
Sekalipun hany tidur dua jam, Darren tetap bangun lebih awal dan membantu Jen bersiap pagi ini. Seperti yang diketahui olehnya, Jen kini telah kembali mengoperasikan lagi kantor brand fashion miliknya, berbagi tempat—sementara, dengan usaha sang Mama seperti
kemauan Jen sebab ia juga tak tega terus-terusan menolak permintaan istrinya yang malah berakhir dengan perdebatan yang tak pernah dimenangkan olehnya. Kemajuan terjadi dalam hubungan mereka seminggu ke belakang, mereka berdua lebih banyak bicara meski Jen terkadang masih bersikap sangat
menjengkelkan. Tapi bagaimanapun, Darren menyukai semua keterbukaan dan
kedekatan ini, mereka sering tertawa dan bercanda, tidak lagi kaku dan canggung.
Pagi ini, Darren mengantarkan Jen ke JC yang digabung dengan florist milik mamanya, Jen yang
mengatur segalanya, jadi sekarang tempat itu lebih sering dipenuhi aroma wangi
bunga yang menenangkan. Mamanya juga tak lagi sibuk kesana kemari untuk mencari
bunga sebab Darren telah mencari suplier yang mau memasok bunga di toko bunga
milik mamanya. Darren telah membeli beberapa lahan yang dikhususkan menjadi
lahan untuk menanam bunga dan Darren tentu tak kesulitan melobi petani bunga
yang kurang akses pemasarannya, nyaris gulung tikar, atau kekurangan modal,
Darren dibantu Bisma menghandle semuanya. Ya, ia memanfaatkan usaha mamanya
yang sedang bagus untuk menjadi pasar sementara sembari melebarkan sayap
mencari pelanggan lain. Belajar dari pengalaman selama mengantar mamanya
berpetualang mencari bunga, Darren akhirnya menemukan celah lebar untuk
menyintas dan memangkas kekurangan usaha di dunia jual beli bunga.
Darren baru saja akan berangkat ke tempat kerjanya ketika laju mobilnya di hadang Dinka.
“minggir! Ngapain berhenti di situ?” Darren mengeluarkan kepalanya dari balik
stir kemudi keluar jendela kaca yang belum sempat ia naikkan usai ia gunakan
untuk melambaikan tangan untuk Jen barusan. Apaan, sih, anak itu?
Dinka berjalan setengah berlari menuju sebelah kakaknya. “Kak ... bisa bantuin aku ngga?”
pintanya tanpa basa-basi. Lalu ketika Darren hanya meliriknya dengan malas, ia
baru sadar kalau ada yang kurang dari ritual pertemuan mereka. “Assalamualaikum
....”
Dinka menyengirkan senyumnya dan mengeluh dalam hati, kenapa dia sampai lupa pada hal
itu, sih? Tangan Dinka terulur untuk mencium tangan kakaknya. “Kak, tolongin aku
__ADS_1
jagain Myung, ya ...,” katanya setelah Darren menjawab salamnya dan mulai
bersikap biasa lagi.
Darren berjengit mundur, “Kenapa harus kakak? Kakak lagi sibuk dan gak ada waktu buat ngurusin
kucing nakalmu itu,” ujarnya dengan nada yang sangat terganggu. Dinka dan orang
tua mereka akan bertolak ke rumah Kirey yang menikah lusa, sementara Darren,
akan datang setelah urusan Jen dan urusannya selesai. Ia cukup sibuk dengan Adi
dan Kenang, lalu sidang Jen hari ini, juga Jeje yang akan datang sebelum sidang
Jen berlangsung. Beruntung, semua bisa diatur dengan baik, hanya Jeje yang
tidak mau kalau orang tuanya mengetahui kedatangannya. Semacam surprise, begitu
kata Jeje.
“Ya, siapa lagi? Masa mau dititipkan di penitipan kucing, sementara wali Myung yang lain ada.”
Dinka memberengut dan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri, berniat merayu.
Namun tampaknya, Darren tidak terpengaruh.
“Kakak bukan wali dari seekor kucing, Din, kamu ini ada-ada aja, sih, sampai sebegitunya
kucing kamu mati kalau ditanganku, kamu pahamkan kesibukan calon milyader satu
ini?”
Dinka menghela napas, “Kak ... aku mesti, minta tolong sama siapa?” gumamnya putus asa. Ia
merotasikan pandangannya ke seluruh atmosfer tempat ini yang terselubung
mendung. Sebentar lagi pasti hujan akan turun.
“Pikir sendiri ya, kakak buru-buru.” Darren menyalakan lagi mobilnya, bersiap meninggalkan
tempat ini. Namun Dinka buru-buru mencekal pintu mobil dengan kedua tangannya.
“Kakak ... tolonglah!” suara Dinka membuat Darren kembali mematikan mesin mobilnya.
Tatapan menghiba Dinka membuat Darren menghela napas dalam.
“Kakak mesti gimana, Din? Kamu tau sendiri ‘kan kalau kakak ngga punya banyak waktu ngurusin
begituan.”
“Aku taruh Myung di rumah kakak aja, ‘kan ada istri kakak yang bakal ngurusin, nanti ....” Dinka
__ADS_1
mengedipkan mata yang sudah berguncang dan melebar pupilnya itu dua kali, “ya
... plis,” pintanya.
Darren menghela napas lagi, permintaan yang tidak berat memang, tetapi melihat sikap Dinka pada
Jen membuatnya berpikir lagi untuk meluluskan niatan Dinka tersebut. Namun,
seakan ada bola pijar menyala di otaknya, Darren menerbitkan senyum.
“Kamu bilang sendiri saja sama Kak Jen, ya ... aku gak bisa mutusin sendiri soalnya. Udah
ya, kakak bener-bener keburu-buru sekarang. Temui kakakmu di dalam ...,” kata
Darren cepat dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat ini, bahkan
Dinka tidak sempat mengeluarkan perkataan dari bibirnya yang terbuka.
Dinka menghentakkan kakinya dengan keras, “ih, kakak kenapa gak mau bantuin aku,
sih?” katanya menahan geram, ia melirikkan bola matanya ke arah ruangan Jen yang berada di
lantai dua, “masa aku harus minta tolong dia?”
Dinka menggigiti bibirnya dengan perasaan dilema yang dalam. Tidak mungkin 'kan menitipkan
kucingnya di rumah penitipan hewan? Bagaimanapun, uang jadi bahan pertimbangannya,
mengingat mamanya masih saja tetap perhitungan meski usahanya sedang baik, dan
papanya juga memiliki jabatan yang cukup tinggi sekarang, tapi itu tidak membuat papanya menjadi royal. Belum lagi syarat-syarat penitipan kucing yang agak ribet seperti vaksinasi kucing yang
tidak pernah dilakukannya, dan juga Myung tidak pernah dititipkan sebelumnya kecuali pada
Ranu. Dititipkan ke tetangga? Gusti, Myung ini biang rusuh di lingkungan rumah
Dinka, suka sekali mengajak duel kucing tetangga dan tidak mudah akrab sama
orang.
“Myung, aku harus gimana?” seakan baru sadar kalau Myung kini sedikit merepotkannya, “masa
iya kamu akan kubawa ke rumah Kirey, yang ada nanti Kirey gak jadi nikah, sibuk
bersin-bersin kalau deketan sama kucing,” keluhnya penuh dilema.
.
.
.
__ADS_1
.