Suami Settingan

Suami Settingan
See Ya! Kamu ...!


__ADS_3

Entah sejak kapan Dinka tidak menyadari kalau tingkah Ranu sedikit berbeda. Lebih banyak menghindar dan diam. Namun hari ini, Dinka bertekat untuk menolak segala rupa penolakan Ranu padanya. Ia akan mengekori Ranu kemanapun Ranu pergi.


Dan ketika jam istirahat menjeda kegiatan perkuliahan mereka terjadi, Dinka menghadang gerakan Ranu yang duduk berjauhan darinya.


"Apa salahku sama kamu?" Dinka menubrukkan tangannya pada buku yang hendak di bawa dalam dekapan sahabatnya itu hingga buku tebal bersampul coklat tua tersebut rebah dengan suara bedebum keras.


Ranu menghela napas, ia berpaling ketika wajah Dinka lebih dekat menuntut jawab. "kamu gak salah kok, aku lagi banyak tugas."


Kilahan Ranu tak menyurutkan rasa ingin tahu dan memuaskan rasa penasaran dalam diri Dinka. "kamu tuh, gak pernah bisa boong sama aku, Ran? Apa ini karena kakak lagi?"


Tebakan yang selalu pas, hingga Ranu hanya bisa mendudukkan kembali tubuhnya di kursi dan membuang napasnya kasar. "Aku hanya sedang berdamai dengan keadaan, Din—"


"Dengan mengabaikanku?" Dinka memotong dengan bibir menukik ke atas. "Kita baru kenal sehari, ya? Atau aku terlihat mendukung hubungan kakakmu dengan kakakku? Kan aku udah pernah minta sama kamu agar mengatakan semuanya sebelum pernikahan terjadi, Ran! Kenapa—yang terjadi saat ini, seolah aku gak pernah urun bicara atas masalahmu ini?"


Kenapa ini jadi salahku juga? Gak tau apa kalau aku harus nahan rasa gak enak ati terus-terusan judesin Jen?


Manik mata Dinka masih naik turun dengan cepat mengawasi ekspresi yang memenuhi wajah sahabatnya itu. Ya, meski Ranu tidak pernah minta tapi Dinka adalah teman yang mementingkan solidaritas pertemanan. Mereka adalah satu kesatuan, satu sakit, yang lain ikut merasakan. Sekental itu persahabatan mereka.


Ranu memberanikan diri membalas tatapan Dinka, meski mendung tampak jelas menggelayut di matanya. "Itu sebabnya aku akan mengubur semua perasaanku ke kak Darren, Din ... aku ingin berdamai dengan keadaan, aku ingin baikan lagi sama kak Jen. Aku ingin semua kembali seperti dulu, tapi ...." Ranu menarik napasnya dalam-dalam. Sendu masih tak mau berkurang meski dadanya sudah meledakkan sesaknya. "... kau tau itu sulit."


Pecah sudah kantung air mata yang sudah ia tambal sulam dari hari ke hari, dia sudah berusaha melupakan semua, mencoba mengatakan bahwa ia mampu melepaskan semua perasaannya pada pria yang telah ia sukai sejak kecil, tapi nyatanya ... semua itu sulit, sangat sulit.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha, Din ... aku sudah mencobanya!" seru Ranu diantara sesak tangis dan napasnya, "aku tau, kak Jen juga sedang mempertahankan rumah tangganya, kebahagiaannya, tapi aku juga kacau karenanya. Apa aku tidak boleh terluka? Aku hanya terluka, Din, bukan tidak menyukai hubungan mereka."


Isak dan suara Ranu menggema di penjuru ruangan kelas yang masih ada satu dua orang di dalamnya. Dinka menoleh ke arah dua orang mahasiswa yang ia kenal sebagai Oze dan Mahesa. Bibirnya mengisyaratkan agar dua manusia yang tampak mencuri dengar itu segera pergi. Tatapan mengancam dari Dinka juga menegaskan permintaannya. 'Pergi gak?' begitu kecamnya tanpa suara, yang langsung membuat dua pria itu bergerak malas untuk meninggalkan mereka. Tak peduli jika dua manusia menyebalkan itu menggerutukan umpatan.


Ranu menyeka air matanya usai meletakkan kacamata lebarnya. "Aku sedang dalam usahaku mencoba menerima semuanya."


Ranu sejenak memandang Dinka yang tak bisa berkata-kata dengan pandangan yang buram akibat embun air matanya. "Apa yang harus kamu lakukan jika jadi aku?"


Dinka meringis tanpa sebab. Amit-amit, Ran ... jan sampe! batin Dinka. Tentu ia sudah mengakhiri hidup jika jadi Ranu. Ya! Seberat itu juga beban yang dirasakan Ranu.


"Aku coba mengerti, Ran ... tapi jangan mengabaikan aku, dong! Kaya aku ini ikut andil dalam luka yang kamu alami," ucapnya lirih dan sedikit dibarengi tawa. Tentu Dinka sama sekali tidak mengerti, dia hanya berusaha bersimpati.


Dinka hanya tahu, melupakan ya menghibur diri. Kalau sedih ya, puaskan tangismu pada hal yang layak. Nonton drama pastinya. "Biar lega, kita nonton drakor yang sedih aja, Ran ... biasanya ampuh."


"Ya ...." Dinka menggelengkan kepalanya dengan rasa yang tak lagi heran akan nasehat mama dari kawan karibnya tersebut. Dulu Dinka berpikir, Tante Kira itu memiliki dendam pada Om Harris melihat bagaimana menggebunya wanita berumur itu ketika memberikan kuliah tentang bangkit usai di sakiti laki-laki, tapi setelah mendengar cerita mamanya, Dinka tau, Tante Kira adalah wonder women, yang tetap kuat di tengah penghianatan suaminya. Ya, Dinka adalah fans pertama setelah suami dan anak-anaknya Tante Kira pastinya.


"Kalau soal itu, kamu emang kudu dengerin mama kamu, Ran ... jadi disakiti itu dijadikan motivasi, jangan lemah hanya karena pria yang menyakiti kamu," sambungnya mengutip dari pidato Tante Kira yang pernah didengarnya suatu hari akibat mendengar curhatan mereka soal disakiti pria.


"Meski kamu juga gak boleh dendam sama kakakku ...," imbuhnya sambil meringis.


Ranu hanya bisa menghela napas yang sangat panjang dan dalam sampai-sampai bahunya ikut terangkat. "Aku mau kuliah di luar negeri, Din ... aku sudah bilang sama papa! Aku akan ikut tante Nina dan om Rio di—"

__ADS_1


"What?" Dinka kehilangan napas sejenak. Ia mengerjap dua kali untuk memastikan ucapan Ranu bukan selentingan lalu atau bercandaan yang kelewat tidak lucu. "kau ... mau apa?"


"Ya ... ini lebih baik buat kami—mereka bertiga!" Tekat Ranu yang semula mengambang, kini seolah membulat ketika mengutarakannya pada Dinka. Ia sudah pasti akan langkahnya tersebut detik ini. Menghindar barang lima sampai enam tahun rasanya lebih dari cukup selagi pendidikan yang ingin ia capai sedang berjalan. Sambil melupakan, juga melampiaskan, kadang sakit hati juga tidak buruk jika kita bisa menyikapi.


Apa harus sampai ke luar negeri juga?


Dinka benar-benar akan kehilangan sahabat, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sahabat adalah menyokong apa saja yang terbaik bagi kawan mereka. Dia tidak boleh egois pada Ranu, sejujurnya, Dinka tidak tahu sedalam apa luka yang tergores dihati sahabatnya tersebut.


"Aku hanya bisa doain yang terbaik buat kamu, Ran ... walaupun aku akan sangat kehilangan dan kesepian tanpa kamu. Tapi ...."


Dinka beralih ke sisi Ranu dan memeluknya. "... aku berharap sahabatku ini bisa move on dari kak Darren, ceria lagi, dan rame lagi."


Ranu membalas pelukan sahabatnya dengan senyuman yang semakin menguatkan niatnya. "Aku akan merindukanmu, Din ... mungkin aku akan berangkat nanti malam."


Dinka melepas pelukannya dengan cepat. Dia menatap sahabatnya dengan tidak percaya. "Ka-kamu bilang apa?"


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2