih? Pergi, nggak? Atau mau kutendang itumu?" Jen menyalak dengan galak setelah mendapatkan lagi nyalinya.


"Kamu yang pergi ...." Darren menggerakkan bola matanya dari Jen ke pintu lemari di belakang Jen. "Aku mau ambil handuk!"


Duh Gusti!


Jen hanya bisa mengumpat dalam hati. "Apa yang kamu pikirkan, sih, Jen ... sikapmu ini benar-benar memalukan!"


"Singkirkan tanganmu! Kalau tidak bagaimana aku bisa pergi!" ketusnya.


Darren mengangkat kedua tangannya yang memang sejak tadi sudah tidak mengungkung Jen. "Apa aku perlu membuangnya ke Antartika?" Nada mengejek terdengar dari bibir pria itu.


Oh, Shiit!


Wajah Jen merah padam menahan malu, lalu ia mendorong tubuh Darren menjauh. Ia sendiri dengan langkah yang dipaksakan cepat dan menghentak melangkah ke pintu. Tangannya dengan kasar membuka pintu, batinnya terus menggerutu.


Sungguh hari yang sangat sial!


.


.


.


.


.


Mon maap, baru bisa up🙏

__ADS_1


Banyak tintah dari othor kelas ekonomi😁


__ADS_2