
Darren bertaruh dua hal, Jen akan memarahinya atau akan mendiamkannya jika sampai dia berkata buruk soal keadaan anak mereka. Dua-duanya mengerikan, tetapi ketika sudah beberapa hari berlalu dan dia tidak berhasil memberitahukan kepada Jen tentang keadaannya, Darren sedikit frustrasi. Bingung macam mobil balap oleng. Hilir mudik di depan kamar mandi seperti setrika rusak.
"Kenapa?"
Darren menoleh, Jen baru saja dari kamar mandi dan membutuhkan bantuan untuk kembali.
"Apa ada masalah?" Darren menghela tubuh Jen dalam gendongannya, alih-alih membopong. Sejak siang tadi Jen sering ke kamar mandi dan badannya sedikit demam.
Tangan Jen langsung melingkar di leher Darren, sebab ia terlalu lelah berjalan dari kamar mandi ke ranjang lagi. "Mungkin ketubannya sudah pecah—au, pelan-pelan!"
Darren terkejut mendengar perkataan Jen hingga dia terjungkal ke atas kasur. Yah, bukan hanya karena terkejut saja, tapi tubuh Jen sangat berat sampai dia tidak mampu menguasai dan jatuh.
"Kita ke rumah sakit, Sayang ...." Darren mengabaikan Jen, minta maaf pun tidak. Dia langsung mengambil perlengkapan dan berteriak memanggil Mbak Ranti.
"Tenang, Ren ... tenang—"
"Apa ada yang sakit? Punggung? Perut? Apa karena jatuh tadi? Apa sudah waktunya melahirkan?" Darren jumpalitan tak karuan. Kesana kemari dan bingung sendiri, membuat Jen pusing.
Jen menggeleng dengan helaan napas yang berat. "Enggak ada yang sakit, kok, kamu yang tenang ... telpon rumah sakit saja dulu. Kabari mama, baru kita ke rumah sakit. Ayo, tarik napas, hembuskan, tarik lagi, tahan ... dan lepaskan."
Darren berhenti setelah berhasil mengeluarkan satu tas besar berisi perlengkapan bayi. Ia menoleh dengan wajah tak senang. Ini bukan simulasi atau sesuatu yang bisa dijadikan bahan candaan. Heran sekali Darren sama Jen ini, mau melahirkan kok cengengesan.
"Hehe ... sorry! Aku cuma ngga mau kalian pada panik." Jen meringis, sekalian menahan perih.
"Tapi kata Dokter Luna jangan sampai ketubannya pecah, Sayang ... bayinya bisa dalam bahaya."
"Enggak, mereka baik kok, masih gerak aktif kaya biasa, ketubannya baru merembes aja, juga baru aja kayaknya, tadi belum." Jen menurunkan kakinya. "Udah ... hubungi rumah sakit dulu aja, biar Dokter Luna tau. Biar aku hubungi mama."
Jen sebenarnya merasakan kontraksi sejak siang, tetapi baru beberapa saat lalu mulai kerap datang, sekarang malah tidak merasakan apa-apa selain merasakan pinggulnya tertekan dan nyeri. Jujur saja dia takut, tetapi mengatakan ketakutannya juga tidak akan membuat semuanya lebih baik. Jen hanya menguatkan hati saja pada kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya.
Sementara Darren menghubungi rumah sakit dengan begitu panik, Jen dengan tenang menghubungi Kira dan Desy bergantian. Mereka berdua tetaplah harus mendapatkan kabar yang pertama, setelahnya ada seseorang yang sedang dalam nada tunggu panggilan. Jen rasa dia juga perlu tahu.
"Halo, Papa ...."
"Sayang ... apa sudah waktunya cucu papa lahir?"
Jen tersenyum meski sang papa tak akan tahu senyumnya ini. "Iya, Pa ... doakan kami baik-baik saja, ya, Pa ... doakan cucu Papa sehat semua." Jen mengusap air mata yang perlahan turun. "Papa di rumah saja, tidak udah datang ke rumah sakit ... ini sudah malam."
"Doa Papa selalu bersamamu, Nak ... kembalilah ke Papa dan bawa cucu Papa bersamamu. Anak Papa pasti bisa dan selalu kuat."
__ADS_1
Jen tertawa di sela tangis haru yang menyelinap di hatinya, "Anaknya siapa dulu, dong ... udah dulu, ya, Pa ... ini Darren sudah nyiapin mobil."
"Ya, ya ... cepatlah, Nak ... dan tetap berhati-hati, ya ... bilang sama Darren jangan ngebut."
"Ya, Pa ... Jen sayang Papa."
"Papa juga sayang sama kamu, Jen ...."
Jen menghela napas penuh kelegaan. Bersyukur pada akhirnya dia bisa berdamai dan tetap menyayangi papanya tanpa ada ganjalan lagi. Satu hal yang dulu sangat sulit dilakukan Jen, meski mamanya kerap membawanya bertemu dengan Rian tetapi Jen sama sekali tidak mengacuhkan papanya, apalagi Sia. Jen sangat iri dan tidak suka saat melihat Sia digendong dan diikat rambutnya oleh Rian.
"Ayo, Sayang!" Darren muncul bersama dengan Mbak Ranti yang langsung mengambil perlengkapan persalinan.
Jen tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Darren dengan riak wajah yang dibuat semanja dan seimut mungkin. "Gendong ...!"
Tanpa diminta sekalipun, Darren juga akan menggendong Jen sampai ke mobil. Kesempatan terakhirnya menggendong tiga nyawa dalam dekapannya. Besok-besok tidak lagi bisa.
"Makasih, Abang ...!" Jen merebah dengan manja dan melingkarkan tangan dengan erat agar Darren tidak terlalu kesusahan membawanya yang cukup berat.
"Bajumu basah, Yang ... ngga ganti dulu?"
"Enggak ... ini aja." Jen meringis, tetapi ia sembunyikan dengan baik di dada Darren. Rembesan ketuban semakin banyak rupanya.
Darren melaju dengan kecepatan penuh sehingga sampai di rumah sakit dalam waktu singkat.
"Jen demam, Dok ... ketubannya sudah pecah," kata Darren panik.
"Kita bawa masuk dulu dan diperiksa secara menyeluruh." Raut wajah Luna memutih, seolah aliran darah terserap dari sana. Ia tahu Jen menahan-nahan rasa sakit yang menyerangnya.
"Tolong siapkan ruang operasi, kurasa Jen hanya dehidrasi saja ... bukan sesuatu yang serius," perintahnya pada perawat yang langsung berlari menuju ruang operasi.
"Sayang ... kamu yang kuat, ya ... ngga apa-apa, kok ... sebentar lagi, cucu-cucu mama akan lahir. Kamu yang tenang, kuat, dan terus berdoa." Kira menggenggam tangan Jen yang dingin dan berkeringat. Dia tahu kalau Jen merasakan sakit akibat kontraksi, sehingga ia mendekat dan menenangkan anaknya tersebut.
"Ma ... maafin Jen kalau selama ini Jen nakal dan suka membantah Mama—"
"Sudah, jangan bicara lagi. Siapkan tenaga kamu untuk mengeluarkan cucu mama. Mengerti." Kira mengusap kening Jen dan terus berjalan mengikuti ranjang itu sampai ke ruang pemeriksaan.
"Luna ... aku titip anakku, ya ... lakukan yang terbaik," kata Kira saat mereka harus berpisah. Hanya Darren saja yang boleh masuk sementara yang lain menunggu di luar.
Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebisa mungkin dia akan melakukan yang terbaik untuk Jen juga ibu-ibu yang lainnya. Hanya terkadang, Luna menjadi orang yang tidak berguna sebab tangan takdir yang tak kasat mata melampaui dan menggagalkan usaha yang telah dijanjikannya.
__ADS_1
"Kita redakan dulu demamnya, dan karena sejak awal kita sudah sepakat untuk caesar, maka tindakan itu juga yang akan kita ambil. Apalagi ketuban sudah pecah, jadi setelah demam reda, kita langsung dilakukan operasi." Luna berkata entah kepada siapa, dia sejak tadi sibuk memeriksa kondisi Jen. Yang pasti beberapa orang perawat langsung melakukan tindakan yang diperlukan. Ada yang memeriksa detak jantung janin, memeriksa tekanan darah, dan ada yang memasangkan infus di tangan Jen.
"Dokter, apa tidak bisa lahir sekarang? Perutku rasanya mau pecah ...." Jen meringis, dia benar-benar merasakan pinggulnya panas dan seakan mau meledak.
Luna menahan napasnya, "Jen, kau melahirkan kembar, dan akan sangat rawan jika—"
"Tapi ini sudah ngga tahan lagi, Dok ... uuh!"
"Ini gimana, Dok ...?" Darren sejak tadi merasakan tangannya remuk karena Jen terus saja meremasnya. Dia memandang Dokter Luna dengan panik, dan beralih ke arah Jen yang menggeram, menahan kontraksi. "Sayang ... tahan ya, sebentar lagi kamu akan di operasi."
"Gak usah, Ren ... di sini saja, itu udah mau keluar rasanya."
Luna akhirnya memutuskan untuk melakukan persiapan persalinan normal, setelah melakukan VT. Yang membuat Luna heran adalah Jen sudah masuk pembukaan 8.
"Sejak kapan sakitnya, Jen?" tanya Luna.
"Siang tadi udah sakit, Dok ... tapi baru terasa dan sering ya, sebelum ke sini tadi." Jen melenguh lagi, mengeratkan tangan Darren ke dekat mulutnya, menggigiti ruas jemari Darren yang tampaknya tidak peduli sama sekali.
"Atur napas kamu, ya, Jen ... akan kupandu, ya ... tolong jangan sampai mengangkat pinggulmu, ya ...!" Luna sedikit cemas, karena Jen tidak ada persiapan melahirkan normal sebelumnya.
Tanpa sepengetahuan semuanya, Jen telah mengikuti kelas yoga. Selain untuk meredakan stres memikirkan bayinya, Jen juga berniat melahirkan normal. Sengaja tidak mengatakan hal ini pada siapapun, karena dia tidak ingin membuat runyam keadaan.
"Sayang ... kita operasi saja, ya ... kamu kesakitan begitu. Nanti kamu lelah ... jangan memaksakan dirimu ...," kata Darren. Dia meringis ngilu melihat wajah Jen yang berubah-ubah. Keringat juga mulai membanjir di keningnya.
"Aku juga maunya gitu, Ren ... tapi anak kamu udah mau keluar. Udah jangan bicara lagi, ini dia udah dusel-dusel dibawah sana," kata Jen kesal. Rasa perih dan panas sudah menjalari pinggul dan seluruh bagian bawah tubuhnya, bahkan dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain sakit.
Tubuh Darren lemas seketika, bahkan setelah itu, Jen langsung mengejan dengan begitu hebatnya. Berteriak dan memelintir tangan Darren, hingga jeritan bayi terdengar sangat keras.
"Minum dulu, Jen ... hela napas banyak-banyak!" perintah Luna di sela perintahnya pada perawat untuk meletakkan si bayi pada pelukan Jen. Luna bahkan belum sempat memakai pakaian pelindungnya dengan benar, jika dilihat dengan seksama. Agak kacau dokter cantik itu kali ini.
"Enggak, Dok ... ini udah gak tahan lagi. Egh ...!" Jen berteriak, dan memelintir tangan Darren sekali lagi.
Astaga, apa dia pinjam kekuatan Hulk? Tanganku rasanya mau lepas!
Seorang perawat masuk dengan cepat dan terengah, "Dok, ruang operasi su ... dah ... siap." Perawat wanita itu hanya bisa menganga melihat bayi merah di tangan Dokter Luna.
.
.
__ADS_1
.
.